Dampak Kabut Asap Karhutla, Kasus ISPA di Berau Melesat Naik Peringkat Kedua

Nurismi • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 17:05 WIB
TINJAU PELAYANAN: Wakil Bupati Berau, Gamalis, saat meninjau pelayanan di PKM di tengah meningkatnya kasus ISPA akibat paparan asap karhutla, Kamis (3/9). (MARNI/BP)
TINJAU PELAYANAN: Wakil Bupati Berau, Gamalis, saat meninjau pelayanan di PKM di tengah meningkatnya kasus ISPA akibat paparan asap karhutla, Kamis (3/9). (MARNI/BP)

BERAU POST– Dampak Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) mulai terasa terhadap kesehatan masyarakat di Berau. Salah satu yang paling terlihat adalah meningkatnya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan.

Wakil Bupati Berau, Gamalis, pun turun langsung meninjau kondisi tersebut dengan mengunjungi Puskesmas (PKM) Tanjung Redeb, PKM Kampung Bugis, Kamis (3/9).

Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat secara langsung dampak asap karhutla terhadap pelayanan kesehatan, juga kesiapan fasilitas kesehatan dalam menghadapi peningkatan jumlah pasien.

Dijelaskan, ISPA menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian serius di tengah kondisi kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah Berau.

Berdasarkan pemantauan Dinas Kesehatan, posisi ISPA yang sebelumnya berada di peringkat 8 hingga 9 penyakit terbanyak, kini naik menjadi peringkat kedua setelah hipertensi.

“Perkembangannya sudah tiga kali lipat. Dari bulan Juni, Juli, Agustus sampai awal September ini terlihat peningkatannya,” kata Gamalis.

Kondisi tersebut tentunya tidak dapat dilepaskan dari asap yang ditimbulkan oleh karhutla. Partikel yang terkandung dalam asap berpotensi masuk ke saluran pernapasan dan menimbulkan gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok masyarakat yang rentan.

Kekhawatiran itu semakin kuat setelah dilakukan pengukuran kualitas udara di dalam ruangan. Adapun kadar partikulat PM2.5 di dalam ruangan telah berada di atas ambang rata-rata, bahkan hampir mencapai tiga kali lipat.

PM2.5 sendiri merupakan partikel berukuran sangat kecil yang dapat melewati penyaringan alami di hidung dan masuk jauh ke dalam paru-paru.

Sementara PM10 berukuran lebih besar, sehingga sebagian masih dapat tersaring oleh hidung, meski tetap berpotensi masuk ke saluran pernapasan.

“PM2.5 itu partikel yang tidak bisa disaring oleh bulu hidung. Partikel itu bisa langsung masuk ke paru-paru. Karena itu kondisi seperti ini harus segera kita atasi dan jangan sampai menimbulkan efek negatif yang lebih besar,” jelasnya.

Dalam kunjungannya, Wabup pun menemukan adanya pasien yang diduga mengalami ISPA akibat paparan asap karhutla saat berada di PKM Kampung Bugis. Artinya dampak kabut asap sudah mulai masuk ke sektor pelayanan kesehatan.
“Masyarakat tetap harus waspada. Jangan lupakan masker dan aktivitas di luar rumah sedikit dikurangi untuk menghindari dampak asap karhutla,” tegasnya.

Sementara itu, Dokter Umum di PKM Tanjung Redeb, Nina Damayanti, mengatakan, peningkatan jumlah pasien dengan keluhan ISPA cukup signifikan. Saat ini, jumlah kasus yang ditangani telah mencapai sekitar 300 pasien.

Angka tersebut meningkat dibandingkan Juli yang berada di kisaran 190 pasien. Dengan tren tersebut, harus dilakukan upaya pencegahan untuk menekan penambahan kasus.

“Masyarakat sebisa mungkin mengurangi aktivitas di luar rumah selama kualitas udara masih buruk. Penggunaan masker juga bisa mengurangi paparan asap,” terangnya.

Perhatian lebih juga katanya perlu diberikan kepada kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki riwayat ISPA, asma, maupun alergi. Di PKM Tanjung Redeb sendiri, mayoritas pasien ISPA yang datang merupakan anak-anak.

“Sebisa mungkin membatasi kegiatan di luar. Jangan lupa menggunakan masker,” katanya. (aja/sam)

Editor : Nurismi
kabut asap ispa pemkab berau