Kondisi Disayat dan Telur Diambil, Seekor Penyu Ditemukan Mati di Balikukup Berau

Nurismi • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 16:50 WIB
HEWAN DILINGDUNGI: Seekor penyu ditemukan mati, diduga ulah oknum yang tidak bertangungjawab. (POKMASWAS UNTUK BERAU POST)
HEWAN DILINGDUNGI: Seekor penyu ditemukan mati, diduga ulah oknum yang tidak bertangungjawab. (POKMASWAS UNTUK BERAU POST)

BERAU POST  – Aksi keji terhadap satwa dilindungi kembali terjadi di Kabupaten Berau. Seekor penyu berukuran besar ditemukan mati mengenaskan di kawasan pesisir Balikukup, setelah diduga dibantai oleh orang tak bertanggung jawab.

Tubuh penyu nampak disayat hingga terbuka, sementara seluruh telurnya diambil, menyisakan bangkai yang tergeletak di bibir pantai.

Peristiwa memilukan itu pertama kali ditemukan sekitar pukul 06.00 Wita, Minggu (2/8), oleh Sekretaris Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Lestari Balikukup, Suriyadi, saat melakukan pemantauan rutin di kawasan pantai bersama anaknya.

Suriyadi mengungkapkan, awalnya ia melihat jejak penyu yang baru naik ke daratan diduga untuk bertelur. Tidak lama kemudian, warga setempat memanggilnya dan mengabarkan adanya seekor penyu yang ditemukan dalam kondisi telah mati.

"Saya langsung menuju lokasi. Setelah dicek, ternyata benar ada seekor penyu berukuran besar yang sudah mati. Kondisinya sangat memprihatinkan karena tubuhnya telah disayat atau dibelek, sementara telurnya sudah diambil," ujarnya kepada awak media saat dikonfirmasi kemarin.

Temuan tersebut kemudian segera dilaporkan kepada anggota Pokmaswas lainnya untuk dilakukan pengecekan bersama. Dari hasil pemeriksaan di lapangan, dipastikan bahwa penyu tersebut menjadi korban perburuan liar.

Berdasarkan jejak dan kondisi lokasi, Suriyadi memperkirakan penyu itu naik ke pantai sekitar pukul 02.00 Wita, saat air laut sedang pasang untuk bertelur. Sementara aksi pembantaian diduga terjadi sekitar pukul 04.00 Wita.

"Perkiraan kami penyu naik sekitar pukul dua dini hari. Bekas darah di lokasi masih terlihat segar saat kami menemukannya, sehingga diduga baru beberapa jam sebelumnya dibunuh," jelasnya.

Seluruh telur yang ada di dalam tubuh penyu telah raib dibawa pelaku. Setelah menemukan kejadian tersebut, Pokmaswas langsung berkoordinasi dengan pihak konservasi, guna menentukan langkah penanganan dan upaya pengungkapan kasus.

“Kita masih menunggu langkah-langkah apa yang akan diambil dengan melakukan koordinasi bersama pihak konservasi,” tutupnya.

Secara terpisah, Fasilitator Lapangan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), Natan Yohanes, menyampaikan keprihatinannya atas kembali terjadinya pembunuhan terhadap penyu yang merupakan satwa dilindungi.

Menurutnya, kejadian tersebut merupakan 'pukulan' bagi upaya konservasi yang selama ini dilakukan berbagai pihak di wilayah pesisir Berau.

"Kami sangat menyayangkan peristiwa ini. Penyu merupakan satwa yang dilindungi undang-undang, sehingga tindakan membunuh dan mengambil telurnya merupakan pelanggaran serius," tegas Natan.

YKAN lanjutnya, akan berkoordinasi dengan instansi terkait, aparat penegak hukum, serta kelompok masyarakat pengawas untuk menelusuri pelaku sekaligus memperketat pengawasan di lokasi-lokasi pendaratan penyu.

Ia mengungkapkan, kasus ini bukan yang pertama terjadi di kawasan Balikukup. Sebelumnya juga pernah ditemukan penyu yang menjadi korban perburuan, meski saat itu tidak dibunuh dengan cara disayat, melainkan diikat oleh pelaku.

"Ini merupakan kejadian kedua. Karena itu kami akan memperkuat koordinasi dan pengawasan agar kejadian serupa tidak terus berulang," katanya.

Natan menegaskan bahwa keberadaan penyu memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut. Satwa tersebut membantu menjaga kesehatan padang lamun dan terumbu karang yang menjadi habitat berbagai jenis ikan.

Hilangnya populasi penyu akibat perburuan liar dikhawatirkan akan memberikan dampak jangka panjang terhadap ekosistem pesisir, termasuk terhadap keberlanjutan sumber daya perikanan yang menjadi mata pencaharian masyarakat.

Karena itu, ia mengajak masyarakat ikut menjaga habitat penyu dan segera melaporkan kepada pihak berwenang apabila mengetahui adanya aktivitas perburuan maupun perdagangan telur penyu.

"Kami berharap masyarakat menjadi garda terdepan dalam melindungi penyu. Keberadaan satwa ini bukan hanya penting bagi keanekaragaman hayati, tetapi juga bagi keberlangsungan ekosistem laut yang menjadi sumber kehidupan masyarakat pesisir," pungkasnya. (aky/sam)

Editor : Nurismi
penyu ditemukan mati Pokmaswas ykan