BERAU POST - Penyesuaian jadwal penerbangan hingga vakumnya rute maskapai AirAsia selama dua bulan ke depan dinilai menjadi pukulan berat bagi Kabupaten Berau.
Kondisi ini dikhawatirkan berdampak langsung terhadap geliat pariwisata yang tengah gencar dipromosikan pemerintah daerah.
Wakil Bupati Berau, Gamalis, menyebut, kebijakan tersebut merupakan keputusan bisnis maskapai yang tidak bisa diintervensi pemerintah daerah.
Menurutnya, faktor utama yang memengaruhi adalah perhitungan operasional, termasuk harga bahan bakar. “Ini memang kebijakan mereka (maskapai, red), murni pertimbangan bisnis maskapai,” ujarnya Senin (4/5).
Meski demikian, ia menegaskan bahwa dampaknya sangat terasa bagi Berau yang selama ini bertumpu pada konektivitas udara.
Terlebih akses menuju daerah tersebut sebagian besar bergantung pada penerbangan, khususnya dari kota-kota besar seperti Jakarta. “Kita bertopang dengan penerbangan, tentu ini membuat kita sangat terpukul,” katanya.
Gamalis menjelaskan, upaya promosi wisata yang selama ini digencarkan akan sulit optimal tanpa dukungan transportasi udara yang memadai.
Keterbatasan akses dinilai dapat mengurangi minat wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. “Pariwisata kita sangat bergantung pada konektivitas, terutama penerbangan langsung,” jelasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya rute penghubung atau connecting flight dari kota besar sebagai pintu masuk utama wisatawan.
Jika jalur tersebut terganggu, efeknya akan berantai terhadap sektor lain di daerah. “Kalau konektivitas terganggu, tentu berdampak luas bagi daerah,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Gamalis berharap maskapai tidak sepenuhnya menghentikan layanan penerbangan ke Berau. Ia menilai penyesuaian jadwal masih dapat dimaklumi selama tidak sampai pada penghentian total. “Silakan menyesuaikan, tapi jangan sampai berhenti total,” tegasnya.
Ia mengaku cukup prihatin dengan kondisi tersebut, mengingat Berau saat ini tengah berupaya memperkuat sektor pariwisata sebagai salah satu penggerak ekonomi daerah.
Menurutnya, sinergi antara pemerintah dan maskapai sangat dibutuhkan agar konektivitas tetap terjaga. “Cukup prihatin dengan langkah yang diambil AirAsia,” katanya.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah daerah disebut akan mencari berbagai inisiatif untuk menjaga keberlanjutan penerbangan.
Termasuk membuka komunikasi dengan maskapai lain, maupun mendorong kebijakan yang dapat mendukung operasional penerbangan.
Gamalis menegaskan bahwa keberadaan transportasi udara bukan hanya soal mobilitas, tetapi juga menjadi urat nadi bagi pertumbuhan ekonomi dan pariwisata Berau. “Transportasi udara ini penunjang utama, harus kita jaga bersama,” pungkasnya.
Sebelumnya, sejumlah maskapai penerbangan di Bandara Kalimarau mulai 'turunkan gasnya'. Sejumlah maskapai dilaporkan mengurangi frekuensi penerbangan, bahkan salah satu maskapai tercatat menghentikan operasional sementara selama dua bulan.
Kepala Badan Layanan Umum (BLU) Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas I Kalimarau, Patah Atabri, mengungkapkan, maskapai AirAsia sudah memutuskan untuk tidak beroperasi melayani penerbangan di Berau mulai 1 Mei hingga 30 Juni 2026.
“AirAsia memberitahukan penghentian operasi penerbangan,” ujarnya Minggu (3/5).
Ia menjelaskan, penghentian sementara ini tidak hanya terjadi di Berau, melainkan pada beberapa rute lain di Indonesia. Setidaknya terdapat tiga rute yang terdampak kebijakan tersebut.
“Tidak hanya di Berau, ada tiga rute yang dihentikan sementara,” jelasnya.
Adapun rute yang dimaksud meliputi Luwuk–Palu–Surabaya, Tarakan–Balikpapan, serta Berau–Balikpapan. Keputusan ini berdampak langsung pada konektivitas udara masyarakat Berau, khususnya yang bergantung pada rute menuju Balikpapan sebagai salah satu hub penting di Kalimantan.
Selain AirAsia, penyesuaian juga dilakukan Batik Air yang mengurangi frekuensi penerbangan. Dari sebelumnya melayani tujuh kali dalam sepekan, kini hanya beroperasi sekitar empat kali dalam seminggu dengan jadwal yang bersifat acak.
“Batik Air mengurangi frekuensi dari tujuh menjadi empat kali seminggu,” katanya.
Meski demikian, beberapa maskapai lain masih beroperasi normal. Super Air Jet misalnya, tetap melayani penerbangan dua kali sehari untuk rute Berau–Balikpapan. Sementara Wings Air melayani satu kali penerbangan setiap hari untuk rute Berau–Samarinda.
“Maskapai lain masih berjalan normal,” tambahnya. (sen/sam)
Editor : Nurismi