ADA film yang diproduksi tahun 1975, judulnya Senja di Pantai Losari. Drama konflik rumah tangga Zainuddin (Deddy Sutomo) dan Nursiah (Emilia Contess) yang terpisah jauh Jakarta – Makassar.
Wajah Pantai Losari tahun 1975 dan sekarang sudah banyak berubah. Wajah asli tepian pantai itu tesisa hanya beberapa meter saja. Selebihnya sudah mengalami reklamasi.
Kemarin, menjelang senja saya ke Pantai Losari. Saya memilih tempat di anjungannya. Ada tulisan Pantai Losari dengan latar belakang empat perahu phinisi yang sandar di dermaga.
Saya memulai dari tempat itu. Lalu berjalan menuju sisa Pantai Losari yang sengaja ditinggalkan untuk sebuah kenangan.
Jalan kaki lah saya dengan santai. Berpapasan dengan banyak pasangan muda mudi yang juga menikmati senja dengan jalan kaki.
Saya membayangkan, dimanakah gerangan tempat ketika dilakukan pengambilan gambar film Senja di Pantai Losari itu.
Ada film lainnya yang mengambil lokasi di Pantai Losari. Judulnya Jodoh 3 Bujang. Ada juga film Sunset di Pantai Losari.
Di Pantai Losari jelang senja kemarin itu, bukan mengenang kisah Zainuddin dan Nursiah. Saya mau olahraga ringan saja. Berjalan. Sesekali setengah berlari.
Banyak anak kecil mendekat. Menawarkan Jalangkote (kue pastel). Waktu usia 12 tahun, saya pernah juga jualan jalangkote. Berpasangan dengan teman yang jualan es mambo. Saya beli Rp 5.000 dengan kompensasi, dia memotret. Jadi foto saya itu hasil potret penjual jalangkote.
Pemandangan pantai jelang senja itu yang banyak dijadikan momen warga. Mereka mengabadikan saat-saat matahari terbenam. Ada juga hanya duduk di bibir pantai, menunggu matahari senja tak terlihat lagi.
Lumayan jauh saya berjalan. Seorang diri. Sambil mengenang dulu, pernah memancing dan mendapatkan ikan baronang ukuran besar. Harusnya gembira. Tapi, sebaliknya sedih, karena sepeda merek `Norton` hilang di tempat parkir. Hehe.
Jalan kaki bergeser mendekati deretan penjual pisang epe alias pisang gapit. Penjualnya setengah berteriak menawarkan pada setiap yang lewat denga kios mereka.
Akhirnya mampir juga. Sekalian istirahat. Saya memesan satu porsi pisang epe isi tiga pisang yang dibakar lalu di penyet. Gulanya campur durian kan? Tawarnya. Oh, saya buatkan yang orisinil saja.
Saya nikmatilah pisang gapit itu sendirian. Di belakang saya, duduk sepasang muda mudi. Kayaknya dia dari Surabaya. Cantik yang Pantai Losari, kata dia.
Saya hanya bisa tersenyum, Dan saya juga baru tahu, warga Makassar sangat jarang menyebut Pantai Losari. Mereka menyingkatnya dengan sebutan Panlos alias Pantai Losari. Hehe. (sam)
@daengsikra.id