Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Start Posisi 20 tapi Tembus 10 Besar, Veda Ega Pratama Bikin Geger Debut Moto3 2026!

Nurismi • Selasa, 2 Juni 2026 | 06:10 WIB
Veda Ega Pratama saat tampil impresif di Moto3 Catalunya 2026. (Instagram/@veda_54)
Veda Ega Pratama saat tampil impresif di Moto3 Catalunya 2026. (Instagram/@veda_54)

BERAU POST - Tujuh seri pertama Moto3 2026 menghadirkan gambaran yang cukup jelas tentang sosok Veda Ega Pratama.

Pembalap 17 tahun asal Gunungkidul, Yogyakarta, itu menunjukkan bakat besar yang membuatnya layak berada di Kejuaraan Dunia. Namun di saat yang sama, musim debutnya juga mengungkap sejumlah area yang masih perlu diasah.

Satu hal yang paling menonjol adalah kemampuan Veda saat bertarung di tengah rombongan. Berkali-kali ia membuktikan mampu melesat dari posisi belakang dan menembus kelompok depan.

Di Jerez, Veda memulai balapan dari posisi ke-17 dan berhasil finis keenam. Di Catalunya, ia start dari posisi ke-20 sebelum mengakhiri balapan di urutan kedelapan. Dalam tiga seri terakhir, dua kali ia mampu menembus 10 besar meski memulai lomba dari barisan belakang. 

Catatan tersebut menunjukkan bahwa kecepatan balapan dan kemampuan menyalip Veda berada di atas rata-rata pembalap debutan.

Ketika ritmenya sudah terbentuk, ia mampu mengejar dan melewati banyak rival dalam waktu singkat. Namun ada sisi lain yang juga terus muncul sepanjang tujuh seri pertama.

Veda kerap mengalami kesulitan mempertahankan posisi ketika sudah berada di kelompok depan. Di Mugello misalnya, ia sempat melesat ke posisi keenam pada lap pertama.

Tetapi hanya satu lap kemudian turun ke posisi sepuluh, lalu merosot ke urutan ke-16 pada lap keempat.

Pola serupa terlihat di Catalunya. Setelah melakukan banyak manuver dan naik posisi dengan cepat, ia kembali kehilangan beberapa tempat sebelum akhirnya mampu bangkit menjelang finis.

Di GP Amerika, Veda bahkan memulai balapan dari posisi keempat, tetapi tercecer ke posisi kedelapan pada lap pertama sebelum akhirnya gagal menyelesaikan lomba.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa Veda masih berada dalam proses adaptasi terhadap kerasnya persaingan Moto3.

Kecepatan satu lap dan keberanian menyalip sudah terlihat, tetapi kemampuan menjaga ritme saat berada di grup terdepan masih membutuhkan waktu untuk berkembang.

Hal itu sebenarnya cukup wajar. Usianya baru 17 tahun dan musim 2026 merupakan tahun pertamanya di level Grand Prix.

Banyak pembalap Moto3 membutuhkan beberapa musim untuk memahami cara mengelola ban, menjaga momentum, serta mempertahankan posisi ketika berada di tengah pertarungan ketat.

Selain itu, tantangan lain yang terus berulang adalah sesi kualifikasi. Kemampuan menyalip yang dimiliki Veda sebenarnya akan jauh lebih efektif jika ia bisa memulai balapan dari barisan depan.

Selama tujuh seri pertama, performa kualifikasi masih sering menjadi pekerjaan rumah. Ia beberapa kali harus start dari baris keenam atau ketujuh, sehingga menghabiskan banyak energi untuk mengejar posisi sejak lap awal.

Padahal ketika mampu berada lebih dekat dengan kelompok terdepan sejak start, peluang meraih hasil besar akan meningkat secara signifikan.

Dengan kecepatan balapan yang sudah terbukti kompetitif, peningkatan performa di sesi kualifikasi berpotensi menjadi faktor pembeda dalam sisa musim ini.

Meski demikian, pencapaian Veda hingga seri ketujuh tetap layak mendapat apresiasi. Dalam usia yang masih sangat muda, ia sudah berhasil mencetak sejarah bagi Indonesia di Moto3.

Satu podium, rekor top speed, dan koleksi 66 poin dunia menjadi bukti bahwa potensinya bukan sekadar harapan masa depan.

Musim 2026 pun masih panjang. Masih ada 15 seri tersisa dari total 22 balapan, termasuk balapan kandang di Mandalika pada 11 Oktober mendatang.

Kesempatan untuk memperbaiki performa kualifikasi, menjaga konsistensi di rombongan depan, dan kembali bersaing dalam perebutan gelar rookie terbaik masih terbuka lebar.

Menariknya, perjalanan ini seolah mengingatkan pada sebuah momen yang terjadi beberapa bulan sebelum debut Grand Prix tersebut.

Pada 30 September 2025, Presiden Prabowo Subianto menerima juara dunia MotoGP Marc Márquez di Istana Kepresidenan Jakarta. Dalam pertemuan itu hadir pula dua pembalap muda Indonesia, Mario Suryo Aji dan Veda Ega Pratama.

Saat itu Veda baru berusia 16 tahun dan belum pernah mengaspal di ajang Grand Prix. Namun Márquez sudah berbicara tentang potensinya di hadapan Presiden.

Kini, kurang dari setahun setelah momen tersebut, Veda telah mengubah potensi menjadi prestasi nyata.

Tantangan berikutnya bukan lagi membuktikan bahwa ia layak berada di Moto3, melainkan bagaimana mengubah kilasan-kilasan kecepatan yang sudah terlihat menjadi konsistensi yang mampu mengantarkannya bersaing di barisan depan setiap pekan balapan. 

Editor : Nurismi
#veda ega pratama #moto3