Luruskan Pemahaman Masyarakat, Ini Kata BMKG Soal Cara Kerja Operasi Modifikasi Cuaca di Berau

Nurismi • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 18:12 WIB
Kepala Stasiun Meteorologi (Stamet) Kalimarau, Ade Heriyadi. (SENO/BP)
Kepala Stasiun Meteorologi (Stamet) Kalimarau, Ade Heriyadi. (SENO/BP)

BERAU POST - Belakangan banyak terdengar kesalahpahaman akan pengertian Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Merespons hal ini, Kepala Stasiun Meteorologi (Stamet) Kalimarau, Ade Heriyadi, menjelaskan, OMC merupakan teknologi untuk memperbesar peluang terjadinya hujan dengan memanfaatkan keberadaan awan yang ada suatu wilayah, bukan mengubah musim kemarau menjadi musim hujan.

“Jadi, misal tadinya ada awan yang akan luruh atau hilang, dimodifikasi atau disemuai agar berpeluang menjadi hujan,” jelas Ade saat ditemui, Kamis (27/8).

Pada dasarnya, OMC untuk mengoptimalisasi potensi awan hujan yang selama musim kemarau disertai El Nino ini yang sudah sangat jarang terjadi beberapa waktu belakangan.

Dalam pelaksanaan di Berau, Ade menyebut OMC sudah memberi efek cukup signifikan. Di mana suhu udara mulai mengalami penurunan dari rata-rata puncak suhu yang sempay mencapai 37,8 derajat celcius, menjadi rata-rata puncak suhu 35,6 derajat celcius.

“Penurunan suhu ini juga dipengaruhi pertumbuhan awan. Secara tidak langsung kita rasakan, meski tidak hujan tetapi suhu menurun,” paparnya.

Ade juga mengutarakan, mengapa pelaksanaan OMC bisa dilangsungkan di Kabupaten Berau, di antaranya adalah hasil analis prakirawan di Stamet Kalimarau, bahwa terdapat potensi awan hujan.

Berdasarkan analisis Stamet Kalimarau, potensi pertumbuhan awan muncul dan berpotensi pada 21, 23, 24, 25 Agustus dan kemudian akan berkurang berdasarkan data analisis pada 20 Agustus 2026.

Ade juga menambahkan bahwa potensi pertumbuhan awan juga cukup banyak pada Jumat (28/8), di wilayah barat dari Tanjung Redeb atau sekitar Kecamatan Segah dan Kelay.

“Setelah tanggal 30 Agustus-2 September potensinya kecil,” terangnya.

Dia menjelaskan, puncak musim kemarau bersamaan dengan fenomena global El Nino dengan indeks 2.9 kategori sangat kuat, menjadikan sifat hujan di wilayah Berau berada di bawah normal.

“Misalnya Agustus itu kan 100 mm, nah tercatat saat ini baru 30 mm, ada penurunan yang signifikan pengaruh dari El Nino,” paparnya.

Pengaruh El Nino ini sambung Ade akan memengaruhi pengujung musim kemarau di September mendatang, karena dampak El Nino diperkirakan berlangsung hingga awal tahun 2027 mendatang.

Diperkirakan, pada September dengan curah hujan 150 mm, akan terdampak El Nino sehingga diprediksi menekan lebih dari 50 persen.

Pada prinsipnya, dampak El Nino ini memang berpengaruh terhadap potensi curah hujan, dan Berau menjadi wilayah yang terdampak dengan turunnya curah hujan selama musim kemarau.

Terlebih Berau merupakan daerah yang tidak jauh dari garis khatulistiwa atau equator line, sehingga dampaknya lebih signifikan.

Di antaranya adalah kenaikan suhu yang cukup tinggi, sehingga Stamet Berau beberapa kali menduduki posisi pertama daerah terpanas di Indonesia, bahkan konsisten masuk di 10 besar dalam beberapa waktu.

Sebelumnya, Analis Kebencanaan Ahli Madya pada Kedeputian Bidang Penanganan Darurat BNPB RI, Tono Sumarsono, mengatakan, pelaksanaan OMC merupakan tindak lanjut atas permintaan Pemerintah Kabupaten Berau kepada pemerintah pusat.

“Dasarnya dari permintaan Bupati kepada Kepala BNPB dan Kepala BMKG,” ujar Tono.

Menurutnya, OMC menjadi salah satu bentuk dukungan pemerintah pusat terhadap upaya penanganan karhutla di Berau.

Pelaksanaan kegiatan nantinya melibatkan lintas sektor, mulai dari BNPB, pemerintah daerah, pihak bandara hingga stasiun meteorologi setempat.

Dalam operasionalnya, setiap penerbangan akan dilakukan berdasarkan rekomendasi Direktorat Modifikasi Cuaca. Artinya, pesawat tidak akan diterbangkan secara sembarangan, melainkan menunggu kondisi atmosfer dan keberadaan awan yang dinilai memenuhi syarat untuk dilakukan penyemaian.

“Pesawat ini bergantung pada potensi awan yang ada,” jelasnya.

Pesawat tersebut memiliki kapasitas membawa satu ton bahan semai dalam satu kali operasi, dengan empat awak yang terdiri atas pilot, co-pilot, serta dua saintis. Tim akan bersiaga di posko untuk memantau perkembangan awan hingga sore bahkan malam hari.

Begitu ditemukan potensi awan yang sesuai, proses pengisian bahan semai ditargetkan berlangsung maksimal sekitar 30 menit sebelum pesawat diberangkatkan.

“Kita tidak ada target berapa kali semai. Kalau ada potensinya, akan kita maksimalkan,” katanya.

Tono menegaskan, tujuan utama OMC bukan mengejar jumlah penerbangan maupun penyemaian, tetapi menghasilkan hujan.

Karena itu, pelaksanaan sangat bergantung pada kondisi awan yang tersedia. “Target kita hanya menurunkan hujan,” tegasnya. (sen/sam)

Editor : Nurismi
musim kemarau OMC Stamet Kalimarau