Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Ikan Layang Jadi Penyelamat! Ini Daftar Bahan Pangan yang Tahan Laju Inflasi di Berau Februari 2026

Beraupost • Senin, 9 Maret 2026 | 15:50 WIB

ILUSTRASI: Harga daging ayam ras mengalami kenaikan menjelang awal Ramadan dan turut menjadi salah satu pendorong inflasi di Kabupaten Berau pada Februari 2026. (IZZA/BP)
ILUSTRASI: Harga daging ayam ras mengalami kenaikan menjelang awal Ramadan dan turut menjadi salah satu pendorong inflasi di Kabupaten Berau pada Februari 2026. (IZZA/BP)

BERAU POST – Laju inflasi di Kabupaten Berau kembali mengalami kenaikan pada Februari 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, inflasi tahunan atau year-on-year (yoy) mencapai 4,15 persen.

Angka ini lebih tinggi dibandingkan Januari 2026 yang berada di level 3,78 persen.

Ketua Tim Statistik Distribusi BPS Berau, Mega Safira Aulia, menjelaskan, inflasi tersebut menggambarkan kenaikan indeks harga konsumen pada Februari 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Perubahan harga sejumlah komoditas kebutuhan masyarakat menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan inflasi di daerah ini.

Dijelaskan, Indeks Harga Konsumen (IHK) merupakan salah satu data strategis yang digunakan pemerintah sebagai dasar dalam merumuskan kebijakan ekonomi, terutama yang berkaitan dengan pola konsumsi masyarakat.

Data tersebut disusun melalui Survei Biaya Hidup (SBH) yang dilakukan secara berkala.

Dalam penghitungan IHK dengan tahun dasar 2022, BPS juga telah melakukan penyempurnaan metode perhitungan.

Salah satunya dengan memasukkan bobot jenis pasar dalam menghitung rata-rata harga setiap komoditas.

“Indeks Harga Konsumen atau IHK merupakan salah satu data strategis BPS yang diperlukan sebagai dasar penentuan kebijakan pemerintah terkait pola konsumsi masyarakat,” ujarnya.

Pada Februari 2026, terdapat sejumlah fenomena yang memengaruhi perubahan harga komoditas di Kabupaten Berau.

Salah satunya kenaikan harga emas perhiasan yang dipicu oleh kondisi geopolitik serta dinamika pasar global. Kondisi tersebut berdampak pada perubahan harga emas di berbagai daerah, termasuk Berau.

Selain itu, kenaikan harga daging ayam ras juga dipengaruhi oleh penentuan harga dari agen besar ayam potong di wilayah Berau. Harga yang ditetapkan oleh agen ini turut menentukan harga jual di kios-kios penjualan.

"Permintaan ayam yang meningkat menjelang awal Ramadan juga menjadi faktor lain yang menyebabkan harga komoditas tersebut mengalami kenaikan cukup signifikan," katanya.

Faktor lain yang mendorong inflasi adalah kembalinya tarif listrik ke harga normal. Hal ini terjadi setelah sebelumnya pemerintah memberlakukan diskon tarif listrik pada Februari 2025.

Dengan berakhirnya kebijakan tersebut, indeks harga tarif listrik pada Februari tahun ini mengalami kenaikan yang cukup besar.

Sementara itu, jika dilihat secara bulanan atau month-to-month (m-to-m), Kabupaten Berau mencatat inflasi sebesar 0,15 persen pada Februari 2026.

Angka ini menjadi yang terendah dibandingkan wilayah IHK lainnya di Provinsi Kalimantan Timur.

Inflasi bulanan tersebut terutama disumbang oleh tiga kelompok pengeluaran utama. Pertama, kelompok makanan minuman dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 0,03 persen dengan andil 0,01 persen.

Kedua, kelompok transportasi yang mengalami inflasi 0,07 persen dengan andil 0,01 persen.

Ketiga, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mengalami inflasi 1,83 persen dengan andil 0,14 persen.

Jika dilihat dari komoditasnya, emas perhiasan menjadi pendorong terbesar inflasi bulanan dengan andil sebesar 0,13 persen.

Kenaikan harga komoditas ini dipengaruhi dinamika harga emas di pasar global yang turut berdampak hingga ke tingkat daerah.

"Selain emas perhiasan, komoditas lain yang turut mendorong inflasi bulanan di antaranya daging ayam ras, angkutan udara, kacang panjang, tomat, ketimun, pembalut wanita, buncis, kangkung dan cabai rawit," sebutnya.

Di sisi lain, terdapat pula sejumlah komoditas yang menahan laju inflasi pada Februari 2026.

Komoditas yang paling besar menahan inflasi adalah ikan layang atau ikan benggol dengan andil sebesar 0,17 persen.

Selain itu, komoditas lain yang turut menahan inflasi bulanan antara lain BBM, bawang merah, udang basah, jagung manis, bahan bakar rumah tangga, wortel, sawi hijau, minyak goreng dan cumi-cumi.

Sementara untuk inflasi tahunan, terdapat tiga kelompok pengeluaran yang menjadi penyumbang terbesar.

Kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami inflasi sebesar 3,94 persen dengan andil 1,18 persen.

Kemudian kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga yang mengalami inflasi 14,51 persen dengan andil 2,24 persen.

Selanjutnya kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mengalami inflasi 13,94 persen dengan andil 1,01 persen.

"Dari sisi komoditas, tarif listrik menjadi pendorong terbesar inflasi tahunan dengan andil sebesar 2,31 persen. Kenaikan ini berkaitan dengan berakhirnya kebijakan diskon tarif listrik yang sebelumnya diberlakukan pemerintah," paparnya.

Selain tarif listrik, komoditas lain yang turut mendorong inflasi tahunan di antaranya emas perhiasan, ikan layang, daging ayam ras, ikan kembung, sigaret kretek mesin, ikan tongkol, beras, ikan bandeng serta nasi dengan lauk.

Adapun komoditas yang menahan inflasi tahunan antara lain angkutan udara dengan andil sebesar 0,4 persen.

Selain itu, beberapa komoditas lain yang turut menahan laju inflasi yakni bayam, bensin, bahan bakar rumah tangga, tomat, kangkung, sawi hijau, sabun, deterjen bubuk, terong serta pengharum cucian atau pelembut pakaian.

Dalam lingkup Provinsi Kalimantan Timur, tingkat inflasi tahunan tertinggi pada Februari 2026 tercatat terjadi di Kota Samarinda sebesar 5,29 persen.

Sementara inflasi tahunan terendah terjadi di Kabupaten Penajam Paser Utara sebesar 4,13 persen.

Untuk inflasi bulanan, tingkat inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Penajam Paser Utara sebesar 0,89 persen.

Sedangkan Kabupaten Berau menjadi daerah dengan inflasi bulanan terendah di Kalimantan Timur, yakni sebesar 0,15 persen.

“Data Indeks Harga Konsumen ini menjadi dasar bagi pemerintah dalam melihat perubahan pola konsumsi masyarakat sekaligus merumuskan kebijakan yang berkaitan dengan pengendalian harga,” ujarnya. (aja/sam)

Editor : Nurismi
#ayam ras #bbm #BPS Berau #ikan #inflasi Berau