BERAU POST – Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau melaksanakan pelatihan Pelayanan Antenatal Care (ANC), persalinan, nifas, dan Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK) yang ditujukan bagi tenaga kesehatan. Khususnya bidan di fasilitas kesehatan tingkat pertama.
Kepala Bidang (Kabid) Sumber Daya Kesehatan (SDK) Dinkes Berau, Sitti Zakiah mengatakan, salah satu tugas dan fungsi Bidang SDK adalah meningkatkan mutu serta kompetensi tenaga kesehatan. Tujuannya agar mampu memberikan pelayanan yang berkualitas kepada masyarakat.
Ia menjelaskan, pelatihan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan bayi, sekaligus mendukung upaya penurunan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB).
Sekaligus, peningkatan kompetensi tenaga kesehatan juga diharapkan dapat memberikan pelayanan yang lebih optimal bagi balita dan anak.
Adapun materi pelatihan difokuskan pada peningkatan kompetensi klinis tenaga kesehatan. Para peserta dibekali pemahaman mengenai standar pelayanan antenatal care, persalinan, dan pelayanan masa nifas sesuai standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku.
Tidak hanya itu, tenaga kesehatan juga dilatih untuk meningkatkan kemampuan dalam mendeteksi secara dini berbagai faktor risiko pada ibu hamil, mengenali komplikasi yang dapat terjadi saat persalinan maupun masa nifas, sehingga tindakan pencegahan ataupun rujukan dapat dilakukan secara tepat waktu.
“Diharapkan tenaga kesehatan mampu memberikan pelayanan yang sesuai standar, sekaligus lebih cepat dalam mengidentifikasi risiko yang dapat membahayakan ibu maupun bayi,” ujarnya, Sabtu (18/7).
Selain pelayanan maternal, pelatihan juga memberikan perhatian khusus terhadap pelaksanaan Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK).
Tenaga kesehatan diberikan pembekalan mengenai teknik pengambilan sampel darah tumit atau heel prick yang benar, termasuk tata cara penanganan sampel agar kualitas pemeriksaan laboratorium tetap terjaga.
“Pelaksanaan skrining tersebut dinilai penting karena menjadi langkah awal dalam mendeteksi Hipotiroid Kongenital pada bayi baru lahir,” ungkapnya.
Apabila kondisi tersebut diketahui sejak dini, bayi dapat segera memperoleh penanganan medis sebelum usia satu bulan.
Penanganan yang cepat diharapkan mampu mencegah terjadinya kecacatan fisik, keterbelakangan mental, maupun gangguan perkembangan kognitif yang bersifat permanen.
Pun pelatihan juga diarahkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan di fasilitas kesehatan tingkat pertama melalui penguatan profesionalisme tenaga kesehatan.
“Dengan kompetensi yang semakin baik, tenaga kesehatan diharapkan lebih percaya diri dalam menjalankan kewenangannya sesuai standar pelayanan,” paparnya.
Selain kemampuan klinis, peserta juga memperoleh pembekalan mengenai manajemen kasus kegawatdaruratan maternal dan neonatal.
Materi tersebut mencakup kemampuan menentukan waktu yang tepat untuk melakukan rujukan pasien ke fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih tinggi, sehingga penanganan dapat dilakukan secara cepat dan tepat sesuai kebutuhan pasien.
Menurutnya, penguatan kompetensi tenaga kesehatan merupakan salah satu langkah penting dalam mendukung pelayanan kesehatan yang berkualitas.
“Dengan tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi sesuai standar, kualitas pelayanan di fasilitas kesehatan tingkat pertama juga akan semakin baik,” terangnya.
“Hal ini menjadi bagian dari upaya bersama dalam mendukung penurunan angka kematian ibu dan bayi serta meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di Kabupaten Berau,” pungkasnya. (aja/arp)
Editor : Nurismi