Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Bukan Hanya Sawit, Kakao dan Terasi Berau Juga Didorong Jadi Produk Bernilai Tinggi di Pasar Global

Beraupost • Senin, 2 Maret 2026 | 08:35 WIB

Ilustrasi hasil sawit. (BERAU POST)
Ilustrasi hasil sawit. (BERAU POST)

BERAU POST– Wakil Ketua II DPRD Berau, Sumadi, harap pemerintah daerah lebih serius memanfaatkan potensi kelapa sawit dan komoditas lokal lainnya melalui hilirisasi, sehingga ekonomi daerah tidak lagi bergantung sepenuhnya pada sektor pertambangan.

Perubahan regulasi nasional katanya, membuat ruang fiskal daerah semakin terbatas, sehingga strategi pembangunan harus berorientasi pada pengolahan dan nilai tambah lokal.

Apalagi Kabupaten Berau menghadapi tantangan besar dalam mengelola sumber daya alamnya, terutama saat ketergantungan pada sektor pertambangan semakin berkurang akibat perubahan regulasi nasional.

Saat ini daerah tidak lagi bisa sepenuhnya mengandalkan tambang sebagai sumber utama pendapatan.

Menurutnya, kondisi ini menuntut Berau segera memikirkan strategi pembangunan yang lebih berorientasi pada pengolahan komoditas lokal.

“Tambang tidak bisa lagi menjadi tumpuan utama. Kita harus realistis melihat kondisi ini, karena sebagian besar kewenangan dan keuntungan pertambangan sekarang berada di pemerintah pusat. Sementara daerah penghasil justru tidak lagi menikmati hasilnya secara maksimal,” ujarnya diwawancara kemarin (27/2).

Sumadi menyebut, ketergantungan pada tambang justru menjadi tantangan tersendiri bagi fiskal daerah.

Menurutnya, tekanan fiskal yang dialami saat ini seharusnya dijadikan momentum bagi Berau untuk memperkuat sektor pengolahan dan industri lokal.

“Kalau pendapatan dari tambang tidak lagi dominan, justru saatnya sektor pengolahan dan industri lokal naik kelas. Di sinilah kita bisa menciptakan lapangan kerja baru, sekaligus meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD),” katanya.

Maka dari itu sebutnya, penting mewujudkan hilirisasi kelapa sawit sebagai strategi jangka panjang.

Melalui pokok-pokok pikiran (pokir), pihaknya telah mengusulkan program hilirisasi kelapa sawit kepada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian dan Pengembangan (Bapelitbang), dengan tujuan agar Berau tidak lagi hanya menjadi pemasok bahan mentah.

“Kalau kita hanya mengirim bahan mentah, yang diuntungkan bukan kita. Namun, jika produk olahan hingga menjadi minyak sawit diolah di sini (Berau, red), perputaran ekonomi terjadi di Berau. Lapangan kerja terbuka, dan PAD juga meningkat,” tegasnya.

Selain sawit, komoditas lain seperti kakao dan terasi juga ditekankannya perlu diolah hingga menjadi produk akhir.

Dengan begitu, Berau dapat memaksimalkan potensi ekonomi lokal dan membangun kemandirian industri di tengah keterbatasan fiskal.

Dirinya berkomitmen untuk tetap memperhatikan aspirasi masyarakat dari seluruh daerah pemilihan.

“Kami tetap memasukkan usulan dari hampir semua dapil. Pembangunan tidak boleh hanya terpusat di satu titik, tetapi harus merata agar manfaatnya dirasakan seluruh masyarakat,” ujarnya.

Arah pembangunan Berau ke depan menurut Sumadi, harus menekankan kemandirian ekonomi dan kemampuan daerah untuk membangun industri sendiri.

Dengan strategi yang tepat, ia optimistis Berau bisa mengurangi ketergantungan pada sumber daya alam yang hanya memberi keuntungan jangka pendek, dan mulai menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih berkelanjutan.

“Sekarang saatnya kita mulai membangun industri sendiri dan mengelola sumber daya dengan cerdas, sehingga Berau tidak lagi hanya menjadi penyuplai bahan mentah, tetapi mampu menghasilkan produk bernilai tinggi,” pungkasnya.

Sementara Wakil Bupati Berau, Gamalis, mengatakan, arah pengembangan sawit di Kabupaten Berau memang menjanjikan secara ekonomi. Namun, pemerintah daerah tetap akan mempertimbangkan dampak lingkungan secara menyeluruh sebelum membuat keputusan lanjutan.

“Kita akan lakukan kajian teknis bersama dinas-dinas terkait,” ungkap Gamalis.

Ia menekankan pentingnya melihat secara objektif antara manfaat ekonomi dan potensi kerusakan alam yang mungkin ditimbulkan.

Menurutnya, setiap kebijakan harus mempertimbangkan dua sisi tersebut secara seimbang.

“Apakah kerusakan alam lebih besar dari manfaatnya? Itu yang harus kita hitung,” tegasnya.

Gamalis memastikan Pemkab Berau akan berhati-hati dalam menentukan arah pengelolaan sawit, agar tetap berkelanjutan dan memberikan dampak positif bagi masyarakat, tanpa mengorbankan lingkungan hidup.

Dorongan hilirisasi dan langkah kehati-hatian pemerintah daerah, diharapkan pengelolaan sawit di Berau akan semakin terarah, memberikan nilai tambah ekonomi, dan tetap menjaga kelestarian lingkungan. (aja/sam)

Editor : Nurismi
#hilirisasi #sawit #DPRD Berau