HARIAN RAKYAT KALTARA — Kualitas udara di Kota Tarakan resmi berada pada kategori tidak sehat, Selasa (1/9). Berdasarkan data pemantauan Stasiun Pamusian Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tarakan per pukul 14.00 WITA, Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) berada di angka 103.
Kepala DLH Kota Tarakan, Andri Rawung menyampaikan, lonjakan indeks pencemaran tersebut didominasi oleh tingginya konsentrasi Particulate Matter (PM2.5) yang menjadi parameter kritis.
Angka ini telah melewati batas aman kategori sedang (51—100) dan mulai masuk ambang batas yang berdampak negatif terhadap kesehatan.
Hasil pengukuran ISPU berada di level 102 dengan parameter utama PM 2.5. Sementara untuk parameter PM 10 berada di angka 85. Parameter lain seperti SO2, CO, O3, NO2, dan HC masih relatif aman," terang Andri.
Merespons memburuknya kualitas udara akibat paparan kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Wali Kota Tarakan Khairul menerbitkan instruksi penanganan merujuk Surat Edaran Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Nomor 17 Tahun 2026.
Wali Kota mengimbau seluruh masyarakat untuk memperketat perlindungan diri saat beraktivitas di luar rumah guna menghindari pajanan partikel berbahaya.
“Kabut asap karhutla ini sangat berisiko membahayakan kesehatan saluran pernapasan. Terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan ibu hamil. Kami mengimbau warga memakai masker yang menutup hidung dan mulut dengan baik saat berada di luar ruangan,” ujar Khairul.
Selain kewajiban penggunaan masker, Khairul meminta warga membatasi kegiatan di luar rumah yang tidak mendesak, memperbanyak konsumsi air putih untuk menjaga kebugaran tubuh. Serta segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami keluhan batuk, sesak napas, atau iritasi mata.
Kualitas udara di Tanjung Selor pun berada pada kategori tidak sehat. Pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan konsentrasi partikulat halus atau PM2.5 mencapai 113,6 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada Selasa (1/9) pukul 17.00 WITA.
Forecaster BMKG Tanjung Harapan Farid Hardiansyah mengatakan, angka tersebut menjadi perhatian di tengah kondisi kabut asap yang masih menyelimuti wilayah Kaltara.
Konsentrasi PM2.5 yang terpantau sepanjang hari juga menunjukkan kecenderungan meningkat sejak pagi hingga sore.
Berdasarkan grafik pemantauan kualitas udara BMKG Tanjung Harapan-Bulungan, konsentrasi PM2.5 pada pukul 00.00 WITA tercatat 72,5 µg/m³. Angka tersebut kemudian turun hingga 50,5 µg/m³ pada pukul 04.00 WITA.
Namun, memasuki pagi hari, konsentrasi partikulat kembali meningkat. Pada pukul 09.00 WITA, PM2.5 tercatat 82,7 µg/m³ dan naik menjadi 94,4 µg/m³ pada pukul 10.00 WITA.
“Peningkatan terus terjadi menjelang siang. Konsentrasi PM2.5 mencapai 120,1 µg/m³ pada pukul 11.00 WITA, kemudian bergerak naik hingga 144,5 µg/m³ pada pukul 14.00 WITA,” jelas dia, Selasa (1/9).
Kondisi terburuk dalam pemantauan terjadi pada sore hari. Konsentrasi PM2.5 mencapai 160,5 µg/m³ pada pukul 15.00 WITA, kemudian berada di angka 158,7 µg/m³ pada pukul 16.00 WITA. Satu jam berikutnya, konsentrasi turun menjadi 113,6 µg/m³.
“Meski mengalami penurunan, status kualitas udara pada pukul 17.00 WITA masih berada dalam kategori tidak sehat,” kata dia.
Di sisi lain, Seluruh wilayah Kaltara, telah memasuki musim kemarau hingga akhir Agustus 2026. Namun, kondisi tersebut bukan berarti daerah terbebas dari potensi hujan dan cuaca ekstrem.
Peringatan tersebut tertuang dalam Buletin Informasi Peringatan Dini Cuaca dan Iklim Provinsi Kalimantan Utara periode Dasarian I September 2026 yang diterbitkan 31 Agustus 2026.
Hingga dasarian III Agustus 2026 seluruh wilayah Kaltara sudah memasuki musim kemarau. Kondisi ini menjadi perhatian karena periode kemarau dapat meningkatkan risiko sejumlah dampak hidrometeorologi, terutama apabila kondisi kering berlangsung cukup panjang.
“Meski memasuki musim kemarau, BMKG masih memprakirakan adanya potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat pada waktu tertentu. Untuk periode 1—3 September 2026, tidak terdapat potensi hujan sedang hingga lebat di wilayah Kaltara,” ungkapnya.
Namun, kondisi berubah pada 4—6 September. BMKG mengeluarkan peringatan waspada terhadap potensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat atau petir serta angin kencang.
Kondisi tersebut berpotensi terjadi pada siang, sore, malam, hingga dini hari di sejumlah wilayah, termasuk Malinau Kota, Malinau Utara, dan Malinau Selatan.
“Setelah periode tersebut, kondisi kembali cenderung lebih kering. Pada 7—10 September 2026, BMKG memprakirakan tidak terdapat potensi hujan sedang hingga lebat,” lanjut dia menjelaskan.
Perubahan kondisi cuaca tersebut menjadi perhatian karena berlangsung di tengah periode kemarau. Masyarakat diminta tidak hanya memperhatikan potensi hujan, tetapi juga mewaspadai dampak lanjutan dari kondisi kering dan perubahan cuaca secara cepat.
BMKG juga menerbitkan peringatan dini terkait kekeringan meteorologis untuk periode 1—10 September. Peringatan tersebut menggunakan kategori Waspada, Siaga, dan Awas berdasarkan jumlah hari tanpa hujan berturut-turut.
“Dalam peta dan tabel peringatan, sejumlah wilayah Kaltara tercantum dalam informasi kewaspadaan kekeringan meteorologis,” jelasnya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat perlu tetap waspada meskipun terdapat peluang hujan pada periode tertentu.
Cuaca yang berubah dari kondisi kering menuju hujan lebat juga berpotensi menimbulkan dampak ikutan apabila terjadi dalam waktu singkat.
“BMKG merekomendasikan informasi peringatan dini tersebut digunakan sebagai bahan kewaspadaan dan pertimbangan dalam melakukan langkah mitigasi terhadap dampak yang mungkin timbul,” terangnya.
Masyarakat maupun pemerintah daerah diimbau terus mengikuti perkembangan prakiraan cuaca dan peringatan dini. Informasi yang lebih rinci dapat diperoleh melalui unit pelaksana teknis BMKG terdekat, termasuk Stasiun Meteorologi Tanjung Harapan.
Dengan kondisi cuaca yang masih dinamis pada awal September, kewaspadaan menjadi penting. Pemerintah dan masyarakat diharapkan dapat menyesuaikan aktivitas berdasarkan perkembangan cuaca, agar potensi dampak hidrometeorologi dapat ditekan. (sas/fai/uno)
Editor : Nurismi