
BERAU POST– Dampak Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) mulai terasa terhadap kesehatan masyarakat di Berau. Salah satu yang paling terlihat adalah meningkatnya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan.
Wakil Bupati Berau, Gamalis, pun turun langsung meninjau kondisi tersebut dengan mengunjungi Puskesmas (PKM) Tanjung Redeb, PKM Kampung Bugis, Kamis (3/9).
Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat secara langsung dampak asap karhutla terhadap pelayanan kesehatan, juga kesiapan fasilitas kesehatan dalam menghadapi peningkatan jumlah pasien.
Dijelaskan, ISPA menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian serius di tengah kondisi kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah Berau.
Berdasarkan pemantauan Dinas Kesehatan, posisi ISPA yang sebelumnya berada di peringkat 8 hingga 9 penyakit terbanyak, kini naik menjadi peringkat kedua setelah hipertensi.
“Perkembangannya sudah tiga kali lipat. Dari bulan Juni, Juli, Agustus sampai awal September ini terlihat peningkatannya,” kata Gamalis.
Kondisi tersebut tentunya tidak dapat dilepaskan dari asap yang ditimbulkan oleh karhutla. Partikel yang terkandung dalam asap berpotensi masuk ke saluran pernapasan dan menimbulkan gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok masyarakat yang rentan.
Kekhawatiran itu semakin kuat setelah dilakukan pengukuran kualitas udara di dalam ruangan. Adapun kadar partikulat PM2.5 di dalam ruangan telah berada di atas ambang rata-rata, bahkan hampir mencapai tiga kali lipat.
PM2.5 sendiri merupakan partikel berukuran sangat kecil yang dapat melewati penyaringan alami di hidung dan masuk jauh ke dalam paru-paru.
Sementara PM10 berukuran lebih besar, sehingga sebagian masih dapat tersaring oleh hidung, meski tetap berpotensi masuk ke saluran pernapasan.



