Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Harga Energi Dunia Tak Menentu, Saatnya Masyarakat Tancap Gas Ubah Pola Konsumsi BBM Jadi Lebih Irit

Beraupost • Senin, 6 April 2026 | 05:00 WIB
ILUSTRASI: Masyarakat membeli BBM untuk kebutuhan kendaraannya. (Humas Pertamina Patra Niaga)
ILUSTRASI: Masyarakat membeli BBM untuk kebutuhan kendaraannya. (Humas Pertamina Patra Niaga)

BERAU POST - Tekanan krisis energi dan perubahan iklim semakin jelas. Bagaimana menggunakan bahan bakar minyak (BBM) hari ini sangat menentukan kualitas hidup untuk masa depan.

Perubahan perilaku dengan mengonsumsi BBM secara bijak menjadi usaha untuk menyelamatkan masa depan dan generasi penerus negeri ini.

Direktur The Climate Reality Project Indonesia Amanda Katili Niode berpendapat isu bijak menggunakan BBM seharusnya bukan lagi sekadar wacana, melainkan harus menjadi realitas yang harus dijalani.

Konsumsi BBM masyarakat memiliki hubungan yang sangat langsung dengan krisis iklim.

“Setiap liter BBM yang kita bakar, berarti kita menambah emisi gas rumah kaca ke atmosfer. Dampaknya nyata dan kita sudah merasakannya,” ujar Amanda Katili Niode. 
 
Cuaca ekstrem, musim yang semakin sulit diprediksi, banjir di satu wilayah, dan kekeringan di wilayah lain, semua itu bukan lagi ancaman masa depan. Itu adalah kenyataan hari ini. 

Dalam konteks ini, Amanda menyebut kebiasaan sehari-hari masyarakat, termasuk penggunaan BBM, menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan.

Bijak Bukan Berarti Mengorbankan

Amanda sangat mendukung kampanye penggunaan BBM secara bijak. Namun, bijak bukan berarti membatasi secara kaku, melainkan menggunakan energi dengan kesadaran penuh.

“Ini bukan soal melarang orang menggunakan kendaraan, tetapi bagaimana kita menggunakan energi secara efisien dan bertanggung jawab,” jelasnya.

Langkah sederhana seperti mengurangi perjalanan yang tidak perlu, berbagi kendaraan, hingga beralih ke transportasi umum bisa menjadi bagian dari solusi.

Menurut Amanda, perubahan besar justru lahir dari akumulasi tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten oleh banyak orang.

Kondisi krisis energi global saat ini, menurut Amanda, seharusnya menjadi titik balik untuk melakukan hemat dan bijak dalam mengonsumsi BBM.

Ketika harga BBM naik atau pasokan terganggu, masyarakat dipaksa untuk meninjau ulang pola konsumsi yang selama ini dianggap normal.

“Ini momentum untuk berubah. Kita tidak bisa terus mengandalkan sumber energi yang terbatas dan merusak lingkungan,” ujarnya.
 
Ia melihat kampanye menggunakan BBM dengan bijak sebagai pintu masuk untuk membangun kesadaran yang lebih luas tentang keberlanjutan. Bukan sekadar respons sesaat, tetapi awal dari perubahan gaya hidup.

Amanda juga menggarisbawahi bahwa dampak konsumsi BBM berlebih tidak berhenti pada isu lingkungan global. Dampaknya dapat merembet kepada kualitas hidup manusia.

Polusi udara meningkat, risiko penyakit pernapasan bertambah, dan ekosistem semakin tertekan. Dalam jangka panjang, kondisi ini akan memengaruhi ketersediaan air, ketahanan pangan, hingga stabilitas ekonomi.

“Yang sering kita lupakan, generasi mendatang akan menanggung beban terbesar dari keputusan kita hari ini. Jadi mari kita mulai bersikap bijak dalam menggunakan BBM hari ini,” katanya. (jpg/smi)

Editor : Nurismi
#krisis energi #bbm #hemat