BERAU POST – Badan Pusat Statistik (BPS) Berau mencatat pergerakan inflasi pada November menunjukkan tren peningkatan dibanding bulan sebelumnya.
Kondisi ini tidak terlepas dari pengaruh cuaca ekstrem sejak Oktober dan kenaikan harga emas perhiasan di tingkat konsumen.
Kepala BPS Berau, Yudi Wahyudin menyampaikan fenomena yang muncul pada November ini sebagian besar masih berkaitan dengan dinamika pasokan komoditas pangan. Terutama sektor perikanan, serta harga komoditas yang dipengaruhi pasar global.
Curah hujan yang tinggi dalam dua bulan terakhir berdampak langsung terhadap aktivitas penangkapan ikan di laut.
Nelayan kesulitan berlayar akibat kondisi ombak yang tinggi dan cuaca yang tidak menentu.
Faktor ini kemudian memengaruhi pasokan ikan layang yang menjadi salah satu komoditas utama bagi masyarakat.
“Masih tingginya curah hujan yang terjadi sejak Oktober lalu, memberikan dampak yang masih sama pada aktivitas penangkapan ikan laut, utamanya ikan layang,” ungkapnya kepada Berau Post, Jumat (5/12).
Penurunan pasokan ini disebut cukup signifikan sehingga mendorong kenaikan harga ikan layang di pasaran.
Selain itu, perubahan kualitas air yang mempengaruhi pola migrasi ikan juga disebut berkontribusi terhadap menurunnya hasil tangkapan nelayan.
Selain itu, melemahnya nilai tukar dolar Amerika Serikat masih menjadi faktor utama mendorong kenaikan harga emas dunia.
Kondisi tersebut kemudian berdampak pada naiknya harga emas perhiasan di tingkat konsumen.
“Dua fenomena itu yang memengaruhi tingkat inflasi pada November,” ungkapnya.
Lanjutnya, inflasi tahun ke tahun atau year on year pada November tercatat sebesar 2,76 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) berada pada angka 110,04.
Dibandingkan dengan Oktober, angka ini mengalami peningkatan karena pada bulan sebelumnya inflasi tahunan berada pada posisi 1,78 persen.
Dari sisi inflasi bulanan atau month to month, tercatat inflasi sebesar 0,74 persen, sedangkan inflasi sejak awal tahun atau year to date tercatat 2,59 persen.
“Di Kaltim tingkat inflasi tahunan terjadi sebesar 2,28 persen dan inflasi bulanan sebesar 0,41 persen dengan IHK berada di angka 109,03,” ucapnya.
Yudi menjelaskan, kenaikan harga sejumlah kelompok pengeluaran menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan bulan ini.
Kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang tertinggi dengan kenaikan indeks 6,98 persen.
Adapun komoditas yang paling dominan memberikan andil inflasi tahunan antara lain ikan layang, emas perhiasan, udang basah, ikan tongkol, ikan bandeng, sigaret kretek mesin (SKM), beras, ikan kembung, minyak goreng, nasi lauk, obat dengan resep, serta beberapa bahan pangan segar seperti wortel, kangkung, bayam, dan tomat.
“Harga emas perhiasan turut memberikan sumbangan inflasi, karena dipengaruhi melemahnya kurs dolar Amerika Serikat terhadap rupiah yang berdampak pada kenaikan harga emas dunia,” bebernya.
Selain komoditas pangan dan emas, beberapa faktor lain juga menyumbang inflasi, meski tidak sebesar sektor makanan.
Kelompok kesehatan, jasa keuangan, restoran, serta kelompok perawatan pribadi juga mencatat kenaikan.
Pada kelompok terakhir, kenaikan tertinggi berasal dari produk kebutuhan harian seperti pasta gigi, sabun, dan barang perawatan diri lainnya.
Sementara itu, kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks antara lain transportasi, rekreasi, budaya, dan pendidikan.
Penurunan harga tiket angkutan udara menjadi faktor utama di kelompok transportasi yang mencatat deflasi sebesar 2,93 persen.
Dari sisi komoditas penyumbang penurunan harga, BPS mencatat beberapa bahan pangan mengalami deflasi tahunan seperti angkutan udara, tomat, laptop/notebook, pisang, cabai rawit, makanan hewan peliharaan, hingga ikan nila dan sepatu anak.
“Penurunan ini menunjukkan pasokan komoditas tertentu dalam kondisi cukup stabil pada periode pemantauan,” katanya.
Meski sejumlah kelompok pengeluaran menunjukkan penurunan harga, tekanan inflasi dari sektor pangan masih dominan.
BPS menyatakan, pola ini perlu menjadi perhatian khusus menjelang masa libur akhir tahun ketika permintaan masyarakat biasanya meningkat.
Sementara itu, jika dilihat antara wilayah di Kaltim, pada November, tingkat inflasi tahunan tertinggi terjadi di Kabupaten Berau sebesar 2,76 persen. Sedangkan, terendah terjadi di Kota Samarinda sebesar 2,10 persen.
“Pada tingkat inflasi bulanan tertinggi terjadi di Kabupaten Berau sebesar 0,74 persen, dan terendah terjadi di Kabupaten Penajam Paser Utara sebesar 0,14 persen,” paparnya. (aja/arp)
Editor : Nurismi