BERAU POST - Perawatan gigi saat ini tidak hanya bertujuan untuk kesehatan saja tetapi juga menambah kecantikan saat senyum.
Salah satunya dengan menggunakan veneer yang kini sangat populer, terutama di kalangan masyarakat yang mendambakan senyum putih dan rapi secara instan.
Meski menawarkan hasil estetika yang cepat dan menawan, penggunaan veneer tidak lepas dari risiko, salah satunya adalah bau mulut (halitosis).
Banyak orang tidak menyadari bahwa di balik senyum indah yang dihasilkan oleh veneer, bisa saja tersembunyi masalah kesehatan mulut yang serius jika tidak dirawat dengan benar.
Dokter Gigi spesialis Prostodonsia sekaligus owner Praktek Dokter Gigi Spesialis ( Dentsmart Dental Care Specialist), drg. Rustan Ambo Asse Sp.Pros menerangkan bau mulut akibat veneer bukan disebabkan oleh bahan veneer itu sendiri.
Melainkan penyebabnya multifaktor, bisa disebabkan oleh prosedur perawatan yang tidak tepat, perawatan veneer yang tidak presisi, kondisi gigi hingga rongga mulut yang tidak terawat.
Misalnya, seperti masih adanya sisa akar gigi (karang gigi) yang tidak dibersihkan serta kebiasaan perawatan atau kontrol veneer yang tidak rutin.
Hal ini bisa sangat mengganggu, tidak hanya bagi pemilik veneer tetapi juga orang-orang di sekitarnya.
Oleh karena itu, penting untuk memahami penyebab-penyebab bau mulut yang dapat muncul setelah pemasangan veneer agar dapat dicegah sejak dini di antaranya sebagai berikut:
1. Pemasangan Veneer ke Dokter gigi atau yang Berkompeten
Salah satu penyebab utama bau mulut pada pengguna veneer adalah pemasangan yang tidak sesuai dengan prosedur.
drg.Rustan mengatakan, jika veneer tidak terpasang dengan rapat atau terdapat celah antara veneer dan gigi asli.
Maka sisa makanan dan bakteri bisa masuk dan tertinggal di sana. Pasalnya, celah ini menjadi tempat ideal bagi bakteri berkembang biak dan menyebabkan bau tidak sedap.
"Biasanya ini karena orang yang memasang tidak kompeten, sehingga pemasangannya tidak presisi atau tidak sesuai dengan tahapan medis sehingga pemasangan veneer tersebut tidak rapat, dan kalau yang melakukan bukan ahlinya biasanya tidak hanya alat yang mungkin tidak steril tapi juga prosedur perawatan medis yang dilakukan tidak legeartis sehingga veneer yang dibuat pun menyebabkan bau mulut," jelasnya kepada Berau Post, saat ditemui di Klinik Gigi, Dentsmart Dental Care Specialist, Tanjung Redeb, Senin (21/7).
2. Penumpukan Plak dan Karang Gigi
Veneer tetap membutuhkan perawatan mulut yang optimal. Apabila pengguna malas membersihkan gigi dan mulut dengan menyikat gigi dan atau pemanfaatan benang gigi (dental floss) atau tidak rutin melakukan scaling, maka plak dan karang bisa menumpuk di sekitar veneer.
Penumpukan ini menjadi sumber utama bau mulut karena mengandung bakteri anaerob yang menghasilkan senyawa sulfur berbau busuk.
"Prinsipnya gigi dan mulut yang kebersihan nya terjaga pasti tidak menyebabkan bau mulut. Jadi sumber-sumber bau mulut itu salah satunya karang gigi. Dan saat pemasangan veneer pun itu prinsipnya gigi harus clean dan clear, dalam artian sebelum pemasangan veneer kondisi kesehatan gigi yang lain harus terjaga dengan baik tidak boleh ada sisa akar gigi, karang gigi dan gigi lain yang berlubang ,tentu dokter gigi yang kompeten dia akan memeriksa secara komperhensif dan memberikan gambaran utuh terkait perencanaan perawatan veneer yang ideal itu seperti apa ," imbuhnya.
3. Radang Gusi atau Gingivitis
Veneer yang tidak disesuaikan dengan baik dapat menekan gusi atau menyebabkan iritasi.
Kondisi ini dapat memicu peradangan atau infeksi gusi. Radang gusi atau gingivitis sering kali menyebabkan bau mulut karena jaringan gusi yang terinfeksi menghasilkan bau tidak sedap.
"Jadi yang perlu diperhatikan juga yaitu saat ingin memasang veneer harus dengan ahlinya, atau dokter gigi yang sudah berpengalaman, sehingga saat perawatan veneer harus benar-benar sesuai dengan indikasi medis dan protokol pembuatan veneer yang benar dan sangat presisi baik dari bentuk, anatomi, dan warna " kata dia,
4. Karies Gigi pada Bagian Gigi yang di Veneer
Penyebab selanjutnya yaitu karies gigi pada gigi yang di veneer. Meski veneer menutupi bagian depan gigi, gigi asli di baliknya tetap bisa mengalami kerusakan seperti karies (gigi berlubang).
"Jika kerusakan ini tidak terdeteksi sejak awal, maka bakteri dari lubang gigi bisa menyebabkan infeksi dan bau mulut. Dan itu banyak terjadi pada pasien-pasien yang datang ke praktek setelah dilakukan pemeriksaan ternyata veneer nya tidak presisi , terdapat karies atau berlubang pada margin veneer," tuturnya.
5. Kebersihan Mulut yang Buruk
Beberapa orang mengira bahwa setelah menggunakan veneer, perawatan gigi menjadi lebih mudah.
Padahal sebaliknya, veneer justru memerlukan perawatan ekstra. Tidak menjaga kebersihan gigi dan mulut secara menyeluruh dapat menyebabkan kerusakan pada veneer.
Karies penumpukan plak dan karang gigi yang pada akhirnya mengakibatkan bau mulut yang kronis.
"Jadi perawatan pada veneer itu harus sangat diperhatikan beberapa hal, dokter yang kompeten, prosedur dan protokol yang eviden based dan setelah pemasangan bahkan dianjurkan kontrol selama 24 jam pertama lalu satu minggu setelahnya kontrol lagi, kemudian diwajibkan lagi kontrol setiap tiga bulan sekali untuk mengecek kebersihan pada mulut pengguna veneer tersebut," tandasnya.
Veneer gigi memang dapat meningkatkan kepercayaan diri dengan memperbaiki tampilan senyum.
Namun, jika tidak dipasang dengan tepat atau tidak dirawat dengan benar, veneer bisa menjadi sumber bau mulut yang mengganggu.
Oleh karena itu, penting untuk melakukan pemasangan veneer di klinik gigi yang terpercaya dan menjaga kebersihan mulut secara menyeluruh setelah prosedur.
Dengan perawatan yang baik, veneer tidak hanya mempercantik senyum tetapi juga menjaga kesehatan mulut secara keseluruhan. (nad/smi)