Titik Panas Minim Tapi Udara Masih Buruk, Asap Kiriman dari Kalteng Diduga Terbawa Angin ke Berau

Nurismi • Dipublikasikan Senin, 12 Oktober 2026 | 17:01 WIB
ILUSTRASI: Titik panas akibat karhutla di Berau menurun, namun kualitas udara masih memburuk diduga akibat asap kiriman. (BERAU POST)
ILUSTRASI: Titik panas akibat karhutla di Berau menurun, namun kualitas udara masih memburuk diduga akibat asap kiriman. (BERAU POST)

BERAU POST – Jumlah titik panas (hotspot) yang terpantau di Kabupaten Berau dilaporkan minim dan cenderung menurun. Namun, kondisi kualitas udara justru masih dinilai buruk, hal itu memunculkan dugaan adanya asap kiriman dari luar daerah.

Menurut Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Berau, Zulkifli Azhari, apabila sumber asap hanya berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Berau, berkurangnya titik panas semestinya menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan dalam mengevaluasi kondisi udara. Meski begitu, asal asap belum dapat dipastikan tanpa dukungan data pengukuran yang memadai.

“Kalau melihat pemantauan titik panas, jumlahnya di Berau minim dan semakin berkurang. Titik panas yang terpantau juga relatif kecil,” ujarnya, beberapa waktu lalu.

Kondisi tersebut memunculkan indikasi kemungkinan asap dari luar wilayah Berau turut memengaruhi kualitas udara.

Namun, dugaan asap kiriman itu masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan sumber dan pengaruhnya terhadap kondisi udara di Bumi Batiwakkal.

Di tengah kondisi tersebut, DLHK Berau menghadapi kendala dalam melakukan pengukuran kualitas udara karena persediaan saringan alat pengukuran telah habis.

Padahal, data kualitas udara diperlukan untuk mengetahui tingkat pencemaran sekaligus memantau perubahan kondisi lingkungan secara berkala.

Pihaknya telah mengusulkan kepada Kementerian Lingkungan Hidup agar pengukuran kualitas udara dapat dilakukan secara otomatis dengan pembaruan data setiap hari.

Pemantauan berkelanjutan memang membutuhkan biaya yang tidak sedikit, tetapi penting untuk memperoleh gambaran kondisi udara yang lebih akurat.

Sementara Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Berau, Rakhmadi Pasarakan, menyebut titik panas di wilayah tersebut tersisa 3 titik per 10 Oktober 2026. “Titik panas di Berau hampir tidak ada,” terang Rakhmadi.

Di sisi lain, dampak asap masih dirasakan di Berau, sehingga kemungkinan adanya kiriman asap dari luar wilayah menjadi perhatian.

Berdasarkan data pengamatan cuaca selama tiga hari terakhir, suhu maksimum tercatat mencapai 31,6 derajat Celsius. Jarak pandang berada pada kisaran 1,2 hingga 6 kilometer, dengan kondisi cuaca yang teramati berupa asap (smoke), kabut tipis (mist), dan hujan ringan.

Adapun lecepatan angin permukaan berkisar 2–7 kilometer per jam, dengan arah angin dominan dari barat. Menurut Rakhmadi, arah pergerakan angin tersebut memperkuat indikasi kemungkinan asap berasal dari luar Berau, termasuk dari wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng).

“Kalau melihat pergerakan angin dari barat kemungkinan besar dari Kalteng,” bebernya.

Pihaknya juga mengimbau masyarakat dan seluruh pihak terkait agar tidak melakukan pembakaran lahan maupun aktivitas lain yang berpotensi memicu karhutla, terlebih di wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan meteorologis. (aja/sam)

Editor : Nurismi
Disdamkarmat Berau karhutla