BERAU POST – Pemerintah Kabupaten Berau masih mewaspadai potensi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di tengah musim kemarau yang berlangsung cukup panjang.
Meski jumlah titik panas atau hotspot mengalami penurunan signifikan, kondisi kemarau dinilai tetap berpotensi memicu munculnya titik api di sejumlah titik.
Bupati Berau, Sri Juniarsih, mengatakan, kemarau yang berlangsung saat ini menjadi tantangan tersendiri bagi Bumi Batiwakkal.
Selain meningkatkan potensi karhutla, kondisi tersebut juga menyebabkan munculnya kabut asap yang berdampak terhadap kesehatan dan aktivitas masyarakat.
Situasi pun sempat cukup serius. Berdasarkan data per 29 Agustus 2026, jumlah hotspot di Berau mencapai 779 titik. Angka tersebut sekaligus menjadi yang tertinggi di Kalimantan Timur pada saat itu.
“Namun, perkembangan kondisi terbaru menunjukkan adanya penurunan,” katanya kemarin (14/9).
Berdasarkan data BMKG Kalimantan Timur periode 9 September 2026, jumlah hotspot di Berau tercatat sisa 50 titik. Berau berada di posisi kedua di Kalimantan Timur setelah Kutai Kartanegara yang memiliki 64 titik panas.
Dari 50 titik panas yang tercatat di Berau, 4 titik berada pada tingkat kepercayaan rendah, 45 titik pada tingkat kepercayaan menengah, dan 1 titik pada tingkat kepercayaan tinggi.
“Penurunan jumlah hotspot tersebut terjadi setelah sebelumnya kebakaran hutan dan lahan meluas,” terangnya.
Dalam beberapa waktu terakhir, hujan juga mulai turun di sejumlah wilayah Berau. Meski intensitasnya masih kecil dan belum merata, hujan dinilai membantu menurunkan panas serta memberikan kelembapan pada tanah.
Kendati begitu, pemerintah daerah tidak ingin lengah. Kondisi kemarau masih perlu diwaspadai karena perubahan kelembapan tanah dapat kembali memicu munculnya titik api.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, tim gabungan masih disiagakan. Pemerintah daerah bersama BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran, TNI, Polri, Manggala Agni, pihak swasta, dan unsur terkait lainnya terus melakukan pemantauan serta penanganan di lapangan.
“Upaya penanganan dilakukan melalui pemadaman dan pemantauan titik-titik api. Termasuk mendapat dukungan melalui water bombing dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC),” sebutnya.
Di sisi lain, dirinya menyampaikan apresiasi kepada seluruh petugas yang selama ini berada di lapangan. Menurutnya, para petugas bekerja dalam kondisi panas dan kepulan asap untuk mengendalikan kebakaran sekaligus melindungi masyarakat.
Pun pemerintah daerah juga memperhatikan dampak kabut asap terhadap aktivitas warga. Ketika kualitas udara memburuk, pemerintah mengambil langkah perlindungan khususnya terhadap anak-anak, melalui kebijakan Belajar Dari Rumah (BDR).
Masyarakat juga diminta menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan, mengurangi kegiatan di luar rumah, serta menjaga kesehatan.
“Koordinasi dengan pemerintah pusat turut dilakukan,” ujarnya.
Terlebih beberapa waktu lalu dirinya telah berkoordinasi langsung dengan Menteri Kehutanan untuk menyampaikan kondisi yang dihadapi Kabupaten Berau, sekaligus mendorong dukungan penanganan yang lebih kuat.
Koordinasi juga terus dilakukan dengan pemerintah pusat, pemerintah provinsi, aparat keamanan, dunia usaha, dan berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap persoalan karhutla.
Sri menegaskan, pemerintah daerah akan terus berada di lapangan untuk memastikan langkah penanganan berjalan. Namun, upaya tersebut membutuhkan dukungan masyarakat.
Masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran yang dapat memicu kebakaran, segera melaporkan apabila menemukan titik api, serta menjaga suasana tetap kondusif.
“Yang kita jaga bukan hanya hutan dan lahan. Yang kita jaga adalah udara yang kita hirup, kesehatan keluarga kita, aktivitas ekonomi masyarakat kita, dan masa depan anak-anak kita,” kata Sri.
Sebelumnya, Wakil Bupati (Wabup) Berau, Gamalis, menekankan pentingnya kolaborasi seluruh unsur dalam menangani karhutla yang terjadi di Berau. Kondisi cuaca ekstrem yang memicu kebakaran saat ini membutuhkan keterlibatan seluruh pihak tanpa sekat sektoral.
Gamalis mengatakan, kondisi karhutla yang terjadi saat ini tergolong ekstrem. Bahkan menurutnya, kondisi seperti ini baru kembali dirasakan tahun ini setelah 7 tahun lalu.
“Karhutla yang ekstrem per tujuh tahun baru kali ini. Tapi memang yang tahun ini lebih ekstrem,” ujarnya.
Dengan kondisi itu, ia meminta seluruh unsur yang memiliki kemampuan maupun unit pemadam kebakaran untuk bergerak bersama. Tidak hanya BPBD dan Disdamkarmat, tetapi juga Manggala Agni, KPHP, relawan pemadam kebakaran (Redkar), TNI/Polri hingga masyarakat peduli api (MPA).
Ia menegaskan, penanganan api harus menjadi prioritas. Karena itu, seluruh pihak diminta tidak terjebak pada persoalan mengenai sumber atau penyebab kebakaran.
“Kita harus selalu bersatu. Jangan dilihat penyebabnya dulu, yang jelas Kaltim khususnya Berau sedang terbakar. Kita tidak usah sibuk mencari penyebabnya, yang jelas api harus mati,” tegasnya.
Diakuinya, pengaruh persoalan ego sektoral justru dapat menghambat penanganan di lapangan. Jika setiap unsur bergerak sendiri-sendiri, upaya pemadaman dinilai tidak akan berjalan maksimal.
“Kita harus berkolaborasi. Kalau kita masih ego sektoral dan bergerak masing-masing, yakinlah tidak akan selesai di lapangan. Jangan menyekatkan diri,” katanya.
Ia berharap tidak ada sekat di antara seluruh unsur yang terlibat dalam pemadaman. Koordinasi dan kekompakan menjadi hal penting agar penanganan karhutla dapat dilakukan secara bersama.
Dirinya juga menyoroti ketersediaan armada dan peralatan pemadam kebakaran. Ia menilai jumlah armada yang dimiliki OPD saat ini masih perlu diperkuat, terutama dengan kondisi kebakaran yang terjadi.
“Kalau melihat armada ini relatif dengan kondisi kebakaran hari ini, yang jelas kita butuh bantuan perusahaan untuk mengirimkan armadanya,” ujarnya. (aja/sam)
Editor : Nurismi