Titik Panas Meningkat Tajam di Kaltara, Dishut Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Ancaman Karhutla

HARIAN RAKYAT KALTARA - Dinas Kehutanan (Dishut) Kalimantan Utara (Kaltara) memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).
Langkah tersebut dilakukan menyusul meningkatnya jumlah titik panas (hotspot) yang terdeteksi sepanjang Agustus-September 2026.
Berdasarkan pemantauan satelit Terra Aqua, SNPP dan NOAA20 NASA dengan tingkat kepercayaan tinggi (High Confidence Level), tercatat 183 titik panas di Kaltara sepanjang Agustus. Jumlah tersebut meningkat tajam dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.
Sementara hingga 11 September 2026, kembali terdeteksi 71 titik panas. Dengan demikian, terdapat 254 hotspot pada periode Agustus-11 September.
Kepala Bidang Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDE) Dishut Kaltara Maryanto mengatakan, peningkatan tersebut menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
Meski secara nasional jumlah hotspot Kaltara masih relatif rendah, kondisi tersebut tidak boleh membuat kewaspadaan menurun.
“Jumlah hotspot kita memang masih lebih rendah dibanding beberapa provinsi lain. Namun, kenaikan pada Agustus harus menjadi perhatian. Kita tidak boleh lengah,” ujarnya, Senin (14/9).
Data rekapitulasi Sistem Monitoring Karhutla (Sipongi) Kementerian Kehutanan menunjukkan, jumlah hotspot Kaltara sepanjang awal tahun relatif rendah.
Pada Januari tercatat satu titik, Februari satu titik, Maret dua titik, April 10 titik. Kemudian pada Mei delapan titik, Juni tiga titik dan Juli tiga titik.
“Lonjakan kemudian terjadi pada Agustus dengan 183 titik panas. Angka tersebut kembali bertambah 71 titik hingga 11 September. Secara nasional, berdasarkan data yang menjadi acuan Dishut Kaltara, tercatat 34.404 hotspot di Indonesia. Kaltara berada di peringkat ke-19 dalam jumlah titik panas tersebut,” sebutnya.



