BERAU POST – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Berau mulai menggunakan peat injection untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan gambut.
Peralatan khusus tersebut digunakan untuk membasahi lahan hingga ke bawah permukaan, sebagai upaya mengatasi kebakaran gambut yang terjadi di sejumlah titik.
Kepala BPBD Berau, Masyhadi Muhdi, mengatakan, pihaknya telah melakukan uji penggunaan peat injection di Kampung Sukan Tengah. Penanganan tersebut dilakukan selama tiga hari.
Dari pelaksanaan awal, BPBD berharap metode tersebut dapat memberikan hasil yang baik, sehingga penggunaannya bisa diperluas ke sejumlah lokasi lain seperti di Limunjan, Tumbit Melayu, dan Sei Bebanir Bangun.
Ia menyebut saat ini BPBD memiliki tiga unit, sementara KPH memiliki dua unit peralatan. "Tapi satu hal yang menjadi kendala adalah keterbatasan sumber air," katanya kemarin (8/9).
Ketersediaan air menjadi faktor penting, karena proses pembasahan lahan gambut menggunakan peat injection dilakukan secara terus-menerus hingga bagian bawah permukaan. Karena itu, dibutuhkan sumber air yang dapat mendukung proses pembasahan secara berkelanjutan.
“Kita membasahi terus di bawah permukaan, sehingga perlu ketersediaan air yang berkelanjutan,” tegasnya.
Sebelumnya Wakil Bupati Berau, Gamalis, mengatakan, kondisi El Nino belum mencapai puncaknya, sehingga kewaspadaan terhadap ancaman karhutla perlu terus ditingkatkan.
Di sisi lain khususnya personel, kesiapan di lapangan relatif telah tersedia. Sejumlah unsur telah dilibatkan dalam upaya pencegahan maupun penanganan karhutla, mulai dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pemadam kebakaran, Manggala Agni, Redkar, Masyarakat Peduli Api (MPA), KPHP, TNI-Polri hingga masyarakat.
Namun sarana dan prasarana yang masih menjadi salah satu kendala yang perlu mendapat perhatian dalam menghadapi potensi karhutla di Berau.
“Permasalahannya sekarang adalah infrastruktur. Kita yang masih belum memadai,” tegasnya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena titik panas yang berada di sekitar wilayah Berau cukup banyak. Penanganan kebakaran juga tidak bisa diselesaikan hanya dengan memadamkan api yang terlihat di permukaan.
Adapun karakteristik lahan gambut membuat api dapat bertahan di bawah permukaan. Kondisi itu membuat penanganan kebakaran menjadi lebih sulit dan membutuhkan kesiapsiagaan serta dukungan sarana yang memadai. (aja/sam)
Editor : Nurismi