Di tengah kemajuan zaman, barang mudah dibeli dengan kualitas terbaik. Namun di Kampung Sei Bebanir Bangun, Sambaliung, masyarakat memanfaatkan alam untuk membuat kerajinan yang menghasilkan pundi rupiah bagi warga sekitar.
MAULID HIDAYAT
Suara mesin jahit dan juga tawa masih terdengar di Gedung Basusuyan, Kampung Bangun. Manajemen Pamapersada Nusantara Distrik BRCG membaur dengan warga, belajar keterampilan menganyam.
Selama enam hari, pada 31 Agustus hingga 5 September, para pengrajin mengikuti pendampingan untuk memperkuat keterampilan menganyam sekaligus mengembangkan produk turunan yang lebih beragam.
Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Pelatihan Kerajinan Anyaman yang dilaksanakan pada Desember 2025 lalu, sekaligus bagian dari pelaksanaan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara PT Pamapersada Nusantara Site BRCG dengan Dekranasda Berau.
Kerja sama tersebut menjadi salah satu ruang kolaborasi dalam mendorong pengembangan kerajinan masyarakat, termasuk di Kampung Sei Bebanir Bangun yang berada di wilayah lingkar tambang PAMA BRCG.
Melalui kolaborasi ini, pengembangan kerajinan diarahkan tidak hanya pada peningkatan keterampilan menganyam, tetapi juga pada penguatan kapasitas pengrajin, pengembangan produk, dan upaya membuka peluang agar produk lokal dapat berkembang secara berkelanjutan.
Dalam pendampingan tahap pertama, para peserta tidak hanya kembali mengasah teknik menganyam, tetapi juga belajar mengolah anyaman menjadi berbagai produk turunan seperti tas, dompet, sandal, sampul buku, dan produk lainnya.
Proses pembelajaran juga mendorong para pengrajin melihat anyaman dari sisi bentuk, fungsi, hingga potensi pengembangannya sebagai produk yang memiliki nilai ekonomi.
Sebanyak 13 peserta terdiri dari 12 perempuan dan 1 laki-laki mengikuti kegiatan ini. Enam di antaranya merupakan pengrajin lanjut usia.
Meski demikian, usia tidak menjadi penghalang untuk terus belajar dan mencoba berbagai bentuk pengembangan produk.
Salah satu peserta, Hendrawati, mengatakan, pendampingan yang diikutinya itu memberikan pengalaman baru dalam mengembangkan kerajinan anyaman.
“Kami mendapat banyak ilmu dari Danang, terutama dalam berpikir lebih kreatif dan mengelola produk anyaman,” ucapnya bangga.
“Ternyata dari satu bahan bisa dikembangkan menjadi berbagai macam produk seperti tas, dompet, sampai sampul buku. Kami jadi lebih tahu bagaimana membuat produk yang lebih menarik dan punya nilai jual,” tambahnya.
Dengan memanfaatkan kekayaan alam yang ada di kampung tersebut. Masyarakat kini punya daya ekonomi yang ke depannya bisa dilirik pasar internasional. Tidak bergerak sendiri, bantuan “plat merah” juga perusahaan menjadi jembatan bagi masyarakat.
Tidak hanya kaula muda, seorang nenek yakni Hajrah juga tampak antusias belajar menganyam. Meski matanya sudah tidak setajam beberapa tahun lalu, namun keuletannya mengalahkan kekuranhannya saat ini.
“Kami tetap semangat untuk belajar dan membuat produk anyaman. Walaupun sudah lanjut usia, kami ingin terus berusaha dan menghasilkan karya yang lebih baik,” tuturnya.
Pendampingan menghadirkan Danang Sudrajat dari Kampoeng Anyaman Kebumen, Jawa Barat, sebagai instruktur. Selain memperkuat teknik menganyam, peserta diperkenalkan pada pengembangan berbagai produk turunan dengan memperhatikan bentuk, fungsi, dan proses produksinya.
Pelaksanaan kegiatan melibatkan sejumlah pihak dengan peran yang saling melengkapi. Pemerintah Kampung Sei Bebanir Bangun mendukung kegiatan melalui pengorganisasian masyarakat sekaligus penyediaan tempat pelatihan. Dekranasda Kabupaten Berau turut terlibat dalam monitoring kegiatan.
Sementara itu, PAMA bersama LPB PAMA Bakat Batiwakkal memfasilitasi pelatihan, penguatan kapasitas, instruktur, alat dan bahan, serta dua unit mesin jahit untuk mendukung proses produksi.
Kepala Kampung Bangun, Muchlistriyadi, melihat pendampingan tersebut sebagai salah satu langkah yang dapat memperkuat kegiatan ekonomi masyarakat di kampung.
“Kami mengapresiasi dan mendukung langkah PAMA dalam memberikan dampak ekonomi kepada masyarakat sekitar. Masyarakat di sini memiliki keterampilan, dan pendampingan seperti ini membantu mereka mengembangkan keterampilan tersebut menjadi sesuatu yang lebih produktif,” ujarnya.
Menurut CSR Officer PAMA, Adzkia Yeza, proses pengembangan kerajinan masyarakat membutuhkan keterlibatan dan peran berbagai pihak secara bertahap.
“Bagi kami, pendampingan bukan hanya soal menambah jenis produk, tetapi membangun proses produksi yang lebih siap dan konsisten. Setelah itu, pengembangan pasar menjadi langkah berikutnya. Jadi prosesnya memang bertahap, mengikuti kesiapan pengrajin dan kapasitas yang sedang dibangun,” jelasnya.
Pendampingan tahap pertama selama enam hari ini menjadi awal dari rangkaian kegiatan yang akan diagendakan kembali secara bertahap hingga akhir tahun.
Pada tahap berikutnya, pendampingan akan lebih diarahkan pada standardisasi langkah kerja, peningkatan kualitas dan standardisasi produk, serta pengembangan produk yang lebih variatif.
Sejalan dengan penguatan kapasitas produksi, proses selanjutnya juga akan diarahkan pada pengembangan akses pasar.
Pemetaan calon pasar, penjajakan peluang kemitraan, serta pengenalan produk kepada pasar yang sesuai akan menjadi bagian dari proses pengembangan agar produk yang dihasilkan tidak berhenti pada tahap pelatihan, tetapi memiliki ruang untuk tumbuh dan menjangkau pasar yang lebih luas.
Bagi para pengrajin, proses ini bukan semata tentang menghasilkan produk baru. Pendampingan menjadi ruang untuk mengasah keterampilan, mencoba bentuk-bentuk baru, dan mengembangkan kerajinan yang telah tumbuh di masyarakat menjadi produk yang semakin beragam.
Melalui proses yang dilakukan secara bertahap dan kolaboratif, keterampilan anyaman di Sei Bebanir Bangun terus dikembangkan sebagai potensi lokal yang dapat memberi nilai tambah bagi masyarakat dan membuka peluang ekonomi yang lebih luas. (adv/sam)
Editor : Nurismi