Intrusi Air Laut Ancam Pasokan Bersih, Operasional IPA Gurimbang Berau Berangsur Normal

Nurismi • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 12:00 WIB
BERDAMPAK: Kemarau panjang mulai memengaruhi debit sumber air baku di Berau. (IZZA/BP)
BERDAMPAK: Kemarau panjang mulai memengaruhi debit sumber air baku di Berau. (IZZA/BP)

BERAU POST – Ancaman terhadap pasokan air bersih di Berau mulai terlihat seiring berlangsungnya musim kering.

Debit air tawar yang melemah disebut-sebut membuat air laut bergerak masuk ke badan sungai dan mencapai kawasan pengambilan air baku, salah satunya di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Gurimbang, Kecamatan Sambaliung.

Kondisi ini memaksa Perumda Air Minum Batiwakkal melakukan pengawasan terhadap kualitas air baku, untuk memastikan air yang masuk ke sistem pengolahan tetap memenuhi ketentuan sebelum didistribusikan kepada pelanggan.

Wakil Bupati Berau, Gamalis, telah melakukan pemeriksaan langsung untuk melihat perkembangan kualitas air, sekaligus memastikan perusahaan daerah tersebut tetap mampu menjaga pelayanan kepada masyarakat.

Ia mengatakan, sejumlah indikator kualitas air menjadi perhatian. Pemeriksaan dilakukan secara rutin lantaran perubahan kadar garam di sungai dapat terjadi sewaktu-waktu, terutama ketika pasang dan suplai air tawar dari hulu menurun.

Salah satu parameter yang menjadi acuan adalah Total Dissolved Solids (TDS). Adapun kadar TDS air baku di kawasan Gurimbang sempat menyentuh kisaran 1.700 ppm. Tingginya angka tersebut menunjukkan kuatnya pengaruh air laut yang masuk ke aliran sungai.

Situasi itu sebelumnya berdampak langsung terhadap pola pengoperasian IPA Gurimbang. Instalasi yang biasanya berjalan sepanjang hari, terpaksa mengurangi waktu produksi menjadi sekitar 12 jam. Sebagai langkah pengamanan ketika kualitas sumber air baku belum memungkinkan untuk diolah secara normal.

“Namun, hasil pemantauan terakhir menunjukkan kondisi mulai membaik. Kadar air asin yang sebelumnya meningkat kini menurun, sehingga pengoperasian IPA Gurimbang dapat kembali dilakukan selama 24 jam,” jelas Gamalis kemarin (6/9).

Selain itu, pemantauan kadar TDS akan dilakukan setiap jam, untuk mengetahui perubahan kondisi air. Agar perusahaan bisa segera menyesuaikan operasional jika kondisi air kembali berubah.

Pihaknya tetap mengutamakan keamanan dan kelayakan air sebelum didistribusikan kepada pelanggan.

Jika parameter kualitas air berada di luar batas yang diperbolehkan, operasional IPA akan dihentikan sementara sampai kondisi sumber air kembali aman untuk diproses.

“Masuknya air laut ke sungai tidak terlepas dari kondisi cuaca. Minimnya hujan menyebabkan dorongan air tawar dari kawasan hulu berkurang. Pada saat yang sama, pasang air laut membuat air asin dapat bergerak lebih jauh ke arah daratan,” terangnya.

Apalagi diketahui, IPA Gurimbang memiliki cakupan pelayanan yang cukup luas. Instalasi di sana tidak hanya memenuhi kebutuhan pelanggan di Kampung Gurimbang, tetapi juga ikut menopang distribusi air bersih ke sejumlah kampung lain, termasuk yang berada di Kecamatan Sambaliung.

Jika musim kering berlangsung lebih panjang, tentu akan berpotensi mengurangi debit air baku. Karena itu, kondisi cuaca dan sumber air harus diperhatikan untuk menjaga keberlangsungan pelayanan air bersih di Berau.

“Kami berharap hujan segera turun, terutama di daerah hulu. Tambahan debit air tawar diharapkan mampu memperkuat aliran sungai, sehingga pergerakan air laut dapat terdorong kembali ke arah laut,” harapnya.

Direktur Perumda Air Minum Batiwakkal Berau, Saipul Rahman, menjelaskan, kemarau panjang menjadi pemicu utama dua persoalan sekaligus.

“Kemarau membuat debit air baku di sumber-sumber kita menurun. Serta memicu potensi karhutla yang bisa menyebabkan intrusi air laut, sehingga menggangu keberlanjutan sumber air," ujarnya.

Pelayanan air minum bergantung pada rantai yang saling berkaitan. Mulai dari ketersediaan air baku, proses pengolahan, jaringan distribusi, hingga operasional di lapangan. Jika salah satu rantai terganggu, dampaknya akan langsung dirasakan pelanggan.

“Karhutla bukan hanya persoalan lingkungan. Kebakaran di sekitar daerah tangkapan air bisa mengurangi tutupan hutan, sehingga memengaruhi sumber air baku dan meningkatkan sedimentasi sungai, sehingga pada gilirannya dapat mengganggu proses produksi," jelasnya.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Perumda Batiwakkal terus berupaya menjaga kualitas dan kontinuitas pelayanan. Salah satunya dengan memantau kondisi lingkungan di sekitar sumber air dan menyiapkan skenario jika debit air baku terus menurun.

“Kalau sumber air dan lingkungan kita jaga, pelayanan kepada masyarakat juga bisa terus berjalan dengan baik,” tandasnya.

Dengan jumlah pelanggan mencapai puluhan ribu, keberlanjutan pelayanan Perumda Batiwakkal tentunya menjadi kepentingan publik. Pencegahan karhutla dan antisipasi dampak kemarau, dinilai bukan hanya untuk menjaga hutan dan lahan.

Pihaknya tetap meminta masyarakat menjaga penggunaan air. Pelanggan diimbau tidak menggunakan air secara berlebihan, agar pasokan yang tersedia dapat dibagi secara merata.

Selanjutnya, untuk mencuci kendaraan atau menyiram halaman dan jalan sebaiknya tidak dilakukan secara berlebihan, selama kondisi sumber air baku masih dipengaruhi kekeringan. (aja/sam)

Editor : Nurismi
Perumda Batiwakkal pasokan air bersih pemkab berau