Kadar Partikel Berbahaya Lampaui Ambang Batas, Warga Berau Diminta Batasi Aktivitas Luar

Nurismi • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 18:30 WIB
ILUSTRASI: Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan untuk menghindari paparan asap, menyusul dampak asap karhutla. (IZZA/BP)
ILUSTRASI: Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan untuk menghindari paparan asap, menyusul dampak asap karhutla. (IZZA/BP)

BERAU POST – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Berau mulai berdampak terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau juga diiringi dengan adanya peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) seiring meluasnya kejadian karhutla di 12 kecamatan.

Kepala Dinkes Berau, Lamlay Sarie, mengatakan, kondisi udara di Berau mengalami perubahan sejak karhutla terjadi. Asap yang menyelimuti sejumlah wilayah menjadi perhatian karena berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama penyakit yang berkaitan dengan sistem pernapasan.

Dijelaskan, pengukuran Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) secara resmi seharusnya dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK).

Namun, hingga saat ini Kabupaten Berau belum memiliki alat khusus untuk melakukan pemeriksaan ISPU. “Sehingga, kualitas udara luar ruangan belum dapat diukur secara langsung menggunakan parameter ISPU,” katanya Rabu (26/8).

Meski begitu, Dinkes Berau tetap melakukan pemantauan dengan memanfaatkan perangkat yang tersedia di setiap puskesmas.

Masing-masing puskesmas memiliki sanitarian kit yang dilengkapi alat untuk mengukur kadar Particulate Matter (PM) 2,5 atau partikel udara berukuran sangat kecil, yang dapat menjadi salah satu indikator tingkat pencemaran udara.

“Pengukuran yang dilakukan menggunakan alat tersebut lebih dikhususkan untuk mengetahui kondisi kualitas udara di dalam ruangan,” ungkapnya.

Dari hasil pemeriksaan PM 2,5 di sejumlah wilayah terdampak, ditemukan beberapa kampung yang kondisi udaranya telah berada di atas ambang batas baku mutu.

Pengukuran juga dilakukan di wilayah Tanjung Redeb pada Rabu (26/8), salah satunya dengan mengambil titik pemeriksaan di Gedung Kantor Dinas Kesehatan Berau.

Hasilnya cukup mengkhawatirkan. Pengukuran kualitas udara dalam ruangan di lokasi tersebut menunjukkan angka mencapai 1.050, jauh di atas ambang batas yang seharusnya berada di bawah 25 µm/m².

Temuan tersebut menjadi salah satu dasar pihaknya dalam melakukan analisis situasi kesehatan masyarakat di tengah kondisi karhutla.

Dengan kualitas udara yang memburuk, masyarakat dinilai perlu menyesuaikan aktivitas sehari-hari untuk mengurangi risiko terpapar asap.

Pemerintah Daerah pun telah mengeluarkan edaran bupati yang mengatur penyesuaian aktivitas masyarakat, sebagai langkah antisipasi terhadap dampak kesehatan akibat asap karhutla.

Peningkatan kasus ISPA juga menjadi indikator lain yang memperkuat adanya dampak kesehatan dari kondisi udara saat ini.

Berdasarkan laporan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR), sistem yang digunakan untuk memantau perkembangan penyakit, kasus ISPA di Berau menunjukkan tren peningkatan setelah karhutla mulai meluas.

Pada periode minggu ke-19 hingga minggu ke-23 tahun 2026, tercatat sebanyak 2.714 kasus ISPA. Angka tersebut kemudian meningkat menjadi 3.012 kasus pada minggu ke-24 hingga minggu ke-28.

Selanjutnya, pada minggu ke-29 hingga minggu ke-33 atau bulan Agustus, jumlah kasus kembali meningkat menjadi 3.587 kasus.

Jika dibandingkan dengan kondisi pada awal tahun, peningkatan tersebut terlihat cukup jelas. Adapun sejak minggu pertama hingga minggu ke-18 tahun 2026, jumlah kasus ISPA tidak menunjukkan peningkatan yang signifikan.

“Namun, mulai memasuki minggu ke-19, kasus mulai mengalami kenaikan,” bebernya.

Puncak peningkatan tercatat pada periode minggu ke-29 hingga minggu ke-33, yang mencapai 3.587 kasus. Periode tersebut bertepatan dengan kondisi karhutla yang semakin meluas dan kualitas udara di sejumlah wilayah Berau yang mulai dipengaruhi pekatnya asap.

Pihaknya melihat adanya kecenderungan peningkatan kasus ISPA yang berjalan seiring dengan memburuknya kondisi udara akibat asap karhutla. Pemantauan tetap dilakukan untuk melihat perkembangan kasus dan kondisi lingkungan secara berkelanjutan.

Masyarakat pun diimbau meningkatkan kewaspadaan, khususnya ketika aktivitas karhutla menyebabkan asap semakin pekat.

“Kelompok rentan sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan untuk menghindari paparan asap dan risiko gangguan pernapasan,” pesannya.

Sebelumnya, jumlah titik panas di Kabupaten Berau mengalami penurunan signifikan di tengah kondisi cuaca yang cukup ekstrem dan musim kemarau.

Berdasarkan data pembaruan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kalimantan Timur per 24 Agustus, jumlah titik panas di Berau turun dari sebelumnya 281 titik menjadi 51 titik.

Bupati Berau, Sri Juniarsih, mengatakan, penurunan tersebut menunjukkan adanya peningkatan kesadaran masyarakat dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi tersebut tidak lepas dari kerja sama berbagai pihak dalam menjaga lingkungan selama musim kemarau.

“Karena saat ini cuaca kita sangat ekstrem sekali dan berdasarkan data pembaruan BMKG Kalimantan Timur, jumlah titik panas di Berau mengalami penurunan signifikan,” katanya, Rabu (26/8).

Dari 51 titik panas yang terdeteksi, Kecamatan Segah menjadi wilayah dengan jumlah titik terbanyak, yakni 18 titik. Selanjutnya Pulau Derawan tercatat 10 titik, Talisayan 8 titik, Sambaliung 5 titik, dan Bidukbiduk 4 titik.

Sementara itu, Kecamatan Batu Putih dan Kelay masing-masing terdeteksi dua titik panas. Sedangkan Gunung Tabur dan Tabalar masing-masing terdeteksi satu titik.

Dengan jumlah tersebut, posisi Berau kini berada di peringkat kedua daerah dengan titik panas terbanyak di Kalimantan Timur. Berau berada di bawah Kabupaten Kutai Kartanegara yang tercatat memiliki 74 titik panas.

Meski mengalami penurunan, Sri Juniarsih menegaskan kondisi tersebut tidak boleh membuat kewaspadaan menurun.

Sebab, musim kemarau masih berlangsung dengan kondisi cuaca yang kering dan berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.

“Segera laporkan apabila menemukan titik api dan bersama-sama kita jaga lingkungan serta wilayah kita agar aman dari ancaman karhutla,” ujarnya. (aja/sam)

Editor : Nurismi
kualitas udara kurangi aktivitas Dinkes Berau