BERAU POST - Anggota Komisi I DPRD Berau, Thamrin, ingatkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau terus mengoptimalkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui pemanfaatan potensi daerah tanpa harus membebani masyarakat.
Menurutnya, upaya peningkatan PAD perlu dibarengi dengan kebijakan yang tetap menjaga daya beli masyarakat, termasuk mempertahankan tarif pajak dan retribusi daerah.
Di samping itu, dirinya juga mengapresiasi langkah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau yang tidak menaikkan tarif pajak maupun retribusi daerah di tengah proyeksi penyesuaian fiskal.
Kebijakan tersebut dinilai sebagai bentuk keberpihakan pemerintah, dalam menjaga daya beli masyarakat di tengah kondisi ekonomi yang masih membutuhkan perhatian.
Menurutnya, keputusan untuk tidak membebani masyarakat dengan kenaikan pajak dan retribusi merupakan langkah yang tepat.
Di tengah berbagai tantangan ekonomi, masyarakat dinilai masih memerlukan ruang untuk mempertahankan daya beli sehingga aktivitas ekonomi tetap berjalan.
Meski begitu, Thamrin menegaskan kebijakan tersebut tetap harus diimbangi dengan upaya meningkatkan PAD.
Menurutnya, masih banyak potensi pendapatan yang dapat digali tanpa harus menambah beban masyarakat, khususnya melalui sektor-sektor yang memiliki peluang untuk terus dikembangkan.
Ia menyebut sektor pariwisata menjadi salah satu sumber yang masih memiliki potensi besar untuk mendongkrak PAD. Selain itu, optimalisasi pajak daerah dan retribusi yang telah diatur juga perlu terus dilakukan secara maksimal.
"Meskipun pendapatan daerah secara umum tercapai lebih baik, kami mendorong pemerintah daerah melalui OPD teknis terus menggali potensi baru PAD secara kreatif, terutama dari sektor pariwisata, pajak daerah, dan retribusi yang sah," katanya.
Tak hanya itu, Ia juga menekankan pentingnya percepatan penyerapan anggaran daerah. Diketahui, masih terdapat Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) Tahun Anggaran 2025 sebesar Rp 272,64 miliar yang menunjukkan masih adanya anggaran yang belum terserap secara optimal.
Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama agar pelaksanaan program pembangunan dapat berjalan lebih efektif.
Salah satu langkah yang perlu dilakukan adalah mempercepat proses perencanaan kegiatan, serta pelaksanaan lelang proyek sehingga pekerjaan dapat dimulai lebih awal.
"Ke depan perencanaan kegiatan dan proses lelang proyek harus disegerakan, agar daya serap anggaran lebih maksimal, sehingga perputaran roda ekonomi juga dapat bergerak lebih cepat," jelasnya.
Ia berharap pemerintah daerah terus menjaga keseimbangan antara peningkatan pendapatan daerah dan perlindungan terhadap kondisi ekonomi masyarakat.
Optimalisasi PAD harus dilakukan melalui pemanfaatan potensi daerah secara kreatif dan inovatif, tanpa mengurangi daya beli masyarakat maupun menghambat pertumbuhan usaha.
Dirinya optimistis pembangunan daerah dapat berjalan lebih efektif dan manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat yang terbaca dari aktivitas ekonomi di Kabupaten Berau.
Diberitakan sebelumnya, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau menaikkan target pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor pariwisata melalui retribusi objek wisata.
Langkah tersebut diambil setelah realisasi penerimaan retribusi pada sejumlah destinasi wisata dinilai telah melampaui target yang ditetapkan sebelumnya.
Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budi Santosa, mengatakan, pihaknya baru saja melakukan monitoring dan evaluasi (monev) terhadap sejumlah objek wisata menuju kawasan pesisir Kecamatan Bidukbiduk dan sekitarnya.
Kegiatan itu dilakukan untuk melihat realisasi retribusi daerah sekaligus mengevaluasi pengelolaan destinasi wisata yang sudah menjadi sumber PAD.
“Jadi ada beberapa destinasi di sana yang sudah menjadi sumber retribusi atau pajak daerah. Itu kita monev realisasinya, konsolidasinya, termasuk kita sosialisasikan kepada objek wisata yang nantinya juga akan memberlakukan retribusi daerah,” ujarnya, Senin (18/5).
Dalam kunjungan tersebut, Disbudpar turut meninjau sejumlah destinasi wisata seperti Air Panas Asin Pemapak, Labuan Cermin hingga beberapa titik wisata lainnya yang dilewati.
Diterangkan, pembahasan dalam monev tidak hanya berkaitan dengan retribusi, tetapi juga menyangkut persoalan kebersihan, fasilitas, hingga pengembangan destinasi ke depan.
Misalnya di Air Panas Asin Pemapak, pihaknya juga berdiskusi langsung dengan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) terkait upaya menjaga kualitas destinasi agar tetap nyaman dikunjungi wisatawan.
“Permasalahannya seperti kebersihan, masalah pengembangan ke depannya, kita diskusikan dengan Pokdarwis setempat. Jadi bagaimana menjaga itu tetap layak, masyarakat juga merasakan kebersihannya terjaga, fasilitasnya juga berfungsi dengan baik,” katanya.
Dalam perubahan target PAD tahun ini, kenaikan terbesar berasal dari retribusi Labuan Cermin dan Air Panas Asin Pemapak.
Untuk Air Panas Asin Pemapak, target retribusi yang sebelumnya sebesar Rp 276 juta dinaikkan menjadi Rp 340 juta. Sedangkan Labuan Cermin naik dari Rp 266 juta menjadi Rp 500 juta.
“Jadi total target kita dari yang tahun ini Rp 578 juta akan naik menjadi Rp 892 juta,” ujarnya.
“Selain empat objek wisata yang telah menjadi sumber retribusi, target PAD tersebut juga ditambah dari sektor kios kuliner dan suvenir di kawasan Tanjung Batu,” sambungnya. (aja/sam)
Editor : Nurismi