Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Anak-Anak Tuna Rungu Berau Tampil Memukau di Teater Inklusi,Panggung Setara untuk Semua

Nurismi • Senin, 15 Juni 2026 | 13:20 WIB
PERTUNJUKAN: Sebanyak 20 anak SLB Tanjung Redeb berhasil mempersembahkan teater berjudul “Kue itu Bernama Sarang Semut". (IZZA/BP)
PERTUNJUKAN: Sebanyak 20 anak SLB Tanjung Redeb berhasil mempersembahkan teater berjudul “Kue itu Bernama Sarang Semut". (IZZA/BP)

Ballroom eks Hotel Cantika dipenuhi ratusan pengunjung, menyaksikan pertunjukan teater anak inklusi pertama di Kabupaten Berau.

Kursi penonton nyaris penuh sejak acara dimulai. Tak hanya untuk melihat sebuah pertunjukan, mereka hadir untuk memberikan dukungan sekaligus menyaksikan kemampuan luar biasa anak-anak berkebutuhan khusus yang tampil di atas panggung setelah menjalani proses latihan selama hampir dua bulan.

Amnil Izza, TANJUNG REDEB

Kemarin (14/6) menjadi momentum penting bagi gerakan inklusi dan pengembangan literasi budaya di Berau. Anak-anak tuna rungu yang menjadi pemeran utama, berhasil menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkarya dan berekspresi melalui seni pertunjukan.

Kepala SLB Tanjung Redeb, Masluhi, mengaku bangga melihat para siswanya mampu tampil percaya diri di hadapan ratusan penonton.

Menurutnya, proses menghadirkan anak berkebutuhan khusus ke atas panggung teater bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan kesabaran, pendampingan intensif, dan kerja sama dari berbagai pihak.

Di tengah riuh tepuk tangan penonton yang memenuhi ballroom, para pemain cilik berhasil membuktikan bahwa panggung seni adalah milik semua orang.

“Kami mengucapkan selamat kepada Gerobooks yang telah mengantarkan murid-murid kami menemukan serta menampilkan bakat-bakat terpendam yang selama ini mungkin belum banyak diketahui,” ujarnya.

Ia menegaskan, keterbatasan pendengaran yang dimiliki para peserta bukan berarti mereka tidak memiliki kemampuan dan potensi.

Justru melalui pertunjukan ini, masyarakat dapat melihat bahwa anak-anak tuna rungu juga memiliki bakat yang layak mendapatkan ruang dan apresiasi.

“Anak-anak yang tampil hari ini membuktikan bahwa keterbatasan tidak menutup kesempatan untuk berkarya. Kami berharap penampilan mereka dapat memberikan inspirasi bagi masyarakat bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk berekspresi dan menunjukkan kemampuannya,” katanya.

Sementara Ketua Komunitas Literasi Gerobooks Berau, Risna Herjayanti, menyampaikan apresiasi kepada para guru SLB Tanjung Redeb yang telah mendampingi para peserta sejak tahap awal pelatihan hingga pementasan berlangsung.

Keberhasilan pertunjukan ini tidak lepas dari kolaborasi berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap pengembangan potensi anak berkebutuhan khusus.

“Kami juga mendapat dukungan dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) dan para pegiat, serta Komunitas Penikmat Teater yang telah melatih anak-anak inklusi untuk bermain teater,” ungkapnya.

Dijelaskan, rangkaian workshop dan pelatihan telah dilaksanakan selama kurang dari dua bulan. Selama periode tersebut, para peserta mendapatkan pendampingan khusus yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Proses latihan pun berbeda dibandingkan pelatihan teater pada anak-anak pada umumnya.

“Ini adalah pertunjukan teater anak inklusi pertama di Berau. Treatment yang diberikan tentu berbeda karena kami harus menyesuaikan metode pelatihan dengan kebutuhan mereka,” jelasnya.

Selama proses pementasan berlangsung, anak-anak tetap didampingi oleh guru pendamping serta pengisi suara yang membantu memperjelas alur cerita bagi penonton. 

Pendampingan ini sangat penting, mengingat para peserta merupakan anak-anak inklusi dengan hambatan pendengaran.

Kegiatan ini juga katanya terlaksana, melalui dukungan Bantuan Pemerintah Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XIV Provinsi Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara Tahun 2026.

Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas akses berkesenian bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk anak berkebutuhan khusus.

Pun pementasan tersebut merupakan bentuk nyata upaya menciptakan panggung yang setara bagi semua anak.

Pihaknya ingin memastikan anak-anak berkebutuhan khusus di Berau memiliki ruang yang sama untuk tampil, berkembang, dan menunjukkan potensi yang mereka miliki.

“Tahun lalu kami sempat mengadakan workshop melukis untuk ABK, dan tahun ini kami menghadirkan teater anak inklusi. Semoga ke depan bisa terus berkolaborasi dengan berbagai pegiat seni dan komunitas untuk kegiatan lainnya,” tuturnya.

Menariknya, pertunjukan tersebut merupakan alih media dari buku cerita anak bergambar karya penulis dan ilustrator Berau yang berjudul “Kue itu Bernama Sarang Semut”.

Konsep itu sengaja dipilih untuk memperkenalkan bahwa literasi tidak hanya hadir dalam bentuk membaca buku, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi media kreatif lain yang lebih menarik dan interaktif.

“Literasi bisa dikembangkan menjadi berbagai media yang unik dan menyenangkan. Melalui teater ini, kami ingin mengajak masyarakat untuk semakin mencintai literasi dan memperkuat budaya membaca di Berau,” tambah Risna.

Tak sekadar menjadi ajang hiburan, pertunjukan teater inklusi juga diharapkan menjadi sarana pembelajaran yang menyeluruh bagi anak-anak berkebutuhan khusus.

Melalui proses latihan hingga pementasan, mereka belajar membangun kepercayaan diri, mengasah kemampuan komunikasi, meningkatkan interaksi sosial, sekaligus mengembangkan kemampuan berpikir dan berkreasi.

Pertunjukan perdana teater anak inklusi di Berau itu bukan hanya menghadirkan karya, tetapi juga menyampaikan pesan kuat tentang kesetaraan, keberanian, dan harapan bahwa setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh dan bersinar sesuai potensinya. (sam)

Editor : Nurismi
#Pentas semi #SLB