BERAU POST – Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoprindag) Berau mulai menyusun kajian dan basis data Industri Kecil dan Menengah (IKM) pada 10 komoditas unggulan daerah. Itu sebagai upaya meningkatkan nilai tambah produk lokal.
Kepala Diskoperindag Berau, Eva Yunita, mengatakan, data tersebut diharapkan menjadi pijakan dalam merancang program pengembangan usaha yang lebih terarah dan sesuai kebutuhan pelaku IKM di lapangan.
Bebernya, dalam penyusunan kajian yang dilakukan, pihaknya bekerja sama dengan Tim Pusat Kajian Percepatan Pembangunan dan Inovasi Daerah Universitas Mulawarman Samarinda.
“Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat sektor industri pengolahan berbasis potensi lokal yang selama ini dinilai belum berkembang optimal,” terangnya kepada Berau Post, Jumat (12/6).
Dikatakan, Berau memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah mulai dari sektor perikanan, perkebunan, kehutanan, hingga komoditas hasil pertanian.
Namun sebagian besar produk tersebut masih dipasarkan dalam bentuk bahan baku, sehingga nilai tambah ekonominya belum sepenuhnya dinikmati masyarakat maupun pelaku usaha di daerah.
“Kondisi tersebut menjadi tantangan yang perlu dijawab melalui penguatan sektor IKM,” ungkapnya.
Selain mampu menyerap tenaga kerja, keberadaan IKM juga berperan dalam mendorong pemerataan ekonomi hingga ke tingkat kampung dan kecamatan.
Dalam kajian yang sedang disusun, terdapat 10 komoditas prioritas yang menjadi fokus pendataan. Komoditas tersebut meliputi olahan ikan laut, kelapa sawit, karet, lada, kakao, produk kayu dan mebel, kerajinan rotan dan bambu, olahan buah tropis, tanaman obat, serta rumput laut.
Pihaknya ingin memperoleh gambaran yang lebih lengkap mengenai kondisi pelaku usaha pada masing-masing sektor.
Informasi yang dihimpun tidak hanya mencakup jumlah pelaku usaha, tetapi juga berbagai kebutuhan yang dihadapi dalam proses produksi dan pengembangan usaha.
Sejumlah persoalan yang selama ini kerap ditemui di antaranya keterbatasan kemampuan pengolahan produk, penggunaan teknologi yang masih sederhana, hingga kendala dalam memenuhi standar mutu.
Selain itu, akses terhadap permodalan dan pemasaran juga masih menjadi tantangan bagi sebagian pelaku IKM.
Karena itu, hasil kajian nantinya akan digunakan sebagai dasar penyusunan program pembinaan dan pendampingan.
Dengan data yang lebih lengkap, pihaknya dapat memetakan kebutuhan setiap kelompok usaha secara lebih spesifik, baik terkait pelatihan teknis, peningkatan kualitas produk, sertifikasi, maupun penguatan jaringan pemasaran.
Eva menilai keberadaan basis data yang akurat menjadi faktor penting dalam mendukung pengembangan industri daerah.
Tanpa data yang memadai, program yang dijalankan berpotensi tidak tepat sasaran dan sulit menjawab kebutuhan riil pelaku usaha.
Di sisi lain, peluang pasar bagi produk olahan lokal dinilai semakin terbuka. Posisi Berau yang menjadi salah satu pintu gerbang Kalimantan Timur serta kedekatannya dengan kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) memberikan kesempatan bagi produk-produk unggulan daerah, untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
“Kami berharap pelaku IKM tidak hanya bertahan sebagai pemasok bahan mentah, tetapi mampu berkembang menjadi industri pengolahan yang menghasilkan produk bernilai tambah,” jelasnya.
Selain itu, pemerintah daerah juga berencana mendukung promosi produk IKM melalui berbagai kegiatan pameran.
Tentunya untuk penyediaan ruang khusus untuk menampilkan produk-produk unggulan hasil karya pelaku usaha lokal, agar semakin dikenal masyarakat dan memiliki daya saing yang lebih kuat di pasar regional maupun nasional.
Sebelumnya, Bupati Berau, Sri Juniarsih, secara khusus memberikan perhatian terhadap potensi IKM di Kabupaten Berau.
Secara khusus, Ia bahkan mendorong agar anyaman dan manik khas Berau bisa menjadi cenderamata resmi daerah yang membanggakan dan memiliki daya tarik bagi wisatawan.
Ia meminta para perajin dan pelaku IKM agar tidak ragu berinovasi, tanpa harus menghilangkan nilai-nilai tradisional yang menjadi kekuatan utama produk lokal.
“Saya minta kerajinan lokal Berau, khususnya anyaman dan manik, diolah lebih menarik, mengikuti tren zaman sekarang. Kita ingin produk lokal tidak hanya indah secara estetika, tapi juga diminati pasar. Inilah saatnya kita menjadikan kerajinan ini sebagai cinderamata khas Berau,” tegasnya.
Pemberdayaan IKM berbasis kearifan lokal harus menjadi bagian dari strategi pembangunan ekonomi daerah. Ia juga menegaskan bahwa pemerintah daerah siap memberikan dukungan melalui pelatihan, promosi, hingga fasilitasi akses pasar.
“Pemerintah tidak tinggal diam. Kita akan terus hadir memberi dukungan, mulai dari pembinaan, pelatihan, promosi produk, sampai membuka akses ke pasar yang lebih luas, termasuk event nasional,” ucapnya. (aja/sam)
Editor : Nurismi