BERAU POST – Kabar baik datang bagi masyarakat Berau dan pelaku sektor pariwisata. Maskapai AirAsia yang sempat menghentikan sementara layanan penerbangannya selama sekitar dua bulan sejak 1 Mei 2026, dikabarkan akan kembali mengudara mulai 1 Juli nanti.
Hal itu disampaikan Kepala BLU UPBU Kelas I Kalimarau, Patah Atabri. Pihaknya mengaku telah menerima informasi terkait rencana operasional kembali maskapai berbiaya rendah tersebut untuk melayani sejumlah rute di Kalimantan.
“AirAsia akan segera mengudara kembali pada 1 Juli mendatang,” ujarnya kemarin (8/6).
Patah menjelaskan, saat ini manajemen AirAsia masih melakukan berbagai persiapan sebelum kembali melayani penerbangan.
Apabila seluruh persiapan telah rampung dan jadwal dipastikan, manajemen akan menyampaikan pemberitahuan resmi kepada pihak bandara melalui surat.
Berdasarkan informasi yang diterima pihak sebutnya, AirAsia nantinya akan kembali mengoperasikan rute Surabaya–Balikpapan–Berau dan Surabaya–Balikpapan–Tarakan.
Kembalinya penerbangan tersebut diharapkan dapat meningkatkan konektivitas antardaerah, sekaligus memberikan lebih banyak pilihan transportasi udara bagi masyarakat.
Selama masa vakum, sebagian masyarakat maupun wisatawan harus mengandalkan maskapai lain untuk bepergian dari dan menuju Berau.
Karena itu, rencana beroperasinya kembali AirAsia dinilai menjadi kabar yang cukup dinantikan, terutama menjelang meningkatnya aktivitas perjalanan pada pertengahan tahun.
Patah menilai kehadiran kembali AirAsia dapat memberikan dampak positif terhadap mobilitas masyarakat, serta mendukung sektor pariwisata yang menjadi salah satu andalan daerah.
Berau sendiri memiliki sejumlah destinasi wisata unggulan yang banyak diminati wisatawan domestik maupun mancanegara, seperti Kepulauan Derawan, Maratua, Kakaban, dan Sangalaki.
“Kami harap kabar ini menjadi angin segar bagi masyarakat Berau maupun wisatawan,” katanya.
Menurutnya, semakin banyak maskapai yang melayani rute ke Berau akan semakin baik bagi perkembangan daerah.
Selain meningkatkan aksesibilitas, persaingan antarmaskapai juga diharapkan dapat memberikan lebih banyak pilihan layanan dan jadwal penerbangan bagi penumpang.
“Kami harap ke depan semakin banyak maskapai yang masuk melayani masyarakat dari dan menuju Berau,” tukasnya.
Dengan rencana beroperasinya kembali AirAsia pada awal Juli mendatang, Bandara Kalimarau optimistis aktivitas penerbangan di Berau akan kembali bergairah.
Masyarakat pun diharapkan dapat memperoleh kemudahan akses transportasi udara yang mendukung kebutuhan perjalanan, bisnis, maupun wisata ke Bumi Batiwakkal.
Sebelumnya, Wakil Bupati Berau, Gamalis, menyebut kondisi turunnya frekuensi penerbangan saat ini merupakan keputusan bisnis maskapai yang tidak bisa diintervensi pemerintah daerah.
Menurutnya, faktor utama yang memengaruhi adalah perhitungan operasional, termasuk harga bahan bakar. “Ini memang kebijakan mereka, murni pertimbangan bisnis maskapai,” ujarnya beberapa waktu lalu.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa dampaknya sangat terasa bagi Berau yang selama ini bertumpu pada konektivitas udara.
Terlebih akses menuju daerah tersebut sebagian besar bergantung pada penerbangan, khususnya dari kota-kota besar seperti Jakarta. “Kita bertopang dengan penerbangan, tentu ini sangat terpukul,” katanya.
Gamalis menjelaskan, upaya promosi wisata yang selama ini digencarkan akan sulit optimal tanpa dukungan transportasi udara yang memadai.
Keterbatasan akses dinilai dapat mengurangi minat wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. “Pariwisata kita sangat bergantung pada konektivitas, terutama penerbangan langsung,” jelasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya rute penghubung atau connecting flight dari kota besar sebagai pintu masuk utama wisatawan.
Jika jalur tersebut terganggu, maka efeknya akan berantai terhadap sektor lain di daerah. “Kalau konektivitas terganggu, tentu berdampak luas bagi daerah,” ungkapnya.
Ia mengaku cukup prihatin dengan kondisi tersebut, mengingat Berau saat ini tengah berupaya memperkuat sektor pariwisata sebagai salah satu penggerak ekonomi daerah.
Menurutnya, sinergi antara pemerintah dan maskapai sangat dibutuhkan agar konektivitas tetap terjaga. “Cukup prihatin dengan langkah yang diambil AirAsia,” katanya. (sen/sam)
Editor : Nurismi