BERAU POST – Badan Pusat Statistik (BPS) Berau mencatat inflasi tahunan atau year on year (y-on-y) pada Mei 2026 sebesar 2,88 persen. Angka tersebut lebih tinggi, dibandingkan inflasi tahunan pada April 2026 yang tercatat sebesar 2,19 persen.
Kepala BPS Berau, Yudi Wahyudin, mengatakan, inflasi tersebut tercermin dari kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,55 pada Mei 2025 menjadi 111,68 pada Mei 2026.
Selain inflasi tahunan, BPS juga mencatat inflasi bulanan atau month to month (m-to-m) sebesar 0,16 persen. Sementara inflasi tahun kalender atau year to date (y-to-d) hingga Mei 2026 mencapai 1,26 persen.
“Perkembangan harga berbagai komoditas pada Mei 2026 secara umum menunjukkan adanya peningkatan, sehingga mendorong terjadinya inflasi baik secara bulanan maupun tahunan,” ujarnya.
Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi y-on-y dipicu oleh kenaikan harga pada sejumlah sektor. Kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan kenaikan indeks sebesar 5,26 persen.
Kemudian disusul kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang naik 9,05 persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran sebesar 3,74 persen, kelompok transportasi sebesar 2,85 persen, kelompok kesehatan sebesar 2,63 persen, kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,50 persen, serta kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,43 persen.
Di sisi lain, beberapa kelompok pengeluaran justru mengalami penurunan indeks. Kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga mengalami penurunan sebesar 1,85 persen.
Selain itu, kelompok rekreasi, olahraga dan budaya turun 2,44 persen, kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan turun 0,30 persen, serta kelompok pendidikan turun tipis sebesar 0,03 persen.
BPS juga mencatat sejumlah komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi tahunan. Di antaranya emas perhiasan, ikan layang atau ikan benggol, angkutan udara, Sigaret Kretek Mesin (SKM), tomat, cabai rawit, beras, ikan tongkol, ikan bandeng, minyak goreng, nasi dengan lauk, serta sepeda motor.
“Komoditas lain yang turut menyumbang inflasi antara lain ikan kembung, ikan bakar, obat dengan resep, udang basah, semangka, bawang merah, kangkung hingga cumi-cumi,” sebutnya.
Kenaikan harga emas perhiasan dan tarif angkutan udara menjadi salah satu faktor yang cukup dominan dalam membentuk tekanan inflasi selama setahun terakhir.
Selain itu, sejumlah komoditas pangan juga masih memberikan kontribusi besar terhadap kenaikan harga di tingkat konsumen.
Sementara komoditas yang memberikan andil terhadap deflasi tahunan antara lain sabun detergen bubuk, bayam, terong, bensin, kacang panjang, daun kemangi, pengharum cucian atau pelembut, shampo, sabun mandi cair, sawi hijau, hingga makanan hewan peliharaan.
“Selain itu, penurunan harga juga terjadi pada beberapa barang dan jasa seperti baju anak stelan, buncis, telepon seluler, laptop atau notebook, pulpen, biaya sekolah dasar, mi instan kering, jagung manis dan santan jadi,” katanya.
Untuk perkembangan bulanan, inflasi m-to-m pada Mei 2026 terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga angkutan udara, sepeda motor, minyak goreng, cabai merah, tomat dan beras.
Komoditas lain yang turut menyumbang inflasi bulanan yakni ayam goreng, pelumas mesin, semangka, ikan bakar, air kemasan, solar, tahu mentah, ketimun, gula pasir dan roti manis.
“Sebaliknya, sejumlah komoditas menjadi penahan laju inflasi bulanan karena mengalami penurunan harga,” bebernya.
Di antaranya ikan layang, daging ayam ras, bayam, kangkung, ikan kembung, bawang merah, jagung manis, udang basah, emas perhiasan, sabun detergen bubuk, shampo, mi instan kering hingga telur ayam ras.
Meski inflasi tahunan mengalami kenaikan dibanding bulan sebelumnya, angkanya masih berada dalam kisaran yang relatif terkendali.
Namun, pergerakan harga komoditas pangan, biaya transportasi dan kebutuhan rumah tangga tetap menjadi faktor yang perlu mendapat perhatian karena berpengaruh langsung terhadap daya beli masyarakat.
“Data BPS menunjukkan bahwa kelompok makanan, minuman dan tembakau masih menjadi kontributor terbesar terhadap inflasi di Kabupaten Berau,” paparnya.
Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa stabilitas harga bahan pangan tetap menjadi salah satu faktor utama dalam menjaga laju inflasi daerah sepanjang 2026. (aja/sam)
Editor : Nurismi