Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Kasus Pelecehan Perempuan dan Anak di Berau Marak, Wabup Gamalis Dorong Sanksi yang Bikin Jera

Nurismi • Sabtu, 30 Mei 2026 | 09:36 WIB
Wakil Bupati Berau, Gamalis. (IZZA/BP)
Wakil Bupati Berau, Gamalis. (IZZA/BP)

BERAU POST - Kasus pelecehan terhadap perempuan dan anak yang terus bermunculan di Kabupaten Berau menjadi perhatian Wakil Bupati Berau, Gamalis.

Kondisi tersebut dinilai perlu mendapat penanganan bersama baik dari pemerintah, lingkungan pendidikan, keluarga, hingga masyarakat agar kejadian serupa tidak terus berulang.

Ditegaskannya, perlindungan terhadap perempuan dan anak harus menjadi prioritas. Untuk itu dia meminta seluruh pihak memperkuat pengawasan dan edukasi, terutama di lingkungan yang dekat dengan aktivitas anak-anak.

Sebut Gamalis, tingginya angka kasus yang terjadi saat ini menunjukkan masih adanya kelemahan dalam pengawasan serta pembinaan di lingkungan sekitar.

“Karena itu, langkah pencegahan harus terus diperkuat melalui sosialisasi dan pendampingan kepada masyarakat,” terangnya belum lama ini.

Ia meminta Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Berau terus aktif menjalankan program edukasi terkait perlindungan perempuan dan anak.

Sosialisasi dinilai penting, agar masyarakat semakin memahami langkah pencegahan terhadap tindak kekerasan maupun pelecehan.

“Persoalan perempuan dan anak ini harus menjadi perhatian bersama. Dinas terkait juga harus terus melakukan sosialisasi dan pemantauan,” ujarnya.

Pun kasus yang terus terulang menjadi tanda bahwa upaya pencegahan belum berjalan maksimal. Karena itu, ia mendorong adanya tindakan tegas terhadap pelaku sebagai bentuk efek jera, sekaligus peringatan agar kasus serupa tidak terulang.

Apabila tindakan asusila terus terjadi, maka hal tersebut dapat mengganggu rasa aman masyarakat. Bahkan, kondisi itu juga dinilai bisa berdampak pada citra daerah apabila tidak ditangani secara serius dan berkelanjutan.

“Kalau kasus terus berulang, berarti masih ada kelemahan dalam pengawasan dan pembelajaran. Harus ada tindakan tegas agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi,” katanya.

Selain itu, Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan keluarga dalam memberikan perlindungan kepada anak.

Orang tua memiliki peran utama dalam mengawasi pergaulan serta aktivitas anak-anak, agar terhindar dari berbagai bentuk kekerasan maupun eksploitasi.

Menurutnya, perhatian orangtua menjadi salah satu langkah paling mendasar dalam mencegah terjadinya tindak pelecehan terhadap anak.

“Pengawasan yang baik di lingkungan keluarga dinilai dapat membantu anak merasa aman dan lebih terbuka, ketika menghadapi persoalan,” paparnya.

Ia juga menyoroti maraknya kasus yang terjadi di lingkungan pendidikan. Untuk itu, sekolah diminta lebih serius memperhatikan keamanan dan perlindungan peserta didik.

Lingkungan pendidikan kata dia, harus menjadi tempat yang aman serta nyaman bagi anak-anak dalam menjalani proses belajar.

Gamalis berharap seluruh pihak di dunia pendidikan dapat meningkatkan kepedulian terhadap perlindungan anak sejak usia dini.

Tidak hanya tenaga pengajar, namun seluruh unsur di sekolah juga diminta ikut terlibat dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi anak.

“Anak-anak harus diberikan pemahaman dan perlindungan sejak kecil. Dunia pendidikan juga harus lebih memperhatikan hal ini,” tutupnya.

Sebelumnya, hal ini juga mendapat perhatian Ketua Komisi I DPRD Berau, Elita Herlina. Dia menilai perlu ada langkah pencegahan yang lebih kuat melalui edukasi kepada anak, maupun lingkungan keluarga.

Menurut Elita, berbagai kasus yang terjadi menunjukkan bahwa anak-anak masih rentan menjadi korban kekerasan seksual.

Kondisi ini tidak lepas dari minimnya pemahaman anak mengenai batasan tubuh serta kemampuan mengenali situasi yang berpotensi membahayakan.

“Banyak anak tidak memahami batasan tubuhnya dan tidak tahu bagaimana bersikap ketika berada dalam situasi berbahaya,” ujarnya.

Ia mengungkapkan bahwa pelaku kekerasan seksual terhadap anak tidak jarang berasal dari lingkungan, yang justru dekat dengan korban.

Situasi tersebut sering membuat anak berada dalam tekanan atau ancaman, sehingga kesulitan untuk melapor atau mencari pertolongan.

“Sering kali pelaku berasal dari lingkungan terdekat korban. Ini yang harus menjadi perhatian bersama,” jelasnya.

Elita menegaskan bahwa dampak dari kekerasan seksual terhadap anak tidak hanya dirasakan dalam jangka pendek. Trauma yang dialami korban dapat memengaruhi kondisi psikologis mereka dalam jangka panjang, bahkan hingga dewasa.

Peran keluarga dinilai sangat penting sebagai benteng pertama perlindungan anak. Orangtua diharapkan mampu membangun komunikasi yang terbuka dengan anak, termasuk dalam memberikan pemahaman tentang perlindungan diri. (aja/sam)

Editor : Nurismi
#kekerasan seksual #efek jera #pemkab berau