BERAU POST – Pemerintah Kabupaten Berau terus memperkuat upaya penanganan Tuberkulosis (TBC) melalui berbagai inovasi dan kolaborasi lintas sektor.
Salah satu program yang kini mendapat perhatian di tingkat nasional adalah “Semarak Temukan Terduga dan Kasus Tuberkulosis” atau disebut Semut Narsis.
Asisten III Sekretariat Kabupaten (Setkab) Berau, Maulidiyah, mengatakan, inovasi tersebut mendapat apresiasi saat dirinya mengikuti Rapat Koordinasi Pusat dan Daerah (Rakorpusda) TBC pada 11 Mei lalu.
Dalam forum tersebut, Berau mempresentasikan implementasi program Semut Narsis sebagai langkah percepatan eliminasi TBC menuju target nasional tahun 2030.
“Di sana ada kolaborasi antara Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, termasuk PPTI yaitu Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia,” ujarnya belum lama ini.
Dijelaskan, inovasi Semut Narsis dinilai menarik karena mengedepankan pendampingan aktif terhadap pasien hingga sembuh, sekaligus memperkuat deteksi dini di lingkungan masyarakat.
Dalam presentasi itu akunya, banyak daerah lain yang bertanya kenapa Berau menerapkan program tersebut, bahkan telah memperoleh hak cipta dari Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) Kementerian Hukum dan HAM.
Hal itu menjadi salah satu alasan Berau diminta memaparkan implementasi program tersebut di hadapan peserta Rakorpusda.
Dalam pelaksanaannya, Semut Narsis tidak hanya fokus pada pengobatan pasien, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemeriksaan dan pendampingan keluarga yang terpapar TBC.
Maulidiyah menyebut, saat ini Berau telah memiliki satu kampung yang dinyatakan bebas TBC, yakni Kampung Pulau Besing, Kecamatan Gunung Tabur. Pemkab Berau pun menargetkan sebanyak 20 kampung bebas TBC pada 2026 ini.
Namun ditegaskan, istilah bebas TBC bukan berarti sudah tidak ditemukan kasus sama sekali di wilayah tersebut.
“Bebas TBC itu bukan artinya bersih total tidak ada kasus. Masih ada beberapa, tapi kita lakukan pendampingan sampai sembuh. Jadi disebut bebas TBC karena sudah dilakukan penanganan,” jelasnya.
Adapun penanganan TBC harus dilakukan secara serius, karena penyakit tersebut sangat mudah menular, terutama dalam lingkungan keluarga. Jika ada satu anggota keluarga terpapar, maka potensi penularan kepada anggota lain sangat besar.
“Bayangkan kalau dalam satu rumah ada lima orang. Bapaknya pergi bekerja, ibunya ke pasar, anak-anaknya ke sekolah. Ini memungkinkan penyebaran ke tempat lain,” tuturnya.
Karena itu, screening atau pemeriksaan dini terhadap seluruh anggota keluarga menjadi langkah penting untuk mencegah penyebaran lebih luas.
“Kalau ada satu yang terkena TBC, maka keluarga itu harus discreening juga. Perlahan dilakukan upaya penyelamatan supaya tidak menular ke tempat-tempat lain,” katanya.
Selain melibatkan organisasi perangkat daerah, Pemkab Berau juga mendorong keterlibatan Tim Penggerak PKK hingga kader posyandu dalam mendukung penanganan TBC di masyarakat.
Keberadaan PKK dan posyandu memiliki peran penting sebagai perpanjangan tangan pemerintah hingga tingkat kampung dan kecamatan.
“PKK punya peran di posyandu. Salah satu tujuannya mendorong orangtua dan balita aktif datang ke posyandu. Ini juga perlu di-support dalam penanganan TBC,” ujarnya.
Ia menambahkan, tingkat kehadiran balita ke posyandu di Berau saat ini masih tergolong rendah. Karena itu, pemerintah berharap melalui berbagai program kesehatan, kesadaran masyarakat untuk datang ke posyandu dapat meningkat.
“Kalau datang ke posyandu bisa diperiksa. Saat ini mungkin baru sekitar 40 persen yang datang, kita harapkan nanti mungkin bisa naik menjadi 60 persen,” pungkasnya.
Sebelumnya, Bupati Berau Sri Juniarsih, menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung percepatan eliminasi TB. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan layanan kesehatan, serta peningkatan kolaborasi lintas sektor.
“Penanggulangan TB ini harus menjadi tanggung jawab bersama. Diperlukan dukungan semua pihak, termasuk dunia usaha dan generasi muda,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya meningkatkan kewaspadaan terhadap TB melalui penerapan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari. Upaya pencegahan dinilai menjadi langkah paling efektif untuk menekan angka penularan.
“Mulai dari diri sendiri, dengan menjaga pola hidup sehat, tidak merokok, menjaga kebersihan lingkungan, serta segera memeriksakan diri jika mengalami gejala,” pesannya.
“Jangan ada lagi stigma. Penderita TB harus kita dukung, bukan dijauhi. Dengan dukungan yang baik, pengobatan akan lebih optimal,” sambungnya. (aja/sam)
Editor : Nurismi