BERAU POST – Transformasi besar mulai terjadi di sektor logistik nasional. Sejumlah pengusaha depo kontainer dan pelabuhan Indonesia kini mulai serius beralih dari alat berat berbahan bakar solar menuju teknologi listrik.
Hal ini dilakukan demi menekan biaya operasional, sekaligus mendukung program energi bersih pemerintah.
Langkah itu terlihat dalam kunjungan strategis jajaran pengusaha logistik Indonesia ke pabrik alat berat dunia milik XCMG di Kota Xuzhou, Tiongkok.
Kunjungan dipimpin Ketua Umum ASDEKI (Asosiasi Depo Kontainer Indonesia), Mustofa Kamal Hamka, didampingi Ketua DPW ASDEKI Kalimantan Timur sekaligus pengusaha jasa logistik Kabupaten Berau, Nugrahi Mawan atau Ahong, bersama perwakilan manajemen PT Pattaya.
Dalam kunjungan tersebut, rombongan melihat langsung proses produksi alat berat berbasis listrik seperti reach stacker, forklift, hingga side loader elektrik yang kini mulai banyak digunakan di pelabuhan modern dunia.
Ahong menilai perubahan menuju Green Logistic dan Green Port bukan lagi sekadar tren industri global, tetapi kebutuhan yang harus segera diikuti pengusaha daerah, agar tidak tertinggal dalam persaingan bisnis logistik internasional.
“Dunia sedang berubah. Pelabuhan dan depo modern sudah mulai meninggalkan alat berbahan bakar solar menuju energi listrik yang lebih efisien dan ramah lingkungan,” ujarnya Selasa (19/5).
“Kami di daerah juga tidak ingin tertinggal. Ini yang akan coba kami lakukan di Berau,” tambahnya.
Menurutnya, peralihan alat berat berbasis solar menuju elektrik menjadi bentuk dukungan terhadap program pemerintahan Prabowo Subianto yang mendorong percepatan penggunaan energi bersih dan kendaraan listrik di sektor industri nasional.
Selain mendukung pengurangan emisi karbon, penggunaan alat berat listrik dinilai mampu menekan biaya operasional jangka panjang.
Kenaikan harga solar yang terus membebani sektor pelabuhan dan depo kontainer, menjadi salah satu alasan utama percepatan transformasi tersebut.
“Pengusaha daerah harus berani berubah dan mengikuti perkembangan teknologi dunia. Jangan hanya menjadi penonton. Kita harus ikut menjadi bagian dari transformasi global, terutama mendukung program pemerintah menuju energi bersih,” katanya.
Ia menambahkan, konsep Green Port dan Green Logistic kini menjadi arah baru pembangunan industri logistik nasional.
Selain lebih hemat energi, alat berat listrik juga mampu mengurangi kebisingan operasional, dan menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat di kawasan pelabuhan.
Sementara Mustofa Kamal Hamka, menegaskan bahwa elektrifikasi alat berat akan menjadi kebutuhan strategis bagi industri logistik Indonesia ke depan.
“Ini bukan lagi pilihan tambahan, tetapi kebutuhan strategis. Kalau kita tetap bergantung pada solar, biaya operasional akan terus tinggi. Karena itu kami mendorong anggota ASDEKI mulai beralih ke alat berat elektrik secara bertahap,” pungkasnya. (hmd/sam)
Editor : Nurismi