Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Ubah Sampah Plastik Jadi Solar! DLHK Berau Gandeng BRIN Kembangkan Teknologi Pengolahan Limbah Inovatif

Nurismi • Minggu, 10 Mei 2026 | 08:05 WIB
ATASI SAMPAH: DLHK Berau bakal menggandeng BRIN untuk mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar sejenis solar. (DLHK UNTUK BERAU POST)
ATASI SAMPAH: DLHK Berau bakal menggandeng BRIN untuk mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar sejenis solar. (DLHK UNTUK BERAU POST)

BERAU POST - Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Berau berencana menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mengembangkan teknologi pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar minyak sejenis solar.

Fokus utama dari penjajakan tersebut adalah pemanfaatan limbah plastik yang selama ini menjadi persoalan klasik.

Kepala DLHK Berau, Zulkifli Azhari, menyebut, langkah ini bukan sekadar inovasi, tetapi juga bagian dari upaya mencari alternatif pengelolaan sampah yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga memiliki nilai tambah secara ekonomi.

Pendekatan ini diharapkan dapat menjadi jawaban atas keterbatasan metode pengelolaan sampah yang selama ini bergantung pada sistem konvensional.

“Selain mengurangi timbunan sampah plastik, kita juga ingin ada manfaat lain yang bisa dirasakan. Salah satunya dengan mengubahnya menjadi bahan bakar,” ujarnya, Jumat (8/5).

Pihaknya telah melakukan audiensi dengan BRIN untuk membahas teknologi pengolahan sampah plastik menjadi minyak.

Teknologi tersebut memungkinkan plastik yang tidak dapat didaur ulang diubah menjadi bahan bakar cair, yang memiliki karakteristik menyerupai solar.

Proses ini dinilai lebih relevan untuk diterapkan dengan skala produksi sampah yang belum terlalu besar seperti Berau.

Di sisi lain, Ia juga memaparkan perkembangan pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di Pulau Maratua yang saat ini tengah dikerjakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Fasilitas tersebut dirancang sebagai sistem pengelolaan sampah terpadu dengan kapasitas besar, yang diharapkan dapat menjadi tulang punggung kebersihan di kawasan wisata unggulan tersebut.

“Fasilitas di Maratua itu sangat besar dan dibangun sesuai standar. Di dalamnya ada tempat pemusnahan, pemilahan, penampungan limbah, sampai kantor pekerja. Kami berharap ini bisa menyelesaikan persoalan sampah di sana,” jelasnya.

Lebih lanjut, pihaknya tidak memilih pengembangan program Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) lantaran kebutuhan minimal sampah untuk menjalankan PLTSa sangat besar, yakni sekitar 1.000 ton per hari.

Sementara itu, produksi sampah di Kabupaten Berau saat ini baru berada di kisaran 80 hingga 100 ton per hari, sehingga dinilai belum memenuhi syarat teknis untuk implementasi teknologi tersebut.

Sebagai gantinya, pemerintah daerah memilih untuk lebih fokus pada teknologi yang dianggap lebih sesuai dengan kondisi lokal, seperti insinerator berizin dengan emisi rendah, serta pengembangan teknologi konversi plastik menjadi bahan bakar.

Pun prioritas saat ini adalah menjaga kebersihan kota dan kawasan wisata yang menjadi wajah Kabupaten Berau. Ia juga mengingatkan pentingnya peran masyarakat dalam mendukung sistem pengelolaan sampah, terutama melalui pengelolaan dari tingkat rumah tangga.

“Dengan keterbatasan anggaran, kita lebih fokus pada pemeliharaan. Tidak mungkin membangun terus tanpa menjaga yang sudah ada. Kota dan tempat wisata harus tetap bersih,” tegasnya.

Sementara Ketua DPRD Berau, Dedy Okto Nooryanto, mendukung langkah DLHK dalam mencari solusi inovatif untuk mengatasi persoalan sampah plastik di Kabupaten Berau.

Menurutnya, pengelolaan sampah tidak bisa lagi hanya mengandalkan metode lama, melainkan harus mulai memanfaatkan teknologi yang lebih modern dan memiliki dampak ekonomi bagi daerah.

“Kalau memang teknologi ini bisa diterapkan dan memberi manfaat, tentu kami mendukung. Persoalan sampah ini sudah menjadi perhatian bersama, apalagi Berau juga daerah wisata yang kebersihannya harus dijaga,” ujarnya.

Ia mengingatkan agar setiap program yang dijalankan tetap memperhatikan aspek lingkungan dan kesiapan anggaran daerah.

“Jangan sampai teknologinya bagus, tetapi nanti sulit diterapkan atau membebani anggaran. Jadi harus benar-benar dikaji manfaat dan efektivitasnya,” katanya.

Selain itu, penting keterlibatan masyarakat dalam mendukung pengurangan sampah, terutama dari rumah tangga.

Menurutnya, pengelolaan sampah akan lebih maksimal jika dibarengi dengan peningkatan kesadaran masyarakat untuk memilah dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan juga sangat penting agar persoalan sampah ini bisa diatasi bersama,” tukasnya.

Pun prioritas saat ini adalah menjaga kebersihan kota dan kawasan wisata yang menjadi wajah Kabupaten Berau.

Maka dari itu, peran masyarakat dalam mendukung sistem pengelolaan sampah, terutama melalui pengelolaan dari tingkat rumah tangga.

“Dengan keterbatasan anggaran, kita lebih fokus pada pemeliharaan. Tidak mungkin membangun terus tanpa menjaga yang sudah ada. Kota dan tempat wisata harus tetap bersih,” tegasnya. (aja/sam)

Editor : Nurismi
#DLHK Berau #solar #sampah plastik