Update BMKG Kalimarau: Angin Timuran Australia Picu Suhu Terik di Berau, Musim Kemarau Segera Tiba

Nurismi • Dipublikasikan Sabtu, 9 Mei 2026 | 15:05 WIB
WASPADA TERIK EKSTREM: Dinkes Berau menerbitkan imbauan terhadap masyarakat agar waspada terhadap cuaca panas yang ekstrem. (SENO/BP)
WASPADA TERIK EKSTREM: Dinkes Berau menerbitkan imbauan terhadap masyarakat agar waspada terhadap cuaca panas yang ekstrem. (SENO/BP)

BERAU POST – Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap cuaca panas ekstrem yang belakangan dirasakan di sejumlah wilayah Kabupaten Berau.

Suhu udara yang tinggi dalam waktu lama dinilai dapat berdampak serius terhadap kesehatan apabila tidak diantisipasi dengan baik.

Kepala Dinkes Berau, Lamlay Sari, mengatakan, masyarakat perlu memahami risiko kesehatan akibat paparan panas berlebih, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, hingga penderita penyakit kronis.

Menurutnya, cuaca panas ekstrem dapat memicu berbagai gangguan kesehatan mulai dari kelelahan panas, dehidrasi, hingga heat stroke atau serangan panas yang berbahaya apabila tidak segera ditangani.

Ia menjelaskan, gejala awal yang perlu diwaspadai di antaranya pusing, lemas, mual, hingga tubuh berkeringat berlebihan.

Dalam kondisi yang lebih berat, seseorang dapat mengalami peningkatan suhu tubuh drastis, kulit terasa panas dan kering, kebingungan, kejang bahkan pingsan.

“Heat stroke bisa menjadi kondisi darurat,” katanya diwawancara kemarin (8/5).

Selain itu, paparan suhu tinggi juga dapat memperburuk penyakit kronis seperti hipertensi, gangguan jantung, diabetes, penyakit paru, hingga gangguan fungsi ginjal.

Gangguan kulit seperti ruam dan sunburn juga menjadi dampak yang cukup sering terjadi saat cuaca panas berkepanjangan.

Lamlay menuturkan, kelompok yang paling berisiko terdampak adalah lansia, karena kondisi tubuh lebih rentan terhadap perubahan suhu. Anak-anak juga disebut lebih cepat mengalami peningkatan suhu tubuh dan dehidrasi.

“Ibu hamil dan pekerja luar ruangan juga perlu perhatian khusus,” terangnya.

Sebagai langkah pencegahan, Dinkes Berau meminta masyarakat memperbanyak konsumsi air putih minimal delapan gelas per hari, terutama bagi warga yang banyak beraktivitas di luar rumah.

Warga juga dianjurkan menggunakan pelindung diri seperti topi, payung, kacamata hitam, serta pakaian berbahan tipis dan berwarna terang.

Selain itu, aktivitas di luar ruangan pada pukul 10.00 Wita hingga 16.00 Wita sebaiknya dikurangi, karena pada jam tersebut panas matahari berada pada kondisi paling terik. “Hindari paparan langsung matahari terlalu lama,” ujarnya.

Dinkes juga mengingatkan masyarakat untuk rutin memantau informasi cuaca dari BMKG, serta tidak meninggalkan anak-anak maupun lansia di dalam kendaraan yang terparkir.

Lamlay meminta warga segera mencari bantuan medis apabila mengalami gejala berat seperti pusing hebat, tubuh sangat panas, kebingungan atau kehilangan kesadaran. “Jangan abaikan tanda-tanda tubuh,” tukasnya.

Ia berharap masyarakat dapat lebih peduli terhadap kondisi kesehatan diri dan keluarga selama cuaca panas ekstrem masih berlangsung.

“Jaga diri, jaga keluarga, jaga kesehatan,” pungkasnya.

Adapun suhu panas yang mulai dirasakan masyarakat di Kabupaten Berau belakangan ini disebut sebagai bagian dari masa transisi menuju musim kemarau.

Kondisi tersebut diperkirakan masih akan terjadi dalam beberapa bulan ke depan, seiring berkurangnya tutupan awan dan masuknya angin timuran dari Australia.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kalimarau, Ade Haryadi, menjelaskan, meningkatnya suhu udara dipengaruhi minimnya awan di langit Berau sehingga sinar matahari dapat langsung mencapai permukaan bumi secara maksimal.

Selain itu, kondisi cuaca panas juga dipengaruhi adanya pergerakan angin timuran atau monsun Australia yang mulai memasuki wilayah Indonesia, khususnya Indonesia bagian selatan pada Mei ini.

Angin tersebut membawa massa udara kering dari Benua Australia yang berdampak terhadap peningkatan suhu udara di sejumlah daerah.

“Angin timuran membawa udara kering dari Australia,” terangnya.

Ia menyebutkan, kondisi suhu panas yang terjadi saat ini masih berada dalam periode pancaroba atau peralihan musim dari penghujan menuju kemarau.

Pada masa tersebut, perubahan cuaca cenderung lebih dinamis dan suhu udara dapat terasa lebih terik dibanding hari biasa.

Menurutnya, kondisi panas dengan intensitas tinggi diperkirakan akan lebih sering terjadi saat musim kemarau mulai berlangsung.

Berdasarkan prakiraan BMKG, musim kemarau di Berau diprediksi mulai terjadi pada Juni dasarian II atau pertengahan Juni hingga berlangsung sampai Agustus mendatang.

“Puncak suhu panas diprakirakan lebih sering saat musim kemarau,” katanya.

Masyarakat pun diimbau untuk menjaga kondisi tubuh di tengah cuaca panas, memperbanyak konsumsi air putih, serta mengurangi aktivitas luar ruangan pada siang hari apabila tidak terlalu diperlukan.

Selain itu, warga juga diminta tetap waspada terhadap potensi kebakaran lahan maupun gangguan kesehatan akibat paparan suhu panas yang berlangsung cukup lama selama musim kemarau nanti. (sen/sam)

Editor : Nurismi
musim kemarau cuaca ekstrem Kabupaten Berau