Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Selain Laut, Ini Pesona Wisata Alam Long Sam dan Merabu yang Mulai Dilirik Wisatawan

Beraupost • Sabtu, 20 Desember 2025 | 11:25 WIB
PENGEMBANGAN: Salah satu kekayaan budaya Berau, Tarian Hudoq yang dapat dijumpai dalam beberapa pesta adat suku dayak. Di antaranya dalam Festival Adat Bekudung Betiung. (SENO/BP)
PENGEMBANGAN: Salah satu kekayaan budaya Berau, Tarian Hudoq yang dapat dijumpai dalam beberapa pesta adat suku dayak. Di antaranya dalam Festival Adat Bekudung Betiung. (SENO/BP)

BERAU POST – Anggota Komisi II DPRD Berau, Sri Kumalasari, menilai strategi promosi wisata yang saat ini berjalan masih terlalu bertumpu pada destinasi bahari khususnya Derawan dan Maratua, sehingga potensi wisata di wilayah lain belum tergarap optimal.

Padahal katanya Berau memiliki kekayaan alam dan budaya yang tersebar hampir di seluruh kecamatan.

Kawasan pedalaman seperti Kelay dan Segah menurutnya menyimpan potensi besar untuk dikembangkan, sebagai destinasi alternatif yang mampu menarik wisatawan dengan minat khusus seperti wisata alam, petualangan, hingga ekowisata.

“Potensi wisata Berau tidak hanya laut, ada alam memesona di Kelay dan Segah,” ujarnya belum lama ini.

Ia menilai selama ini perhatian publik dan promosi pemerintah cenderung terfokus pada wisata kepulauan.

Padahal, jika dikemas dengan baik, destinasi non-bahari juga memiliki daya saing dan dapat memperpanjang lama tinggal wisatawan di Berau. Dengan demikian, dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat pun akan lebih merata.

Sri menekankan pentingnya langkah promosi yang lebih agresif dan terstruktur. Menurutnya, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau perlu memanfaatkan berbagai kanal promosi.

Tidak hanya mengandalkan pola konvensional, tetapi juga memaksimalkan media digital, kerja sama dengan komunitas pariwisata, serta menggandeng pelaku industri perjalanan.

“Promosi harus lebih masif agar destinasi non-bahari juga dikenal luas,” tegasnya.

Selain promosi, Ia juga menyoroti aspek pendukung lain seperti infrastruktur, aksesibilitas, dan fasilitas penunjang di lokasi wisata.

Sri menilai pengembangan destinasi harus dibarengi dengan keterlibatan masyarakat lokal agar manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung oleh warga sekitar.

Menurutnya, pembangunan pariwisata tidak bisa berjalan sendiri. Diperlukan kolaborasi lintas sektor agar pertumbuhan pariwisata di Berau tidak timpang dan hanya dinikmati oleh wilayah tertentu saja.

Dengan pemerataan pengembangan destinasi, Sri optimistis kontribusi sektor pariwisata terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) akan semakin meningkat.

Sejalan dengan pandangan tersebut, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Berau, Ilyas Natsir, menyatakan pihaknya terus mendorong pengembangan pariwisata non-bahari sebagai pelengkap wisata bahari yang sudah lebih dulu dikenal.

“Kami sadar pariwisata tidak hanya bergantung pada bahari atau kepulauan,” ucapnya.

Ilyas menjelaskan, Disbudpar Berau saat ini tengah berupaya mengangkat berbagai potensi wisata alam dan budaya yang tersebar di sejumlah kampung.

Di Kampung Merasa, Kecamatan Kelay, misalnya, terdapat Pesta Adat Meja Panjang yang menjadi salah satu daya tarik wisata budaya berbasis tradisi lokal.

Selain itu, terdapat pula wisata alam eksklusif di Long Sam yang dikenal sebagai lokasi rehabilitasi satwa dilindungi. Kawasan tersebut dinilai memiliki keindahan alam yang masih asri dan cocok dikembangkan sebagai destinasi wisata berbasis konservasi.

“Di Long Sam ada rehabilitasi satwa, alamnya masih sangat indah,” katanya.

Pengembangan juga dilakukan di Kampung Merabu, yang memiliki Danau Nyadeng dan Puncak Ketepu sebagai destinasi wisata alam.

Menurut Ilyas, kedua lokasi tersebut terus dibenahi agar semakin siap menerima kunjungan wisatawan.

Tak hanya wisata alam, Disbudpar Berau juga fokus pada pelestarian dan pengemasan wisata budaya.

Ilyas menyebut tarian dari tiga suku besar di Berau, yakni Banua, Bajau, dan Dayak, terus dilestarikan sebagai bagian dari identitas daerah.

Selain itu, festival adat tahunan Bekudung Betiung juga menjadi salah satu agenda budaya yang menyajikan nilai sejarah dan kearifan lokal.

Ke depan, Disbudpar Berau berkomitmen mengemas seluruh potensi tersebut agar semakin dikenal luas dan mampu menjadi penggerak ekonomi masyarakat.

“Kita akan terus mengemas wisata agar berkembang dan dikenal lebih banyak orang,” pungkasnya. (sen/sam)

Editor : Nurismi
#destinasi wisata #Kabupaten Berau #budaya