BERAU POST – Akses jalan menuju Kampung Merabu, hingga kini masih menjadi sorotan warga setempat.
Kondisi jalan yang belum sepenuhnya memadai dinilai menjadi kendala utama mobilitas warga, sekaligus pengembangan pariwisata berbasis geopark di wilayah tersebut.
Kepala Kampung Merabu, Asrani Karna, mengungkapkan, jalan yang ada sekarang merupakan hasil perjuangan panjang masyarakat.
Awalnya, jalur yang digunakan perusahaan tidak melewati jalan yang saat ini ada, melainkan kawasan lain yang disebut wilayah Belimbing.
“Kondisi jalan memang kurang semenjak tembus, kami terus usulkan melalui musrenbang,” katanya saat mendampingi rombongan Gubernur Kaltim saat bertandang ke wilayah tersebut, Sabtu (6/9).
Menurut Asrani, pemerintah sempat menolak usulan peningkatan jalan dengan alasan status kawasan.
Namun masyarakat tidak menyerah. Pada 2018, warga mengambil langkah tegas dengan menahan peralatan perusahaan setelah mengetahui adanya pelanggaran.
“Kalau begini caranya, kita lihat kesalahan perusahaan. Kami tahan alat-alatnya, akhirnya jalan dibuat. Kami tidak minta uang, hanya jalan,” jelasnya.
Hasilnya, jalan penghubung menuju kampung akhirnya dibangun. Meski begitu, hingga kini kondisinya masih berupa jalan tanah yang berubah menjadi licin saat hujan.
“Syukur alhamdulillah, jalan ada. Tapi kami minta perhatian pemerintah, terutama soal sirtu dan jembatan,” ujarnya.
Asrani menambahkan, jalan tersebut juga dimanfaatkan perusahaan. Rute mereka yang awalnya 11 kilometer kini terpangkas menjadi hanya 6 kilometer.
“Jalan lama perusahaan putus, ya akhirnya lewat jalan yang sekarang juga. Ini seharusnya jadi perhatian bersama,” tegasnya.
Sementara Anggota DPRD Kaltim Dapil VI, Syarifatul Syadiah, mengakui kondisi jalan menuju Merabu masih menjadi pekerjaan rumah besar pemerintah.
Ia menyebut sudah ada koordinasi dengan pemerintah daerah terkait rencana perbaikan. “Ada paket pekerjaan di Jalan Merapun senilai Rp 12 miliar,” katanya.
Menurut Syarifatul, infrastruktur jalan yang kurang layak turut menjadi kendala bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke kawasan geopark.
Padahal, daerah ini sangat strategis sekaligus memiliki nilai sejarah tinggi. “Ini menjadi kendala orang berwisata. Jalannya sulit, apalagi jaringan komunikasi juga susah,” ujarnya.
Kawasan Merabu lanjutnya, telah ditetapkan sebagai bagian dari Geopark Nasional. Hal ini mestinya menjadi perhatian serius, tidak hanya di tingkat daerah, tetapi juga nasional.
“Dengan menjadi geopark, kami harap ini dilestarikan dan dikembangkan sebagai destinasi wisata unggulan,” jelasnya.
Ia menambahkan, perhatian pemerintah tidak hanya soal jalan, tetapi juga infrastruktur penunjang lainnya. Salah satunya adalah ketersediaan listrik yang baru-baru ini sudah mulai didorong agar lebih stabil.
Selain itu, akses menuju Goa Beloyot juga masih membutuhkan perhatian. Goa tersebut merupakan salah satu daya tarik wisata di Merabu yang memiliki keindahan alam dan nilai sejarah.
“Goa itu indah dan bagus. Tinggal bagaimana aksesnya bisa didukung, anggarannya bisa dari mana saja,” imbuhnya.
Warga berharap perbaikan jalan segera dilakukan agar Merabu bisa berkembang menjadi destinasi wisata yang lebih dikenal luas.
Dengan status geopark, kawasan ini diyakini dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga kelestarian alam dan budaya masyarakat setempat. (sen/sam)
Editor : Nurismi