SAMBALIUNG – Festival Bekudung Betiung yang dirangkai dengan peringatan Hari Jadi Kampung Tumbit Dayak ke-262 dijanjikan akan lebih meriah.
Pelaksanaannya pun dijadwalkan berlangsung selama sepekan, sejak tanggal 20 hingga 26 Juni Yang sedikit berbeda kata Ketua Panitia Wahyu Ramdani, pelaksanaannya di tahun ini akan dibuat terpisah antara Bekudung dan Betiung.
Sebagaimana diketahui bebernya, Bekudung Betiung merupakan dua prosesi adat yang berbeda. Pada umumnya, Bekudung merupakan prosesi adat Suku Dayak Gaai.
Bekudung adalah bahasa Berau yang berasal dari bahasa Dayak Ga’ai yakni Plie Ngak Tam yang artinya dalam bahasa Indonesia adalah pesta syukuran setelah panen.
Maknanya adalah menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas perolehan kesehatan, keselamatan dalam bekerja. Mulai menabur benih hingga memanen.
Sedangkan Betiung, punya makna sebagai proses pendewasaan seorang anak laki-laki yang dinyatakan telah dewasa dan siap untuk menikah.
Betiung adalah bahasa Berau terjemahan dari bahasa Ga’ai yang berasal dari kata Lamko, artinya pendewasaan anak laki-laki.
Menurut Wahyu, Bekudung akan digelar pada 21 Juni, sementara Betiung pada 26 Juni. Pemisahan ini bertujuan agar nilai sakral dan budaya dalam masing-masing kegiatan lebih terasa.
“Ritual Bekudung tahun ini kita coba lebih sakral. Kita ingin anak-anak muda tahu seperti apa ritual yang sesungguhnya,” jelasnya.
Rangkaian acara Bekudung akan diwarnai dengan berbagai upacara adat, termasuk ritual “Bok Plei” yang dilaksanakan oleh para ibu.
Seperti hasil evaluasi dan upaya menonjolkan tradisi secara terang, Bok Plei, atau prosesi ketika ibu-ibu Dayak Gaai memasuki rumah adat kerap kali luput jika prosesi dilaksanakan seperti tahun-tahun sebelumnya ketika disatukan.
“Nanti akan banyak menggambarkan suasana pesta panen zaman dahulu, dibawakan oleh ibu-ibu,” katanya.
Selain acara adat, festival juga akan dimeriahkan dengan pawai budaya yang melibatkan seluruh masyarakat kampung.
Pada 23–24 Juni, berbagai lomba tradisional akan digelar seperti logo, ulas kayu, gasing, dan sumpit. Kemudian pada 25 Juni, akan ada pelaksaan bakar lemang dan dayung.
Pelaksanaan ini akan diramaikan juga dengan kehadiran Suku Dayak Gaai serumpun dari Kutai Timur, tepatnya Kecamatan Wahau. Di mana Dayak Wehea yang masih serumpun dengan Dayak Gaai akan turut serta memeriahkan pesta Bekudung Betiung tahun ini.
“Anak muda dari Kutim juga akan ikut meramaikan. Harapan kami ini jadi ajang unjuk bakat dan jaga tradisi,” tambahnya.
Wahyu menyebut persiapan sudah mencapai 70–80 persen. Namun, banjir menjadi satu-satunya kendala yang masih dikhawatirkan.
Sebab, beberapa persiapan yang telah dilakukan harus diulang ketika air naik beberapa waktu lalu.
“Banjir yang kami takutkan. Tapi dua tempat parkir sudah disiapkan. Kalau perlu, akan kami tambah dekat masjid ke hilir sedikit,” tutupnya.
Sementara Anggota Komisi II DPRD Berau, Gideon Andris, berharap pesta budaya ini bisa menjadi daya tarik wisatawan.
Terlebih jadi ajang edukasi kepada anak-anak muda tentang kekayaan adat dan budaya suku Dayak di Berau.
“Berau ini punya warisan budaya yang kaya, tapi seringkali hanya dimanfaatkan saat perayaan tahunan,” ujarnya.
Ia berharap besar perayaan ini juga turut berdampak terhadap kehidupan ekonomi mikro masyarakat, seperti UMKM yang terlibat nantinya. Sehingga, budaya juga sejalan dengan kesejahteraan masyarakat disana. (sen/sam)