Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Inflasi Kembali Melanda Berau Maret Ini, Tarif Listrik Penyebab Utam

Beraupost • Kamis, 10 April 2025 | 11:05 WIB

WASPADA: Petugas PLN UP3 Berau saat melakukan pengecekan pada salah satu instalasi listrik rumah masyarakat. (PLN UP3 BERAU UNTUK BERAU POST)
WASPADA: Petugas PLN UP3 Berau saat melakukan pengecekan pada salah satu instalasi listrik rumah masyarakat. (PLN UP3 BERAU UNTUK BERAU POST)


TANJUNG REDEB - Setelah beberapa bulan deflasi, Kabupaten Berau kembali mengalami inflasi pada Maret 2025.

Badan Pusat Statistik (BPS) Berau mencatat inflasi bulan ke bulan sebesar 2,51 persen, dengan penyumbang utama berasal dari kenaikan tarif listrik yang sebelumnya sempat ditekan oleh kebijakan pemerintah.

Beber Kepala BPS Berau, Yudi Wahyudin, kebijakan tarif listrik memengaruhi seluruh angka inflasi di seluruh wilayah Indonesia, termasuk Bumi Batiwakkal.

Setelah kebijakan tersebut tidak berlaku, hal itu menjadi sumber utama mendorong terjadinya inflasi pada Maret 2025 di Kabupaten Berau.

Pada tingkat Provinsi Kaltim, inflasi tahun ke tahun sebesar 1,37 persen. Untuk Kabupaten Berau dari bulan ke bulan tercatat inflasi sebesar 2,51 persen. Sementara tahun ke tahun inflasi tercatat 1,71 persen, sedangkan inflasi tahun kalender sebesar 1,03 persen.

Kemudian jika dirinci menurut kelompok pengeluarannya, terdapat tiga kelompok komoditas yang menjadi penyumbang inflasi.

Di antaranya kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi 2,28 persen dengan andil 0,70 persen. Selanjutnya kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga mengalami inflasi sebesar 12,06 persen dengan andil 1,86 persen.

"Terakhir kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi sebesar 0,47 persen dengan andil 0,03 persen," sebutnya.

Adapun komoditas yang menjadi pendorong inflasi dari bulan ke bulan adalah tarif listrik, udang basah, ikan layang, cabai rawit, beras, bawang merah, ikan tongkol, ikan kembung, ikan bandeng, dan santan jadi.

Di sisi lain, ada komoditas penahan inflasi yakni daging ayam ras, diikuti komoditas kangkung, bayam, angkutan udara, bahan bakar rumah tangga, sawi hijau, timun, sepatu wanita, sampo, dan daun singkong.

Lebih lanjut diterangkannya, inflasi tahunan Berau yakni 1,71 persen. Di mana terdapat peningkatan indeks harga dibandingkan dengan Maret tahun 2024. Jika dirinci menurut kelompok pengeluaran, ada tiga komoditas yang menjadi penyumbang terbesar pada Maret 2025.

Di antaranya kelompok makanan minuman dan tembakau mengalami inflasi sebesar 4,66 persen dengan andil 1,71 persen.

Selanjutnya kelompok penyediaan makana dan minuman atau restoran mengalami inflasi sebesar 2,09 persen dengan andil 0,14 persen. Terakhir, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mengalami inflasi sebesar 3,95 persen dengan andil 0,27 persen.

Komoditas yang menjadi pendorong inflasi Maret secara tahun ke tahun adalah udang basah, ikan layang, kopi bubuk, emas perhiasan, minyak goreng, cabai rawit, bahan bakar rumah tangga, sigaret kretek mesin (SKM), ikan bandeng dan jagung manis.

"Yang menjadi penahan inflasi adalah tarif listrik, tomat, beras, daging ayam ras, angkutan udara, pisang, telur ayam ras, kangkung, telepon seluler dan bayam," ungkapnya.

Yudi juga menyampaikan inflasi antarwilayah di Kalimantan Timur. Tingkat inflasi Maret 2025 secara tahun ke tahun terjadi di Kabupaten Berau sebesar 1,71 persen dan terendah terjadi di Kabupaten Penajam Paser Utara sebesar 1,19 persen.

"Jika inflasi dilihat secara bulan ke bulan, yang tertinggi terjadi di Kabupaten Berau yakni 2,51 persen. Sedangkan terendah di Kota Balikpapan 1,57 persen," terangnya.

Dengan kondisi ini, Yudi mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam berbelanja dan mengatur pengeluaran, mengingat fluktuasi harga komoditas masih berpotensi terjadi.

Ia juga menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha dalam menjaga stabilitas harga agar daya beli masyarakat, tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi yang berlangsung.

Menurut Plt Kepaka Bagian Ekonomi Sekretariat Kabupaten (Setkab) Berau, Syafri, meski angka inflasi di Berau tinggi, hal ini tentunya cukup berpengaruh terhadap daya beli masyarakat, sehingga berbagai langkah strategis telah diambil untuk menekan inflasi.

Adapun beberapa langkah yang telah dilakukan antara lain menjaga ketersediaan pasokan pangan melalui kerja sama dengan pemasok dan distributor, gerakan menanam cabai serentak bersama masyarakat untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan luar daerah.

Perluasan lahan pertanian untuk meningkatkan produksi kebutuhan pokok lokal, memastikan kelancaran distribusi pangan dengan pemantauan di gudang dan pasar, mengawasi distribusi bahan bakar dan gas subsidi agar tidak terjadi kelangkaan atau penyalahgunaan, memantau harga bahan pokok di pasar dan distributor, termasuk melalui sidak langsung.

"Hingga mengadakan operasi pasar murah bekerja sama dengan OPD terkait untuk membantu masyarakat mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga lebih terjangkau," lanjutnya. (*/aja/sam)

Editor : Nurismi
#listrik #inflasi Berau #mengalami kenaikan