TANJUNG REDEB - Produksi jagung oleh petani di Kabupaten Berau menurun pada 2023 lalu, hingga 77,65 persen. Dari produksi 51.105 ton pada 2022, menjadi 11.420 ton pada 2023. Sedangkan hingga Agustus 2024, produksi jagung baru sebesar 6.665 ton.
Bahkan diprediksi Verifikasi Data Statistik Bidang Pertanian Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Berau, Ika Noorhandayani, Bumi Batiwakkal yang sempat menjadi penyuplai kebutuhan jagung mayoritas di Kalimantan Timur pun hingga akhir Desember nanti produksi hanya bertambah sekitar 1.500 ton saja.
Kata Ika, banyak faktor yang memengaruhi produksi jagung di Kabupaten Berau. Seperti cuaca ekstrem yang terjadi, alih fungsi lahan, hingga minimnya regenerasi petani. "Bahkan hingga tahun ini produksi jagung kita sepertinya juga menurun," ucapnya.
Selain itu, faktor bantuan dari pemerintah yang berkurang juga disebutnya turut memengaruhi. Baik bantuan yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) maupun Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD).
"Bantuan untuk petani semuanya berkurang, bahkan ada komoditas pertanian yang tidak mendapat bantuan sama sekali," ungkapnya.
"Ternyata ketergantungan petani dengan bantuan komoditas jagung ini cukup tinggi, baik berupa bantuan bibit maupun pupuk," terangnya.
Dibeberkan, ketika tidak ada bantuan jagung petani justru memilih untuk tidak menanam jagung, juga dipengaruhi faktor eksternal karena ketersediaan benih di Berau tidak ada, bahkan hampir tidak tersedia benih jagung.
"Kalaupun harus beli di luar daerah, tentu dibebani dengan ongkos kirim yang mahal. Dikhawatirkan akan membuat harga jagung lokal semakin mahal," tuturnya.
Dirinya menyayangkan Kabupaten Berau yang sangat diunggulkan dengan produksi jagung yang melimpah hingga mampu menyuplai kebutuhan Kalimantan Timur, justru kini terpuruk jauh sekali.
"Tahun ini predikat itu sepertinya tidak bisa kita pertahankan. Karena turunnya terlalu jauh sekali. Kemungkinan hingga akhir 2024 ini produksi jagung ikut turun," imbuhnya.
Diakunya, penurunan secara signifikan tersebut baru terjadi sejak 2023 lalu. Meskipun pada tahun-tahun sebelumnya sempat turun, namun cukup fluktuatif dan tidak terlalu drastis. Adapun produksi sejak 2019 adalah 75.360 ton, 52.687 ton pada 2020, 61.128 ton pada 2021, 51.105 ton pada 2022 dan 11.420 ton pada 2023. Serta 6.665 ton hingga Agustus 2024.
"Sementara produksi September hingga Desember 2024 ini diprediksi tidak sampai 1.500 ton. Tapi ini masih perkiraan saja," tegasnya.
Tahun ini, pihaknya pun sudah membuat roadmap penyusunan perencanaan pengembangan tanaman jagung.
Diharapkan, dalam penyusunan roadmap tersebut ada rekomendasi untuk peningkatan produksi jagung di Kabupaten Berau.
"Mudah-mudahan roadmap itu bisa ditindaklanjuti, di dalamnya ada rekomendasi seperti upaya peningkatan produksi, hingga kebijakan meningkatkan kontinuitas produksi," kata Ika.
DTPHP Berau juga bakal memetakan wilayah mana saja yang dapat dijadikan sentra jagung. Walaupun sebenarnya saat ini sudah ada wilayah yang ditetapkan sebagai sentra, tentunya ada penegasan dengan hadirnya roadmap tersebut.
"Seperti di Kecamatan Tabalar, Biatan, Batu Putih, Talisayan, hingga sebagian Bidukbiduk. Karena kami menilai ada potensi tanaman jagung di Bidukbiduk, sebagian wilayahnya sedang dicoba," tambahnya.
Sementara Kabid Kesehatan Hewan dan Masyarakat Verteriner DTPHP Berau, Untung Pamilih, menambahkan, Pemkab Berau telah membuat Peraturan Bupati (Perbup) Berau Nomor 02 Tahun 2023 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) guna mencegah alih fungsi lahan pertanian.
Itu sebutnya merupakan turunan dari Undang-Undang (UU) Nomor 41 Tahun 2009, tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan.
"Jika ditotal alih fungsi lahan di Berau, baik yang lahan basah maupun lahan kering mencapai 71,11 persen atau 5.065 ha, sepanjang tahun 2017-2023," sebutnya.
Adapun lahan eksisting berdasarkan perbup tersebut seluas 2.311,1 ha yang terdapat di 8 kecamatan yakni Biatan seluas 178,31 ha, Gunung Tabur seluas 663,99 ha, Kelay seluas 114,09 ha, Sambaliung seluas 483,31 ha, Segah seluas 104,47 ha, Tabalar seluas 438,82 ha, Talisayan seluas 58,75 ha, dan Teluk Bayur seluas 269,34 ha.
Sedangkan lahan cadangan seluas 8.609,61 ha terdapat di 9 kecamatan, yakni Batu Putih seluas 96,27 ha, Biatan seluas 519,07 ha, Gunung Tabur seluas 174,69 ha, Kelay seluas 234,94 ha, Sambaliung seluas 933,98 ha, Segah seluas 2.711,69 ha, Tabalar seluas 174,69 ha, Talisayan seluas 3.725,49 ha, dan Teluk Bayur seluas 38,72 ha.
“Lahan cadangan itu untuk tanaman pangan yang direkomendasikan seperti padi sawah tadah hujan, padi ladang atau gogo, jagung, kedelai, dan ubi kayu,” bebernya.
Akibat alih fungsi lahan yang selama ini terjadi, sektor pertanian Berau diperkirakan telah mengalami kehilangan produksi padi sebanyak 8.242,5 ton. Dalam hal ini, pihaknya telah mencanangkan beberapa solusi. Hanya saja belum semua dijalankan, ada yang sudah terlaksana, namun belum optimal.
Salah satunya memberikan insentif bagi petani yang berada dalam kawasan LP2B, menjatuhkan punishment atau hukuman bagi yang melakukan alih fungsi lahan, dan menghadirkan sarana produksi pertanian (Saprodi) dengan harga terjangkau.
Selain itu, menurutnya perlu dipikirkan juga terkait subsidi harga beras, pemberian bantuan alat mesin pertanian (Alsintan), mencetak kader petani milenial, pendidikan dan pelatihan untuk petani, kepastian pasar, hingga membangun infrastruktur yang memadai.
"Dengan adanya regulasi yang telah disusun, diharapkan keberlangsungan pasokan pangan di Berau bisa tercukupi," tutupnya. (*/aja/sam)