Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Bank Sampah Induk Mampu Kumpulkan 2 Ton Sampah Per Tahun

Muhammad Sholehudin Al Ayubi • Sabtu, 5 Oktober 2024 | 10:00 WIB
AKOMODIR SAMPAH: DLHK Berau memiliki bank sampah induk Salam Lestari yang berada di UPTD Kebersihan DLHK Berau, Jalan Ki Hajar Dewantara.
AKOMODIR SAMPAH: DLHK Berau memiliki bank sampah induk Salam Lestari yang berada di UPTD Kebersihan DLHK Berau, Jalan Ki Hajar Dewantara.

TANJUNG REDEB - Bank sampah induk Salam Lestari milik Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Berau, menghasilkan sampah pilahan sebanyak 2 ton per tahunnya. Sayangnya, hanya mampu mengakomodir nasabah di perkotaan saja.

Pengawas Lingkungan Hidup Unit Pelaksana Tugas Daerah (UPTD) Kebersihan DLHK Berau, Irwadi Ahmadi Siregar menyampaikan, selain mengakomodir nasabah pribadi, DLHK juga mengambil sampah pilahan dari 7 bank sampah unit yang ada di tengah masyarakat, termasuk nasabah perusahaan.

Pihaknya juga memberi kemudahan bagi masyarakat dengan menjemput sampah yang akan disetor ke bank sampah.

Tugas bank sampah induk selain mengakomodir sampah, juga melakukan pembinaan kepada masyarakat, sekolah hingga komunitas, agar bank sampah unit lainnya dapat tumbuh dan berkembang lebih banyak lagi.

"Alhamdulillah, dalam satu tahun terakhir ini ada 7 bank sampah yang sudah terbentuk, dan itu yang akan kita lakukan pendampingan dan pembinaan secara terus menerus," terangnya kepada Berau Post, beberapa waktu lalu.

Pada prinsipnya, dijelaskan Irwadi, fasilitas pengelolaan bank sampah dilakukan dengan 3R, yakni reduce, reuse dan recycle. Tujuannya untuk merubah perilaku dan sebagai media edukasi pengelolaan sampah, sehingga terciptanya sirkular ekonomi. Sebab, sampah juga bisa bernilai ekonomis jika dikelola dengan baik.

"Dimulai dari sampah yang dikumpulkan di bank sampah, dijual ke pengepul, lalu ke industri daur ulang, industri membuat produk baru yang dikonsumsi masyarakat, nanti keluar lagi menjadi sampah. Jadi melingkar terus, itulah yang disebut sirkular ekonomi," urainya.

Apabila sirkular ekonomi itu dilakukan, sampah yang terbuang di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) akan sedikit. Itulah salah satu tujuannya dibuat bank sampah di Kabupaten Berau.

Berbeda dengan sampah yang dikumpulkan kepada pengepul, mereka mengambil sampah dari sampah yang tidak terpilah. Tidak ada nilai edukasi dan perubahan perilaku di tingkat masyarakat.

"Kalau menyetor sampah ke bank sampah, harus sampah yang sudah dipilah," ucapnya.

Disebutnya, rata-rata setahun pihaknya mengumpulkan sampah pilahan mencapai 2 ton. Meskipun tidak memiliki target, namun pihaknya akan terus berusaha menaikan jumlah nasabah. Pun memaksimalkan kapasitas untuk menyetor ke bank sampah.

"Karena percuma juga kalau nasabahnya banyak tapi tidak rajin mengumpulkan sampah. Makanya, kita ingatkan juga melalui grup WhatsApp untuk menyetor sampah," kata Irwadi.

Dirinya menambahkan, pihaknya melakukan edukasi 3R hingga ke kecamatan terjauh. Sayangnya, layanan penjemputan bank sampah belum mencapai ke kampung-kampung. Sebab, offtaker atau pembeli menilai tidak sesuai dengan ongkos transportasi yang jauh.

"Tapi itu menjadi pekerjaan rumah bagi kami untuk terus membina masyarakat dan bekerja sama dengan offtaker untuk menjangkau bank sampah yang ada di luar perkotaan," tutupnya. (*/aja/hmd)

 
Editor : Muhammad Sholehudin Al Ayubi
#berau #pengelolaan sampah #bank sampah #DLHK