Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Aliang 88

Muhammad Sholehudin Al Ayubi • Rabu, 12 Juni 2024 - 13:39 WIB
Photo
Photo

TIDAK ada hubungan historis dengan Densus 88, antiteror yang beranggotakan 88 personel. Tidak terkait pula dengan salep cap 88. Apalagi dengan empek-empek 88 kuliner khas palembang yang terkenal itu.

Ada 16 unit kendaraan rode empat milik Pak Oetomo Lianto alias Pak Aliang, semuanya bernomor polisi angka 88. Ada tiga angka yang diyakini punya makna bagi warga Tionghoa. Kata Aliang, ada angka 99 dan 168, begitupun dengan angka 88.

Di warung Hokky, kemarin, berceritalah tentang angka 88 itu. Dalam bahasa Canton kata Aliang, 8 pengucapannya Fa yang artinya keberuntungan, kemakmuran, dan kesuksesan serta status sosial yang baik. Dalam Fengsui, angka 8 yang tak putus itu disebut bintang kejayaan dan angka yang cantik. Kalau angka 168 (yi lu fa) artinya menghasilkan banyak uang. Itu kata Aliang.

Membahas angka 88 itu, membuat Aliang bercerita akan perjalanan hidupnya. Generasi milenial, pasti hanya melihat apa yang nampak sekarang ini. Sebagai seorang pengusaha sukses. Sekaligus menempatkan dirinya sebagai tokoh Tionghoa yang cukup berpengaruh.

Saya juga dulu hidup susah, kata Aliang. Di usianya yang masih belia 16 tahun, sudah mulai bekerja keras. Hanya bermodalkan sebuah sepeda butut milik orang tuanya. Setiap hari ke kawasan Bujangga, membawa dua jeriken minyak.

Dulu itu, kendaraan masih sangat sedikit. Kebutuhan BBM pun sudah ada takarannya, kata Aliang. BBM yang didatangkan dari Tarakan dengan perahu layar itu, lebih banyak dibutuhkan untuk angkutan sungai. Nilai uang juga begitu, masih kecil.

Dulu itu, kata dia, setiap malam kami bersama teman-teman seusianya, menikmati kerang rebus. Komoditas yang melimpah dan pemiliknya dibiarkan saja menumpuk di perahu di tepi Sungai Segah (sekarang Jalan A Yani). Kami tinggal ambil saja seberapa maunya, kata Aliang.

Sekali waktu, Aliang unjuk rasa. Ia memutuskan bekerja di salah satu perusahaan kayu. Membuka toko sembako untuk melayani semua keperluan karyawan. Dalam bekerja, ia mengajak sahabatnya almarhum Ismet Inono yang jago bela diri. Jadi semacam bodyguard. Makanya urusannya lancar. Tidak lama melakuni pekerjaan itu. Ia pun memutuskan untuk berhenti, dengan berbekal uang di saku.

Terus kemana lagi? Saya putuskan untuk hijrah ke Tarakan. Sebagai anak muda, mau kemana saja masih sangat mendukung. Tarakan yang sejak dulu dikenal dengan kehidupan yang keras, ia pun masuk dalam lingkaran pergaulan itu.

Banyak bisnis setengah gelap ia kerjakan. Mendatangkan alat elektronik dari Tawau kemudian dijual lagi. Begitupun dengan pekerjaan yang hubungannya dengan jaringan bisnis dari Filipina. Tarakan waktu itu yang menempa dirinya menjadi seorang pemberani dan petarung.

Dalam pergaulan di Tarakan itulah, ia berkenalan dengan yang mengurusi pesawat Bouraq. Dengan berani ia menawarkan diri menjadi agen Bouraq di Berau. Termasuk di Tarakan. Dan mulailah ada cahaya yang mulanya masih redup, menjadi sedikit terang. 

Kembali ke Berau membantu sesama warga yang memerlukan jasa angkutan udara. Ia bersama-sama pihak bandara dan bupati Berau almarhum Masdar Jhon saat itu, membenahi landasan pacu untuk memudahkan kelancaran penerbangan.

Penampilannya sudah jauh berubah. Kalau dulu ia masih bersepeda, mulai punya kendaraan roda empat. Sambil merintis usaha konveksi dan tidak melupakan usaha pemasok BBM yang memang dirintis oleh orangtuanya.

Saya bersama Pak Aliang, punya kenangan sendiri dalam usaha konveksi. Jauh sebelum memasuki bulan puasa, sudah pesan banyak jenis pakaian. Ketika bulan puasa tiba, saya dan Pak Aliang berjualan di tepi jalan. Tugas saya membungkus pakaian, almarhum Gufran jadi kasir, sedangkan Pak Aliang berdiri sambil menawarkan jualannya. Ramai dulu kita ya pak Daeng, kata Aliang.

Sekarang semua berubah. Ia sudah beranjak usia lebih 70 tahun. Banyak usaha yang perlahan dilimpahkan ke anak-anaknya. Ia sesekali hanya mengawasi. Mulai pengadaan sekaligus agen BBM, juga sebagai kontraktor yang omzetnya ratusan miliar.

Sebagai warga dan tokoh Tionghoa, sejak dulu sudah meyakini fengsui. Termasuk pada angka yang memiliki makna keberuntungan. Tapi angka itu hanya ia simpan dalam hati. Setelah sukses dan punya belasan kendaraan, mulailah dia wujudklan angka 88 itu. Angka yang diyakini memberikan keberuntungan dan kesuksesan. Begitupun angka 168 menghasilkan banyak uang. Seperti yang dirasakan sekarang ini. (sam)

@cds_daengsikra

Editor : Muhammad Sholehudin Al Ayubi