GUNUNG TABUR - Jenazah almarhum H Adji Raden Muhammad Bachrul Hadie, Sultan Gunung Tabur dikebumikan, Rabu (29/5) pagi.
Pemakaman dengan prosesi adat istiadat Kesultanan Gunung Tabur itu dimulai dengan memandikan jenazah menggunakan air sungai yang ditimba dan disalurkan dari satu orang ke orang berikutnya, yang diambil dari sungai Berau.
Masyarakat yang bergotong-royong itu berbaris dari bagian sungai, melintasi Jalan Kurun, Gunung Tabur, hingga tiba di Kediaman Sultan Gunung Tabur, tempat memandikan jenazah. Air diambil menggunakan sebuah alat tampung bernama Pamulu, sebuah alat penampungan air yang dilapisi sebuah kain kuning.
Koordinator Museum Kesultanan Gunung Tabur, Adji Suhaidi, menuturkan, penggunaan kain kuning kerap digunakan pada acara seremonial khusus, maupun terdapat dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan kesultanan. Warna kuning katanya, sebagai simbol warna yang agung. Sebagaimana pakaian adat kerajaan yang kerap berlapis emas, maka warna kuning kerap kali hadir pada ornamen pakaian, hingga warna yang dominan pada suatu acara kesultanan.
Sehingganya, pada prosesi pemakamam Sultan Gunung Tabur almarhum H Adji Raden Muhammad Bachrul Hadie banyak penggunaan kain kuning. “Kan seragam kerajaan atau lambang kesuksesan sebuah kerajaan adalah penggunaan emas, dimana hal itu akhirnya menjadikan warna kuning mendominasi,” tuturnya.
Usai memandikan jenazah, selanjutnya pemulasaran jenazah dilakukan sesuai syariat dan ajaran agama. Sehingga selanjutnya adalah seremonial, pelepasan, dan penghargaan terakhir masyarakat kepada sang raja. Dimana beberapa perwakilan, mulai dari Kerabat mesultanan, keluarga, hingga Pemerintah Kabupaten Berau menyampaikan selayang pandang dan mengenang hal-hal baik yang terjadi semasa hidupnya Sultan Gunung Tabur.
“Almarhum dimakamkan di Pemakaman Kesultanan Gunung Tabur, berdekatan dengan museum kesultanan,” tururnya.
Usai acara seremonial selesai dilaksanakan, kemudian seluruh masyarakat mengiringi pengantaran jenazah menuju peristirahatan terakhirnya dengan dinaikan di atas Ringgungan, sebuah keranda yang dibuat khusus berbahan dasar kayu dengan ukuran besar. Sehari sebelumnya, belasan masyarakat bergotong-royong membuat Ringgungan, hingga polesan terakhirnya ialah melapisi Ringgungan dengan kain berwarna kuning.
“Jenazah almarhum dimasukkan dalam Ringgungan, kemudian ditemani empat kerabat di atas Ringgungan tersebut dan dibopoh oleh setidaknya 30 orang,” jelasnya.
Terpisah, mengiringi kepergian Sultan Gunung Tabur, Yang Mulia Sultan Sambaliung, Raja Muda Perkasa Datu Amir, turut hadir dalam prosesi pemakaman. Dirinya juga mengikuti prosesi pemakaman hingga selesai.
Yang Mulia Datu Amir cukup merasa terpukul dengan meninggalnya Sultan Gunung Tabur. Katanya, banyak kenangan bersama Sultan Gunung Tabur, utamanya dalam merawat dan menjaga warisan budaya dan sejarah kesultanan di Berau.
“Saya dengan beliau selalu kemana-mana berdua, dari ujung ke ujung Indonesia,” terangnya.
Salah satu hal yang cukup membuatnya terpikir adalah ketiadaan Sultan Gunung Tabur, dalam perjalanan terakhir berkunjung ke Istana Negara, Jakarta beberapa waktu lalu.
“Satu saja kami tidak bersama, saat beberapa waktu lalu ada kunjungan ke Istana Negara,” ungkapnya.
Terpisah, salah seorang masyarakat di Kecamatan Gunung Tabur, Wahyudi, menyampaikan rasa duka cita mendalam dan kesedihan atas meninggalnya Sultan Gunung Tabur. Dirinya yang tinggal tak jauh dari wilayah Kesultanan Gunung Tabur itu turut serta mengikuti segala prosesi pemakaman yang berlangsung.
“Kami tentu merasa kehilangan sosok beliau, bagaimanapun beliau seperti orangtua kami meskipun kami hanya rakyatnya,” ujarnya. (sen/sam)