Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Catatan Batiwakkal

Imbas Pertamax Naik, Sektor Transportasi Jadi Penyumbang Utama Inflasi Juni di Berau

Nurismi • Kamis, 9 Juli 2026 | 06:30 WIB
ILUSTRASI: BPS Berau mencatat kenaikan inflasi Juni 2026 yang dipengaruhi harga bensin, bawang merah, dan sejumlah komoditas pangan lainnya. (IZZA/BP)
ILUSTRASI: BPS Berau mencatat kenaikan inflasi Juni 2026 yang dipengaruhi harga bensin, bawang merah, dan sejumlah komoditas pangan lainnya. (IZZA/BP)

BERAU POST – Badan Pusat Statistik (BPS) Berau mencatat inflasi di Bumi Batiwakkal pada Juni 2026 secara tahunan (year on year) sebesar 3,35 persen dan bulanan (month to month) sebesar 0,27 persen.

Kenaikan harga BBM, bawang merah, dan angkutan udara menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi selama periode tersebut.

Kepala BPS Berau, Yudi Wahyudin menjelaskan, selain inflasi bulanan, Berau juga mencatat inflasi tahunan sebesar 3,35 persen. Meningkat jika dibandingkan dengan Mei yang hanya 2,88 persen. Sementara inflasi tahun kalender (year to date) atau dibandingkan Desember 2025 mencapai 1,53 persen.

Disebutnya, kelompok transportasi menjadi penyumbang utama inflasi bulanan dengan andil sebesar 0,36 persen. Komoditas yang paling berpengaruh pada kelompok ini adalah bensin, seiring adanya penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi.

"PT Pertamina (Persero) menaikkan harga BBM nonsubsidi, terutama Pertamax, efektif mulai 10 Juni 2026. Penyesuaian harga dilakukan berdasarkan formula pemerintah dan mempertimbangkan kenaikan harga minyak mentah dunia," ujarnya, Selasa (7/7). 

Selain kelompok transportasi, kenaikan harga sejumlah komoditas pangan juga ikut mendorong inflasi pada Juni. Di antaranya bawang merah, beras, tomat, kangkung, cabai rawit, dan wortel. Adapun komoditas lain yang turut memberikan andil inflasi yakni sigaret kretek mesin (SKM), sigaret putih mesin (SPM), serta angkutan udara.

Adapun kenaikan harga bawang merah dipengaruhi berkurangnya pasokan dari daerah sentra produksi. Kondisi tersebut berdampak pada terbatasnya distribusi ke Kabupaten Berau, sementara permintaan masyarakat masih relatif tinggi setelah Iduladha.

"Menurunnya hasil panen di sejumlah daerah pemasok serta kendala distribusi antarwilayah membuat pasokan bawang merah ke Berau berkurang. Sementara permintaan masyarakat masih cukup tinggi," jelasnya.

Di sisi lain, sejumlah komoditas mampu menahan laju inflasi bulanan. Komoditas tersebut di antaranya daging ayam ras, udang basah, emas perhiasan, semangka, ikan tongkol, ikan kembung, blus wanita, terong, pisang, dan kacang panjang.

Secara tahunan, kelompok makanan, minuman dan tembakau masih menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 1,81 persen.

Selanjutnya kelompok transportasi memberikan andil 0,37 persen, sedangkan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menyumbang 0,66 persen yang didominasi kenaikan harga emas perhiasan.

Komoditas yang menjadi pendorong inflasi tahunan antara lain emas perhiasan, ikan layang, bensin, sigaret kretek mesin, angkutan udara, beras, tomat, cabai rawit, kangkung, dan bawang merah.

Sementara, komoditas yang menahan inflasi tahunan di antaranya daging ayam ras, sabun deterjen bubuk, sampo, kacang panjang, terong, sabun mandi cair, daun kemangi, buncis, pengharum cucian, serta makanan hewan peliharaan.

Yudi juga menjelaskan bahwa sejak Januari 2024 BPS menggunakan Indeks Harga Konsumen (IHK) dengan tahun dasar 2022=100 dalam penghitungan inflasi.

Perubahan tersebut dilakukan karena adanya perubahan pola konsumsi masyarakat yang diperoleh melalui Survei Biaya Hidup (SBH) 2022.

Melalui pembaruan tersebut, BPS menyempurnakan metodologi penghitungan IHK, mulai dari cakupan wilayah, paket komoditas, diagram timbang hingga pengakomodasian bobot jenis pasar dalam penghitungan rata-rata harga setiap komoditas.

Selain disajikan di tingkat nasional dan kabupaten/kota, data IHK dengan tahun dasar 2022=100 kini juga dipublikasikan hingga tingkat provinsi.

Yudi menambahkan, pada Juni 2026 inflasi tahunan tertinggi di Kalimantan Timur terjadi di Kota Samarinda sebesar 3,53 persen, sedangkan terendah di Kota Balikpapan sebesar 2,80 persen.

“Untuk inflasi bulanan, Kota Balikpapan mencatat angka tertinggi sebesar 0,86 persen, sementara Kabupaten Berau menjadi yang terendah dengan inflasi sebesar 0,27 persen,” tutupnya. (aja/hmd)

Editor : Nurismi
#inflasi #BPS Berau