BERAU POST – Komoditas ikan layang dan tomat kembali menjadi sorotan pada inflasi bulan April di Kabupaten Berau. Dua bahan pangan ini tercatat mengalami kenaikan harga dan ikut memberi tekanan terhadap laju inflasi daerah.
Badan Pusat Statistik (BPS) Berau mencatat inflasi tahunan (year on year) pada April 2026 berada di angka 2,19 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan Maret 2026 yang sempat mencapai 2,38 persen.
Dijelaskan, Kepala BPS Berau, Yudi Wahyudin, salah satu pemicu utama kenaikan harga pada April adalah komoditas ikan, khususnya ikan layang atau benggol. Kenaikan harga tidak hanya dipengaruhi ketersediaan, tetapi juga distribusi.
“Salah satu faktor yang mempengaruhi selain ketersediaan komoditas adalah peningkatan biaya distribusi baik dari desa menuju kota maupun sebaliknya,” ujarnya, Selasa (5/5).
Selain ikan, tomat juga menjadi komoditas yang mengalami kenaikan harga signifikan. Kondisi ini disebabkan oleh menipisnya stok di pasaran.
Produksi petani lokal disebut menurun akibat cuaca yang tidak menentu, sementara pasokan dari luar daerah belum mampu menutupi kebutuhan di Berau.
Sedangkan, secara bulanan (month to month), Berau mengalami inflasi sebesar 0,50 persen pada April 2026. Sementara inflasi tahun kalender (year to date) tercatat sebesar 1,10 persen.
Jika dibandingkan dengan tingkat provinsi, inflasi Kalimantan Timur secara bulanan tercatat 0,11 persen, inflasi tahunan 2,50 persen, dan inflasi tahun kalender 1,48 persen.
Adapun penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK) saat ini menggunakan tahun dasar 2022 dengan metode yang telah disempurnakan.
Dalam pembaruan tersebut, BPS turut mengakomodasi bobot jenis pasar dalam menghitung rata-rata harga setiap komoditas.
Berdasarkan kelompok pengeluaran, terdapat empat kelompok utama yang menyumbang inflasi bulanan di Berau.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi tertinggi sebesar 1,39 persen dengan andil 0,42 persen.
Selanjutnya, kelompok transportasi mengalami inflasi sebesar 1,11 persen dengan andil 0,14 persen. Disusul kelompok kesehatan sebesar 0,21 persen dengan andil 0,01 persen, serta kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,07 persen dengan andil 0,01 persen.
“Dari sisi komoditas, ikan layang menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan dengan andil 0,20 persen. Dilanjutkan, tomat, angkutan udara, jagung manis, kangkung, minyak goreng, ikan tongkol, bawang merah, semangka, dan udang basah,” ungkapnya.
Di sisi lain, beberapa komoditas justru menahan laju inflasi. Cabai rawit menjadi penyumbang penahan terbesar, diikuti emas perhiasan, kacang panjang, daging ayam ras, buncis, tahu mentah, cabai merah, ikan kembung, deterjen bubuk, dan daun kemangi.
Untuk inflasi tahunan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau kembali menjadi penyumbang terbesar dengan inflasi 3,30 persen dan andil 1 persen.
Kemudian kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran menyumbang inflasi 2,85 persen dengan andil 0,19 persen.
Sementara itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi cukup tinggi sebesar 11,43 persen dengan andil 0,82 persen, yang salah satunya dipicu oleh kenaikan harga emas perhiasan.
Dalam perbandingan antarwilayah di Kalimantan Timur, inflasi tahunan tertinggi terjadi di Samarinda sebesar 2,92 persen, sedangkan terendah di Penajam Paser Utara sebesar 2,10 persen.
“Adapun untuk inflasi bulanan, Berau menjadi daerah dengan angka tertinggi sebesar 0,50 persen, sementara Balikpapan mengalami deflasi sebesar 0,05 persen,” bebernya.
Meski terdapat kenaikan pada sejumlah komoditas pangan, kondisi inflasi di Berau secara umum masih terkendali.
“Penyumbang utama inflasi bulan April berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau, dengan komoditas utama ikan layang,” pungkasnya. (aja/hmd)
Editor : Nurismi