BERAU POST– Tim dosen dari Institut Teknologi Bandung (ITB) melaksanakan Program Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) di Kampung Payung-Payung, Pulau Maratua, Kabupaten Berau.
Kegiatan ini menjadi bagian dari program wilayah 3T yang berlangsung sejak Oktober 2025 hingga Juli 2026.
Ketua tim PPM ITB, Mia Rosmiati, menjelaskan bahwa program ini mengusung tema penguatan ekonomi lokal berbasis integrasi pertanian dan pelestarian budaya batik.
Upaya tersebut diarahkan untuk mendukung pengembangan pariwisata berkelanjutan di kawasan Maratua.
“Program ini bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat, khususnya ibu-ibu PKK, dalam keterampilan membatik,” ujarnya belum lama ini.
Ia menambahkan, batik dipilih sebagai salah satu produk budaya yang memiliki nilai ekonomi sekaligus potensi besar sebagai cendera mata khas daerah wisata.
Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi pelaku wisata, tetapi juga mampu menghasilkan produk kreatif bernilai jual.
Dalam pelaksanaannya, tim yang terdiri dari sejumlah dosen dan mahasiswa ITB melakukan pendampingan langsung di lapangan.
Mereka memberikan pelatihan secara bertahap kepada warga, mulai dari pengenalan dasar hingga praktik membatik.
Pelatihan tahap pertama dilaksanakan pada 25 Januari hingga 7 Februari 2026, dengan melibatkan 20 peserta.
Materi yang diberikan mencakup seluruh proses membatik, mulai dari pembuatan desain, teknik mencanting, hingga pewarnaan dan pelorodan.
Peserta juga diperkenalkan dengan penggunaan canting tulis dan canting cap sederhana, serta penerapan prinsip desain dalam pembuatan produk seperti selendang.
“Peserta dilatih dari menggambar sampai pewarnaan, agar benar-benar memahami prosesnya,” jelas Mia.
Hasil dari pelatihan tersebut menunjukkan adanya peningkatan kemampuan peserta dalam menghasilkan produk batik.
Kain batik yang dihasilkan diharapkan menjadi embrio pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal di Kampung Payung-Payung.
Selain pelatihan teknis, program ini juga dirancang berkelanjutan dengan sistem evaluasi dan pendampingan.
Tahap lanjutan dijadwalkan pada Mei 2026, dengan fokus pada pemasaran digital, pengelolaan limbah produksi, serta manajemen keuangan.
“Ke depan, kami harap kualitas produk meningkat dan pemasaran bisa lebih luas,” tambahnya.
Sementara itu, salah satu anggota PKK Kampung Payung-Payung, Helin, mengaku kegiatan tersebut memberikan pengalaman baru bagi warga, khususnya para ibu rumah tangga.
“Awalnya kami kira membatik itu susah, ternyata kalau diajari pelan-pelan bisa juga,” katanya.
Ia menyebut, para peserta merasa senang bisa belajar mulai dari proses menggambar hingga mewarnai kain. Keterampilan ini dinilai membuka peluang baru untuk menambah penghasilan keluarga.
“Senang rasanya bisa buat batik sendiri. Mudah-mudahan bisa jadi tambahan penghasilan,” ujarnya.
Melalui program ini, diharapkan Kampung Payung-Payung tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata alam, tetapi juga memiliki produk unggulan berbasis budaya lokal yang mampu bersaing di pasar yang lebih luas. (sen/hmd)
Editor : Nurismi