PUNCAK Imlek hari ke-15 menjadi bagian festival yang digelar komunitas warga Tiongkok di Makassar.
Lokasinya di Kampung Pecinan di Jalan Sulawesi. Kawasan yang selama ini dikenal sebagai kawasan bisnis. Sepanjang jalan ini menyimpan banyak cerita lama, perjalanan sejarah Kota Daeng.
Yang jadi agenda tahunan, adalah festival Cap Go Meh. Dilaksanakan sore hari, dua jam sebelum memasuki saat buka puasa.
Tidak sekadar pertunjukan barongsai. Sepanjang Jalan Sulawesi itu ditempatkan tenda yang ditempati warga dan organisasi berjualan takjil Ramadan.
Tiga hari lalu saya melihat di medsos, warga Tionghoa di Tanjung Redeb juga menggelar acara serupa. Ada pawai berjalan kaki.
Saya sengaja datang melihat kemeriahan Cap Go Meh Festival. Bagaimana kemeriahannya.
Bagaimana antusias warga Makassar menyaksikan festival yang hanya bisa disaksikan sekali setahun. Pada saat perayaan Cap Go Meh.
Berdiri di depan panggung utama. Di mana tiga barongsai melakukan atraksi. Rasanya tak lengkap bila tidak memberi angpao. Hehe.
Amplop merah sengaja dibagikan oleh anak muda kepada warga yang mau memberi angpao.
Dan hup, sekali saja tangan saya memegang amplop merah, langsung ditangkap barongsainya.
Saya membayangkan di Berau juga perlu di garap seperti itu. Menjadikan sebuah festival dan menjadi agenda wisata .
Lokasinya bisa sepanjang Jalan Kapt. Tendean atau di sepanjang Tepian Segah.
Saya merasa bersyukur bisa menyaksikan langsung festival Cap Go Meh itu. Bisa melihat bagaimana kerjasama yang luar biasa antara komunitas dengan Pemkot Makassar.
Setelah menyaksikan festival. Menjelang buka puasa, mampirlah saya di Rumah Makan Mas Daeng di Jalan Arief Rate. (sam)
@daengsikra.id