BERAU POST - Kepala Otoritas Bandar Udara (Otban) Wilayah VII, Ferdinan Nurdin bersama jajaran manajemen dan pegawai mengikuti kegiatan SAKIP dan ZI Award Tahun 2025 yang digelar secara hybrid.
Agenda bertema “Transformasi Akuntabilitas dan Integritas Menuju Indonesia Emas 2045” itu dihadiri Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Rini Widyantini, para pimpinan kementerian/lembaga, serta instansi penerima penghargaan.
Kehadiran Otban Wilayah VII dalam forum tersebut menjadi bagian dari komitmen memperkuat tata kelola pemerintahan yang transparan, akuntabel, dan berorientasi pada pelayanan publik.
Dalam laporan capaian, Deputi Bidang Reformasi Birokrasi, Akuntabilitas Aparatur, dan Pengawasan Kementerian PANRB, Erwan Agus Purwanto, menegaskan pentingnya penguatan sistem kinerja dan integritas di seluruh instansi.
“Akuntabilitas dan integritas adalah fondasi reformasi birokrasi yang berdampak nyata,” ujarnya.
Ia menyebut, implementasi Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) dan pembangunan Zona Integritas (ZI) terus menunjukkan perkembangan positif.
Langkah tersebut dinilai strategis untuk meningkatkan kepercayaan publik terhadap kinerja pemerintah.
Sementara itu, Menteri PANRB Rini Widyantini menyoroti capaian reformasi birokrasi Indonesia yang mulai mendapat pengakuan global.
Salah satu indikatornya adalah pengembangan Mal Pelayanan Publik yang terintegrasi di berbagai daerah.
“Pembangunan ZI bukan sekadar penghargaan administratif,” tegasnya.
Menurutnya, predikat Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) merupakan cerminan perubahan budaya kerja yang menjunjung integritas dan profesionalisme.
Otban Wilayah VII sendiri sebelumnya telah meraih predikat ZI WBK pada 2020. Namun, perjalanan menuju WBBM tidak mudah.
Selama empat kali nominasi, predikat tersebut belum berhasil diraih. Tantangan itu justru menjadi pemicu untuk terus berbenah.
Berbagai upaya dilakukan, mulai dari penguatan reformasi birokrasi, percepatan digitalisasi layanan, hingga penerapan sistem pengawasan adaptif guna mencegah potensi kecurangan.
Sinergi juga dibangun bersama Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, pemerintah daerah, instansi Customs, Immigration and Quarantine (CIQ), Basarnas, operator bandara, maskapai, hingga penyedia jasa terkait.
Kolaborasi lintas sektor tersebut menjadi energi kolektif dalam menciptakan ekosistem transportasi udara yang aman dan berintegritas.
Setelah melalui proses panjang, pada tahun kelima perjuangannya Otban Wilayah VII akhirnya berhasil meraih predikat WBBM Tahun 2025. Capaian ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan reformasi birokrasi di lingkungan kerja mereka.
“Meraih WBBM sulit, mempertahankannya jauh lebih sulit,” tandasnya.
Secara nasional, Otban Wilayah VII menjadi salah satu unit kerja Direktorat Jenderal Perhubungan Udara yang meraih WBBM, bersama Direktorat Navigasi Penerbangan.
Sejumlah Unit Penyelenggara Bandar Udara seperti APT Pranoto Samarinda dan Mutiara SIS Al-Jufrie Palu juga memperoleh predikat WBK.
Ke depan, Otban Wilayah VII berkomitmen memperluas praktik baik melalui pendampingan pembangunan ZI di bandar udara wilayah kerjanya. Harapannya, standar pelayanan publik di sektor transportasi udara semakin merata dan unggul.
Dengan predikat WBBM yang diraih, OBU Wilayah VII diharapkan mampu menjadi katalisator perubahan, sekaligus memperkuat fondasi tata kelola pemerintahan berkelas dunia menuju visi Indonesia Emas 2045. (sen/hmd)
Editor : Nurismi