Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Ini Cara Kemenag Berau Bentuk Karakter Anak Agar Jauh dari Tindakan Kekerasan

Beraupost • Selasa, 10 Februari 2026 | 14:30 WIB
Kepala Kemenag Berau, Kabul Budiono. (SENO/BP)
Kepala Kemenag Berau, Kabul Budiono. (SENO/BP)

BERAU POST – Kementerian Agama (Kemenag) Berau, terus mendorong penguatan pendidikan karakter di lingkungan madrasah melalui penerapan kurikulum berbasis cinta.

Program ini merupakan gagasan Menteri Agama sebagai respons atas berbagai fenomena sosial yang belakangan marak terjadi di kalangan pelajar, mulai dari perundungan hingga tindakan kekerasan.

Kepala Kemenag Berau, Kabul Budiono, menjelaskan, kurikulum berbasis cinta sebenarnya sudah mulai disosialisasikan beberapa waktu lalu.

Kebijakan tersebut lahir dari keprihatinan terhadap kondisi moral dan empati anak-anak yang dinilai semakin menurun.

“Menteri Agama mencanangkan kurikulum berbasis cinta karena melihat fenomena yang terjadi saat ini, di mana anak-anak di sekolah masih kerap menghadapi perundungan, kekerasan, dan berbagai perilaku negatif,” ujarnya kepada Berau Post, Senin (9/2).

Bahkan, sejumlah peristiwa yang muncul di sekolah-sekolah bahkan menunjukkan adanya tindakan anarkis yang tidak seharusnya dilakukan oleh anak-anak seusia pelajar.

Situasi ini menjadi alarm bagi dunia pendidikan untuk kembali memperkuat sentuhan moral dan nilai agama dalam proses pembelajaran.

“Hal-hal seperti inilah yang membuat Menteri Agama menilai bahwa anak-anak kita perlu mendapatkan sentuhan moral dan nilai-nilai keagamaan yang lebih mendalam,” lanjutnya.

Melalui kurikulum berbasis cinta, madrasah diharapkan tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang pembentukan karakter yang menekankan pentingnya empati dan kepedulian.

Ditegaskan, muatan materi dalam kurikulum ini dirancang agar anak-anak mampu membangun rasa saling menghargai dan tidak mudah mencari kesalahan orang lain.

“Diharapkan anak-anak kita memiliki rasa empati dengan sesama, bukannya justru mencari-cari kesalahan atau membully, tapi rasa empati yang tinggi,” jelasnya.

Tidak sedikit kasus kekerasan yang bahkan terjadi dalam lingkup keluarga sendiri. Fenomena ini sering terlihat melalui pemberitaan di media sosial, di mana anak-anak berani melakukan tindakan ekstrem terhadap orang-orang terdekatnya.

“Bahkan dengan saudaranya sendiri, dengan orang tuanya sendiri, kita lihat di media sosial luar biasa. Ada anak-anak yang berani main kekerasan, bahkan ada yang tega menghabisi orang tuanya,” katanya.

Memang diakuinya, di Kabupaten Berau tidak ada kasus yang seperti itu. Namun perlu dilakukan pencegahan dengan penerapan kurikulum tersebut.

Dalam kurikulum berbasis cinta, nilai kasih sayang tidak hanya diajarkan kepada sesama umat Islam, tetapi juga diperluas kepada seluruh umat beragama, serta kepedulian terhadap alam. Anak-anak perlu dibimbing untuk mencintai sesama manusia dan lingkungan sekitar.

“Jadi yang ditanamkan adalah cinta kepada sesama, cinta kepada alam, serta cinta kepada umat beragama lainnya. Anak-anak diajarkan bukan hanya untuk saling menyayangi sesama umat Islam, tetapi juga menghargai dan mencintai umat yang lain,” tuturnya.

Ia berharap, melalui pendidikan madrasah tersebut, ke depan akan lahir generasi muda yang memiliki rasa kepedulian tinggi terhadap keluarga, teman, dan masyarakat.

Dengan begitu, berbagai kasus kekerasan yang dipicu hal-hal sepele, seperti tidak terpenuhinya keinginan anak, dapat ditekan sejak dini.

Pihaknya pun berkomitmen untuk terus mengawal sosialisasi dan penerapan kurikulum ini agar tujuan membangun karakter anak bangsa dapat benar-benar terwujud. (aja/hmd)

Editor : Nurismi
#madrasah #Kemenag Berau #Kurikulum Berbasis Cinta