BERAU POST - Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Berau, Mardiatul Idalisah, yang dikonfirmasi di ruang kerjanya, mengaku tidak pandang bulu jika ada oknum guru yang “nyeleneh”.
Laporan ia proses baik secara langsung maupun lewat media sosial. Ia akui, beberapa waktu ini, cukup banyak kejadian yang menyenggol profesi guru.
Seperti guru berkelahi dengan murid. Guru dilaporkan akibat mendisiplinkan rambut murid, hingga kejadian di Berau, guru merekam muridnya yang menari.
“Itu kejadiannya di salah satu sekolah. Sudah kami minta keterangan tentang kebenarannya,” katanya.
Ia mengatakan, dirinya tidak akan melindungi guru yang tidak bisa menjaga profesi dan marwahnya.
Namun di satu sisi, ia berkomitmen akan melindungi guru yang bekerja sesuai dengan peraturan. “Jika memang guru benar, saya siap memberikan pembelaan,” tambahnya.
Ia akui, peran guru dalam membentuk karakter anak didik sangat besar. Ia juga mengatakan, bercermin dari beberapa kasus yang terjadi, ia menyarankan agar guru bisa masuk ke ruang murid.
Agar memahami psikis anak didiknya. Langkah ini dilakukan guna menghindari ketersinggungan antara guru dan murid.
“Gen Z saat ini punya alasan sendiri, punya dunianya sendiri, guru harus tahu karakternya,” paparnya.
Mardiatul Idalisah yang juga menjabat Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Berau, menambahkan, pendidikan karakter juga sudah dilakukan oleh pihak sekolah. Baik secara agama maupun pendekatan lainnya,
“Saya setuju. Ini kan tujuannya mendisiplinkan anak. Makanya di sekolah saat ini banyak kegiatan pembentukan karakter seperti kegiatan keagamaan, di antaranya salah satu yg kerap dilakukan sekolah sholat duha, disamping juga melaksanakan shalat wajib,” paparnya.
Mardiatul menambahkan, implementasi 7 kebiasaan anak Indonesia hebat juga sudah diterapkan. Perlu kolaborasi dan sinergi yang hebat antara orang tua dan pihak sekolah.
“Komunikasi yang baik juga sangat membantu,” tutupnya. (hmd)
Editor : Nurismi