Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

"Maaf Telah Membocorkan Kantong Air Matamu!" Kisah Haru Seniman Teater Jenguk Daeng Sikra

Beraupost • Jumat, 12 Desember 2025 | 10:15 WIB
Daeng Sikra
Daeng Sikra

MAAF Daeng, aku telah membocorkan kantong air matamu, itu dialog WA tengah malam saya dengan Syafril Teha Noor.

Iya. Setelah agak baikan di Ruang Sakura RS WS di Samarinda. Dua sahabat saya datang membesuk.

Syafril Teha Noor dan Hamdani. Dua-duanya seniman teater di Samarinda. Dua-duanya pengurus teras dewan kesenian.

Maaf, saya tidak membawa apa-apa. Tidak membawa roti Khong Guan dan cokelat Silverqueen, kata Hamdani. Dia tertawa sambil memegang pagar ranjang RS.

Saya ingat Syafril yang juga tercatat sebagai wartawan itu dan Hamdani senang berpuisi, teman sekumpul kami di Samarinda. Hamdani alumnus Fisipol Unmul.

Perjalanan sebagai seniman teater kami lewati bertahun-tahun sebelum saya hijrah ke Berau.

Mereka berdua ini juga lah yang selalu menggoda, menyebut Berau kota sepi di tahun 80-an. Memang bujur sunyi.

Kami sering diskusi di Warung Jenggo. Atau ngobrol di depan Mall Mesra. Ada bangunan layu tempat kami latihan teater. Atau nongkrong di rumah almarhum Rizani Asnawi di Komplek Prevab.

Kami sering kehabisan uang. Untuk membeli rokok pun susah. Apalagi untuk makan. Situasi itu jadi bahan latihan. Dan menjawabnya, kami jalan kaki keliling Samarinda.

Kami tekajut mendengar ikam garing, kata Hamdani. Dia sendiri pernah ambruk di Berau saat melatih penampilan kolosan hari jadi kabupaten.

Saya ceritalah awal hingga akhir. Cerita versi wartawan. Juga cerita ala seniman yang urut hingga puncaknya. Mereka serius mendengar.

Termasuk cerita bagaimana hebatnya perjalanan darat selama 15 jam. Untung fisik masih tahan ya, kata Hamdani setengah maambung. Hamdani memang jago ambung. Tak jauh beda dengan Almarhum Mugni Baharuddin.

Syafril lebih banyak diam. Saya tahu, dia sedang mencari titik puncak. Puncak pilu. Dan memang betul.

Sepertinya Anda sekarang dalam lingkungan rasa sepi dan kesepian, kata Syafril, sambil memandangi wajahku yang masih nampak pucat.

Mendengar itu saya hanya diam. Ku tutup wajah dengan tanganku. Rasanya ingin meledak suara tangis itu. Dia buru-buru menurunkan tensinya.

Dan pada situasi klimaks itu, Hamdani dan Syfaril pamit pulang. Nanti kita lanjut di warung kopi, kata mereka.

Berhasil membuat air mataku runtuh membuat Syafril menyesal. Seharusnya menghibur. Makanya dua malam lalu, saya diskusi lewat WA dia pun minta maaf. (sam)
@daengsikra.id

Editor : Nurismi
#Catatan #Daeng Sikra