SAYANGNYA tagline sebagai kota dengan makanan enak, sudah diklaim Kota Makassar. Diikrarkan oleh mantan Wali Kotanya, Dani Pomanto. Bila tidak, Samarinda bisa saja memproklamirkan sebagai kota dengan makanan enak-enak.
Namanya sering saya dengar. Belum sekali pun pernah berkunjung. Teman saya di Samarinda mentraktir. Kita ke Warung Ikan Bakar Haji Ijai aja Daeng, kata teman. Namanya ditraktir, nurut sajalah. Lokasinya di Jalan Kadrie Oening.
Ruangannya cukup luas. Kami datang semua meja terisi. Tersisa meja dekat ruang musala.
Dekat cuci tangan. Pesan apa Daeng? Kata teman saya yang duduk bersebelahan dengan suaminya.
Saya berdempet dengan Huldi, wartawan online di Samarinda. Nurut aja, terserah menunya, kata saya.
Sambil menunggu pesanan datang, saya menghitung berapa besar omzet yang didapatkan setiap harinya. Tak pernah sepi sejak buka hingga menjelang tutup di malam hari. Hebat. Konsep berjualannya luar biasa.
Harganya tidak mahal Daeng, kata suami teman saya itu. Mungkin itu yang jadi daya tarik. Sehingga mereka yang kantongnya tipis-tipis bisa datang juga. Modal Rp 100 ribu, bisa makan berdua, katanya.
Hanya lima belas menit menunggu. Ada dua porsi kepala ikan patin masak kuning. Ikan bakar trakulu. Ikan bakar nila, ditambah empat porsi sayur.
Ini kali kedua saya menikmati kepala ikan patin. Pertama di ruang kerja ibu Viera, Kepala KPPN Berau dan yang kedua di Warung Haji Ijai.
Ramailah. Di sebelah meja tempat kami makan bercerita soal pekerjaan mereka dengan suara nyaring.
Kelompok perempuan yang jaraknya tiga meja dari tempat kami, obrolannya pun terdengar. Sepertinya warung ini tak ada aturan dilarang ngobrol.
Tidak berlama-lama. Sebab, di depan pintu masuk masih banyak yang antre. Maklum, bersamaan dengan makan siang.
ASN sepanjang jalan lokasi warung memilih makan di Warung Ijay, ketimbang warung lainnya.
Ketika masuk, ada pemohon sumbangan. Setiap orang diberi proposal berukuran mini. Dijepit dengan amplop kecil.
Yang ingin menyumbang, cukup memasukkan uangnya ke dalam amplop kecil itu. Saat pulang, yang ingin menyumbang tinggal menyerahkan amplop kecil itu. Berapa angkanya tak ada yang tahu.
Sehari itu, sepertinya dikhususkan untuk makan. Dari Warung Haji Ijay, saya diajak nongkrontg di D’Cafe.
Tempat minum segala usia yang berada di kompleks Kantor Pelni. Tempatnya luar biasa. Halaman parkirnya cukup luas.
Saya lalu teringat teman yang kerja di kantor Pelindo. Namanya Suparman. Dia pernah bertugas di kantor Pelindo Berau. Saya kirim pesan WA dimana posisi saya.
Tak lama dia membalas. Maaf Daeng, saya lagi zoom meeting, katanya singkat. Gagal lah jumpa kawan lama.
Dari D’Cafe, perut mulai lapar lagi, teman saya menawarkan makan di Warung Ayam Banjar atau Soto Banjar.
Saya langsung jawab, ayam goreng Banjar saja lah. Warung idola yang sudah puluhan tahun buka di Samarinda.
Saya ingat, ketika masih ngantor di Samarinda. Setiap ada pertemuan, saya tanyakan konsumsinya apa?
Kalau dijawab ayam goreng Banjar, saya menunggu. Ayam goreng dengan sambal hati. Hehe.
Paha atau dada? Begitu sambutan pelayan rumah makan Banjar yang berdampingan dengan Hotel Senyiur.
Paha dan Dada itu adalah pilihan ayam gorengnya. Selebihnya sayur santan, sayur bening atau tumis. Saya pilih paha. Dari dulu itu pilihan saya.
Ayam kota yang digoreng rasa ayam kampung. Paha dan dada sama saja. Sama-sama digoreng. (sam)
@daengsikra.id