Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Curhat Penerbangan dari Berau: Ada Kabut Misterius di Kabin dan Rindu Tiket Pesawat Murah

Beraupost • Jumat, 21 November 2025 | 11:50 WIB
Daeng Sikra
Daeng Sikra

BUKAN judul puisi. Juga bukan kumpulan kata-kata indah nan mendayu-dayu. Bukan juga curahan rasa.

Pertama ikut penerbangan yang mengusung tagline ‘Now Everyone Can Fly’ (sekarang setiap orang bisa terbang). Tujuan Balikpapan.

Hampir saja terlambat. Jadwal terbangnya berubah lebih cepat dari yang tertulis di boarding pass. Bikin panik. Kalau ditinggal, melayang ongkos.

Buru-buru itu bikin napas tidak normal. Maklum, napas tuha. Tak ada bagasi lebih praktis. Nanti di pawasat baru atur napas lagi.

Tidak terlambat. Tapi ada masalah di pintu keberangkatan. Bording pass yang saya pegang itu atas nama perempuan. Petugasnya senyum-senyum. Tertukar dengan ponakan yang berangkat bersama.

Masuk ke badan pesawat disambut pramugari berbaju merah. Senyumnya itu naah hehehe. Duduk di kursi tengah, diapit dua ibu-ibu.

Satunya memandang keluar lewat jendela. Satunya lagi sibuk memainkan telepon genggamnya.

Nggak apa-apa kah pak? Tanyanya. Kenapa? Rupanya mencermati kabut yang keluar dari celah bagasi kabin.

Nda apa-apa bu. Itu sama kalau kita buka kulkas di rumah, kata saya. Dia nampak tenang.

Padahal, saya pun seperti ibu di samping saya itu. Oh kabut ini kah yang sering dijadikan bahan candaan di media sosial? Pramugari yang senyumnya menggoda itu terlihat samar. Tapi aroma parfumnya yang meneduhkan.

Rasanya mau bertanya, apa nama parfumnya? Apakah ada di daftar buku flying shop di depan saya. Kalau ada, saya mau pesan. Biar ingat selalu yang baju merah. Hehe.

Saya tidak memperhatikan kabut yang semakin tebal. Saya nikmati alunan musiknya. Lebih meneduhkan dari aroma parfum si baju merah.

Air Asia teruslah terbang. Jangan berhenti. Jangan lagi kami mengeluh soal harga tiket. Jangan lagi wisatawan malas ke Berau hanya gara-gara pesawat.

Terbanglah bersama Sriwijaya. Juga dengan Batik Air dan Super jet. Biar warga Berau yang memilih. Biar warga kami menentukan kemana akan pergi.

Tak ada kudapan tak membuat saya risau. Saya duduk tenang sambil membaca inflight magazine.

Saya pun bertanya-tanya, kenapa Berau tidak memesan space di majalah yang pembacanya banyak?

Akhir tiba juga di Balikpapan. Menggunakan garbarata tepat di pintu kedatangan. Aman, tidak jauh jalan kakinya.

Sebelum perjalanan darat ke Samarinda, saya mampir di Soto Kwali dekat bandara. Segar dan nyaman. Bekal kenyang selama perjalanan lewat tol ke Samarinda.

Oh iya, dua hari saya tidak membuat catatan. Saya harus ke Samarinda. Saudara tertua saya meninggal dunia dua hari lalu. (sam)
@daengsikra

Editor : Nurismi
#Catatan #Daeng Sikra