BERAU POST – Upaya pengembangan sektor pariwisata di Kabupaten Berau terus digencarkan.
Salah satunya melalui kegiatan Pilot Trip Paket Wisata Terintegrasi Menuju Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Melalui Pelabuhan Tanjung Batu.
Kegiatan itu dilaksanakan pada 12 November dan dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD) pada 13 November.
Pilot trip ini merupakan bagian dari salah satu tugas mahasiswa pascasarjana Sekolah Tinggi Pariwisata NHI Bandung yang memilih Berau, sebagai lokasi penelitian dan penerapan konsep pengembangan pariwisata terintegrasi.
Mereka melakukan pemetaan potensi serta merancang model kolaboratif antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha wisata lokal.
Ketua kelompok kegiatan, Supriyani mengatakan, Tanjung Batu memiliki nilai strategis karena menjadi gerbang utama menuju destinasi unggulan seperti Pulau Derawan, Maratua, dan Kakaban.
Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya terkelola karena terbatasnya kolaborasi antar pelaku wisata dan dukungan infrastruktur.
“Tapi sinergi antara pemerintah daerah, masyarakat, dan pelaku usaha pariwisata perlu diperkuat agar pengelolaannya lebih terarah dan berkelanjutan,” ujarnya.
Dalam kegiatan pilot trip itu, para mahasiswa pascasarjana NHI Bandung tersebut didukung oleh dana Corporate Social Responsibility (CSR) PT Pelabuhan Tiga Bersaudara.
Mengawali perjalanan pertama, peserta pilot trip melakukan perjalanan dari titik Museum Batiwakkal.
Mereka mendapatkan penjelasan tentang sejarah Kesultanan Berau dan koleksi peninggalan budaya.
Selanjutnya, rombongan mengunjungi Galeri Putri Maluang Batik untuk melihat proses pembuatan batik khas Berau serta mendukung penjualan produk lokal.
Perjalanan berlanjut ke Rest Area Parisau Kopi di Kampung Sembakungan. Di tempat ini, peserta menikmati kopi khas daerah sambil berinteraksi dengan warga lokal dan mencicipi madu kelulut yang diambil langsung dari sarangnya.
Aktivitas itu menggambarkan potensi wisata berbasis masyarakat yang bisa dikembangkan sebagai daya tarik unggulan.
Usai makan siang, peserta disambut dengan tarian daerah di kawasan pesisir, serta melihat proses pembuatan kue tradisional kue sarang semut.
Kegiatan dilanjutkan dengan peluncuran papan informasi wisata, kunjungan ke sentra batik Sidayang, dan penelusuran area mangrove Tanjung Batu.
Menjelang sore, rombongan menuju Kampung Batu-Batu untuk menyusuri sungai sambil mengamati bekantan dan kalong yang beterbangan menjelang senja.
Pemandangan matahari terbenam di Pulau Besing menutup perjalanan tersebut, diakhiri dengan makan malam udang galah di tepi sungai.
Kegiatan dilanjutkan dengan FGD keesokan harinya, yang mempertemukan sejumlah pihak untuk mengumpulkan wawasan mendalam, pendapat, dan persepsi mengenai paket wisata terintegrasi tersebut, serta mendorong partisipasi dan menghasilkan ide-ide baru.
Termasuk membahas strategi penguatan kapasitas masyarakat serta integrasi antar daya tarik wisata.
Ia menyebut hasil dari FGD ini akan disusun menjadi rekomendasi strategi dan panduan pengembangan pariwisata berbasis masyarakat.
“Kami ingin menghasilkan paket wisata yang terintegrasi dan dapat dipromosikan melalui media nasional maupun lokal,” katanya.
Kabid Bina Jasa Usaha dan Ekraf Disbudpar Berau, Nurjatiah menyampaikan, terima kasih atas inisiasi akademisi untuk membuat project pilot trip pemetaan paket wisata terintegrasi menuju KSPN melalui Kampung Tanjung Batu.
Kegiatan itu menjadi jawaban dari beberapa permasalahan yang saat ini dihadapi oleh Disbudpar Berau.
“Karena banyak wisatawan yang menanyakan paket wisata. Saya bangga teman-teman akademisi sudah memberi paket wisata sebagai jawaban,” terangnya.
Keberadaan paket wisata Ini dinilai penting untuk dibentuk di Berau. Pilot trip ini tidak hanya tembus ke Kepulauan Derawan saja, tapi juga lancar sampai ke kecamatan pesisir lainnya.
“Mudah-mudahan bisa bersama-sama membangun jalur paket wisata. Karena objek wisata Berau tidak hanya pulau tapi juga ada di pesisir selatan hingga ke pedalaman,” paparnya.
Di sisi lain, Pelabuhan Tanjung Batu yang menjadi KSPN jika didukung dengan paket wisata yang terintegrasi diyakini dapat meningkatkan tingkat kunjungan serta pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
“Kalau paket wisatanya lengkap dengan kuliner, wisatawan tentu mau menghabiskan uangnya untuk menikmati tempat wisata itu,” ucapnya.
Seperti diketahui, potensi wisata Berau sangat luar biasa. Objek wisata yang tercatat di Disbudpar sebanyak 287 objek wisata.
Namun yang baru dikembangkan baru 10 objek wisata. Sedangkan, yang masuk dalam retribusi daerah sebanyak 14 objek wisata. Hanya saja, yang mendapat target pendapatan retribusi baru 4 objek wisata.
“Kami harap dengan adanya paket wisata ini mungkin pendapatan sektor pariwisata akan lebih meningkat signifikan,” harapnya. (aja/arp)
Editor : Nurismi